WANITAINDONESIA.CO, Jakarta – Penyakit gigi, dan gusi merupakan jenis penyakit yang banyak dialami masyarakat Indonesia. Banyak yang tak menyadari bahwa penyakit gusi dapat berakibat fatal pada aspek kesehatan secara menyeluruh.
Walau sudah dilakukan secara masif, serta memiliki jangkauan luas, edukasi kesehatan gigi dan gusi masih menjadi hal krusial, serta Peer penting yang senantiasa digaungkan lewat beragam langkah konkret, serta inovatif. Khususnya oleh Pemerintah, Pemangku Kepentingan, dan pihak Swasta.
Di Indonesia ihwal kesehatan Gigi, dan Gusi masyarakat lebih mengenal sebagai tindakan promotif, preventif, serta kuratif dari Pepsodent yang dinaungi oleh Unilever Indonesia, Kemenkes RI, Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AF DOKGI), dan Asosiasi Rumah Sakit Gigi & Mulut Pendidikan Indonesia (ARSGMP). Sinergitas apik ini hadir lewat Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN).
Tak terasa sudah 16 Tahun sejak Program Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) diluncurkan upaya edukasi, pemeriksaaan, dan pengobatan dilakukan secara cuma-cuma terus digencarkan. Dari upaya progresif tersebut tercatat penyakit gigi merupakan penyakit terbesar di Indonesia menyusul penyakit gusi.
BKGN berfokus pada edukasi, serta pelayanan kesehatan gigi, dan gusi, mengingat masyarakat banyak yang abai dengan pada kesehatan gusi.
dr. Elvieda Sariwati,M.Epid, Direktur Promosi Kesehatan & Kesehatan Komunitas Kemenkes RI menerangkan, “Program Cek Kesehatan Gratis Kemenkes RI telah menjangkau lebih dari 30 juta penduduk. Masalah kesehatan terbanyak yang dialami masyarakat Indonesia adalah gigi, dan gusi. Ini merupakan masalah kesehatan yang perlu ditanggulangi bersama. Lewat momen BKGN menjadi upaya berkelanjutan dalam meningkatkan kesadaran bersama dalam melakukan upaya promotif, dan preventif pada kesehatan gigi.”
Turut berpendapat Prof.drg Suryono,S.H.,M.M., Ph.D, Ketua AFDOKGI, “Penyakit gusi memiliki dua tahapan yaitu Gingivitis yaitu gusi bengkak, merah hingga berdarah. Gingivitis masih bisa masih bisa diatasi, serta bisa kembali sehat dengan perawatan yang tepat.”
“Tahapan kedua Periodontitis permasalahan kerusakan gigi yang sudah mencapai ke tulang, dan jaringan pendukung gusi. Seringkali bersifat irreversible, gigi goyang lalu tanggal, “tambahnya.
Periodontitis merupakan peradangan gusi kronis setelah Gingivitis. Hal ini disebabkan oleh infeksi bakteri, yang menyebabkan plak menumpuk pada gigi, dan gusi hingga membentuk celah antara gusi,dan gigi. Celah menyebabkan lebih banyak makanan, plak, dan bakteri yang menumpuk. Akibatnya akan memperburuk infeksi, dan merusak tulang penopang gigi. Kerusakan tulang, dan jaringan pendukung gigi akibat infeksi seringkali tidak dapat dipulihkan.
Nah, masyarakat Indonesia harus mewaspadai bahwa bakteri dari gusi yang terinfeksi, dapat masuk ke dalam aliran darah. Ini sangat berbahaya karena dapat meningkatkan risiko penyakit sistemik seperti Jantung, Stroke, Diabetes hingga Infeksi Saluran Pernapasan, serta Komplikasi Kehamilan.
Oleh karenanya rawatlah gigi, dan gusi lebih teliti, dan hati-hati, diantaranya dengan rutin menyikat gigi dengan benar dua kali sehari. Pagi setelah sarapan, dan malam sebelum tidur. Gunakan benang gigi untuk mencegah penumpukan plak, rutin membersihkan karang gigi. Serta
lakukan kontrol rutin ke Dokter Gigi minimal 6 bulan sekali.
Pada momen BKGN 2025 ditandatangani MoU antara PDGI, AFDOKGI, ARSGMPI, dan Unilever Indonesia sebagai wujud nyata kolaborasi antara Pemerintah, Asosiasi Profesi, dan Swasta dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, lewat kesehatan gusi, dan gigi. Ini menjadi pengingat, bahwa Senyum Masyarakat Indonesia adalah cerminan dari bangsa yang kuat, serta berdaya saing tinggi.

