WANITAINDONESIA.CO – Memiliki produk berkualitas dan pangsa pasar yang menjanjikan ternyata belum cukup bagi puluhan juta pelaku usaha untuk bertahan di era kompetisi yang kian ketat. Di tengah kompleksitas tantangan global, akses pembiayaan yang terbatas serta minimnya jaringan pendukung kerap menjadi tembok besar yang menghentikan laju pertumbuhan bisnis yang sedang berkembang. Fenomena ini menegaskan bahwa dorongan pertumbuhan ekonomi tidak lagi bisa mengandalkan satu pendekatan tunggal yang berjalan sendiri-sendiri.
Persoalan krusial tersebut mengemuka dalam ajang KUMPUL Connect for Change Summit (KUMPUL C4C Summit) 2026 yang mengusung tema Reimagine Impact (Menakar Ulang Dampak) di Jakarta. Helatan memasuki tahun kedua ini mempertemukan lebih dari 1.000 peserta dari 16 negara untuk merumuskan ulang keterhubungan antaraktor dalam ekosistem bisnis. Upaya ini ditujukan untuk mengatasi kondisi penawaran menengah yang hilang (missing middle), yaitu situasi ketika bisnis yang sedang bertumbuh belum terlayani secara optimal oleh dukungan pembiayaan formal.
Data kawasan menunjukkan terdapat sekitar 71 juta bisnis kecil dan berkembang (small and growing businesses) di Asia Tenggara yang mewakili 97 persen dari total unit usaha. Namun, kurang dari 30 persen di antaranya yang memiliki akses terhadap pembiayaan resmi, sehingga memicu kesenjangan pembiayaan tahunan di kawasan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) hingga menembus angka lebih dari USD 300 miliar atau setara Rp5.380 triliun.
Founder dan Chairperson KUMPUL & KUMPUL Impact Faye Wongso menegaskan bahwa pengalaman mendampingi ekosistem kewirausahaan selama 11 tahun membuktikan program peningkatan kapasitas tidak akan efektif jika berdiri sendiri tanpa integrasi sektor lain.
“Pertumbuhan bisnis juga membutuhkan akses terhadap rantai pasok, pasar, pembiayaan, teknologi, dan jaringan. Melalui KUMPUL Connect for Change Summit 2026, kami ingin membuka lebih banyak ruang agar berbagai pihak dapat saling terhubung dan mendorong kolaborasi yang relevan dengan kebutuhan di lapangan,” ujar Faye Wongso dalam keterangan yang diterima, Kamis.
Pandangan mendalam mengenai kesiapan sumber daya manusia juga dipaparkan oleh Menteri Luar Negeri Republik Indonesia periode 2014–2024 Retno Marsudi dalam diskusi panel bertajuk “Can the World Still Trust Us?” (Apakah Dunia Masih Bisa Mempercayai Kita?).
Retno menyoroti krusialnya investasi jangka panjang pada bidang pendidikan dan penguatan kapasitas manusia di tengah arus perubahan teknologi serta dinamika geopolitik global. Menurutnya, Indonesia merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem global sehingga penguatan kapasitas domestik harus bergerak lebih cepat guna memastikan setiap inovasi memberi dampak nyata bagi kemajuan bangsa.
Dari sudut pandang institusi keuangan internasional, representative International Finance Corporation (IFC) – World Bank Group Miguel Soriano menyoroti pentingnya merancang sistem pembiayaan yang lebih adaptif terhadap pola pertumbuhan bisnis modern.
“Isu utamanya bukan sekadar ketersediaan dana yang tidak mencukupi, melainkan adanya rantai pembiayaan yang terputus (the issue is not simply that there is not enough money, but that the links in the financing chain are still missing). Kita perlu merancang ulang skema pembiayaan agar sejalan dengan cara bisnis tersebut tumbuh secara nyata (we need to rethink how financing is designed and make it better aligned with how these businesses actually grow),” ungkap Miguel Soriano.
Guna menerjemahkan gagasan menjadi langkah konkrit, forum ini meluncurkan Forum Laboratorium Eksekutif (Executive Lab Forum) yang membahas penerapan kecerdasan buatan (artificial intelligence) bernilai investasi bersama BNI Ventures dan AI Ignition, serta penyusunan skema modal katalitis (catalytic capital) yang didukung Tribhuwana Advisory. Selain itu, hadir pula sesi pencocokan bisnis (business matching) BEKUP untuk merangkul wirausaha ekonomi kreatif, serta forum SOLUSI yang mempertemukan perusahaan sosial pengelola bentang darat dan laut dengan mitra strategis.
Rangkaian acara ditutup dengan Tur Inovasi (Innovation Tour) hasil kolaborasi bersama Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dan Living Lab Ventures. Para delegasi lintas negara melintasi kawasan Kampus Biomedis (Biomedical Campus) di BSD City untuk menyaksikan langsung kemajuan ekosistem inovasi Indonesia, sekaligus membuka peluang kemitraan global yang berkelanjutan.
Ketika puluhan juta bisnis bertaruh nasib di tengah himpitan permodalan dan ketidakpastian pasar global, sinergi nyata antaraktor ekosistem menjadi kunci pembuka jalan. Akankah kolaborasi lintas negara dan inovasi pembiayaan terintegrasi ini mampu mengubah peta kekuatan ekonomi wirausaha di Asia Tenggara? Langkah besar telah dimulai, dan masa depan pertumbuhan inklusif kini berada di tangan kita bersama. (gdi)

