Site icon Wanita Indonesia

Tren Wisata Saat ini, Pelancong Lebih Suka Berburu Pengalaman Autentik

Lapangan golf bisa menjadi salah satu upaya mendorong pariwisata. Gdi

WANITAINDONESIA.CO – Dunia pariwisata Indonesia tengah mengalami pergeseran arus yang cukup signifikan. Pemandangan alam yang memukau atau sudut-sudut elok yang menawan untuk berswafoto (foto selfie) kini tak lagi cukup untuk memikat hati para pelancong. Wisatawan masa kini tidak sekadar ingin datang dan melihat-lihat, melainkan berburu pengalaman autentik yang berkesan serta memberikan ikatan emosional yang mendalam.

Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO), Pauline Suharno, mengungkapkan bahwa perilaku serta ekspektasi masyarakat dalam berlibur telah berubah drastis dari tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau dulu cukup menawarkan atraksi atau tempat yang bagus untuk berfoto, sekarang yang dicari adalah pengalaman. Bagaimana orang bisa benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda saat berkunjung,” ujar Pauline Suharno.

Perubahan pola pikir ini mendorong para pengelola destinasi dan penyelenggara kegiatan pariwisata untuk memutar otak. Mereka dituntut agar tidak hanya menjual keindahan visual, tetapi juga mampu mengemas narasi lokal dan kegiatan unik yang berkesan. Di samping pencarian pengalaman baru, kesadaran akan keberlanjutan (sustainability) juga menjadi pertimbangan utama. Pelancong modern makin peka terhadap cara pengelola destinasi menjaga kelestarian lingkungan sekitar, sehingga konsep pariwisata hijau kini menjadi syarat mutlak dalam pengembangan kawasan wisata.

Di sisi lain, dinamika ekonomi global dan tekanan finansial turut membentangkan tantangan tersendiri bagi industri ini. Penyesuaian gaya hidup terlihat jelas pada kelompok masyarakat kelas menengah ke atas yang kini lebih cermat dan hemat dalam mengalokasikan anggaran liburan mereka.

“Kalau sebelumnya pelanggan terbiasa menggunakan kelas bisnis (business class), sekarang banyak yang beralih ke ekonomi premium (premium economy) atau kelas ekonomi (economy). Begitu juga hotel, dari hotel bintang lima premium menjadi bintang empat atau bintang lima dengan harga yang lebih rendah,” kata Pauline Suharno menjelaskan.

Fluktuasi perekonomian, penurunan daya beli masyarakat, tantangan geopolitik, hingga perubahan tren memang menghadirkan tantangan tebal bagi para pelaku usaha pariwisata. Namun, di balik awan mendung tersebut, nyala minat masyarakat untuk menjelajahi pelbagai pelosok Nusantara sebenarnya tidak pernah padam.

Banyak wisatawan memilih untuk sekadar menunda jadwal keberangkatan ketimbang membatalkan rencana perjalanan mereka sama sekali. Semangat untuk terus melangkah dan menjelajah ini menjadi cermin bahwa keinginan menikmati keindahan alam serta budaya tidak mudah luntur oleh keadaan.

Menjelajahi sudut-sudut baru dan merasakan pengalaman yang belum pernah dirasakan sebelumnya selalu punya cara untuk memperkaya sudut pandang hidup kita. Jadi, cerita dan pengalaman autentik seperti apa yang paling ingin Anda rasakan pada agenda liburan berikutnya? (Gdi)

Exit mobile version