WANITAINDONESIA.CO – BRI JF3 Fashion Festival menjadi melting pot bagi para desainer muda berbakat lintas dunia.
Lewat kolaborasi epik bersama JF3 ASEAN Fashion Designers Showcase (AFDS) membuat konsep couture Asia Tenggara. Pagelaran bersama antar 3 desainer dari Singapura, Filipina, dan Laos menghadirkan narasi baru ihwal couture.
Tema utama “Elysian Currents” dimaknai sebagai sebuah fantasi Asia Tenggara bergaya couture. Laksana sebuah pertunjukan imersif, di mana warisan budaya, fantasi, dan keanggunan futuristik berpadu di runway BRI JF3 Fashion Festival.
Dalam satu kesempatan di acara temu media di BRI JF3 Fashion Festival, Advisor JF3 & Founder LAKON Indonesia menyampaikan, “Kehadiran desainer luar negeri bukan sekedar status simbol di runway.
Kehadiran mereka justru untuk menaikkan standar bagi Desainer Indonesia yang selama ini, dari sudut pandang saya masih berkutat di ihwal potensi.
Sebagai Advisor JF3, dan Co-Initiator PINTU Incubator bersama Soegianto Nagaria yang juga Ketua JF3 Fashion Festival, Thres memiliki peran serta tanggung jawab merancang arah strategis, membangun ekosistem kolaborasi lintas negara yang solid serta mendorong Desainer Indonesia terus berprogres serta mampu menembus pasar global.
Menurut Thres, Desainer Indonesia masih berkutat di seputar potensi. Saya belum melihat karya mereka mendunia serta terus bertumbuh.
“Potensi itu bagus tapi tak cukup untuk terus bertumbuh, berkembang khususnya di ranah global, mengingat Indonesia kaya akan keberagaman budaya serta banyak keahlian terutama pada aspek craftsmanship yang perlu diolah, diarahkan serta dihubungkan dengan sistem yang tepat, “papar Thres.
‘Lewat kolaborasi internasional dari perspektif tersebut adalah bagaimana cara Desainer Indonesia terinspirasi untuk mempelajari standar global yang kompleks.”
Sementara jelang fesyen show kolaboratif tiga negara ASEAN Laos, Singapura, dan Filipina, Ketua AFDS, Hayden Ng sangat mengapresiasi gelaran ini.
“Saya mengucapkan terima kasih ke Panitia BRI JF3 Fashion Festival 2026 yang kembali bersedia mempertemukan para anggota AFDS, dalam sebuah presentasi.”
“Ketiga perancang visioner ASEAN ini tampil membawa narasi serta karakternya masing-masing lewat koleksi, tapi mereka lebur lewat tema “Elysian Currents”
“Kami berharap kolaborasi antar negara serumpun agar semakin berjaya di lingkup regional, juga membuka mata ekosistem mode dunia ihwal keberadaan, kiprah serta talenta terbaik Desainer ASEAN.”
“Layaknya bangsa serumpun, kita terikat manis seperti saudara. Yang mana saudara seprofesi di ranah mode tentunya harus saling mendukung. Lewat semangat “Recrafted: Shaping the Future” nyata bahwa kolaborasi ini sangatlah penting bagi keberlanjutan ekosistem mode ASEAN.”
“Tema yang menggelorakan semangat lewat tampilan karya, kreativitas, keahlian tangan yang muaranya akan menuju sebuah pasar besar dunia.”
“Karenanya, saya selaku Ketua AFDS merasa terhormat dapat berkolaborasi dengan platform JF3 Fashion Festival guna mencapai goals yang menjadi tujuan mulia organisasi kami.”
Hayden juga sangat mengapresiasi pelaksanaan BRI JF3 Fashion Festival yang setiap tahun semenjak AFDS turut berkontribusi pada perhelatan spektakuler ini selalu mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Panitia mampu menyelenggarakan event yang dilakukan sesuai standar internasional, menyelaraskan budaya Indonesia.
“Semua kebutuhan kami dipenuhi tanpa ada drama. Dari tata lampu, koreografi, pemilihan model profesional, penata rambut MUA, dresser, koreografi, musik, pencahayaan, semuanya diakomodir dengan sangat baik oleh panitia JF3. Sehingga kami bisa lebih fokus untuk menampilkan karya terbaik, “ujar Hayden.
“Sehingga dari persiapan panjang untuk tampil di panggung BRI JF3 Fashion Festival 2026 tergantikan dengan perasaan dihormati, dihargai serta dibantu dalam semangat Recrafted: Shaping the Future untuk semua ekosistem yang terlibat.”
Houte Couture Asia Tenggara Modern
Panggung “menyala” lewat tampilan pertama dari Thoulany Chanthalangsy, Desainer Laos.
Dia menafsirkan ulang sejumlah motif tradisi Laos lewat koleksi bertema “Elevating Lao Identity of the International Stage”
Lewat sudut pandang kontemporer yang halus, keahlian serta ragam kerajinan juga didukung dengan penjahitan modern kesemuanya terlihat berpadu harmoni, memesona.
Identitas Laos sebagai negara yang terkenal dengan wastra tenunnya, terwakilkan lewat karya Thoulany yang dikenal masyarakat di sana, sebagai produk berkualitas terbaik.
Ia mumpuni merepresentasikan budaya Laos yang senantiasa terpelihara, berkelas, dan relevan di ranah global lewat brand besutannya Kinally.
Untuk JF3 2026 Kinnaly menampilkan 24 look. Nama Kinnaly terinspirasi oleh nama buah hati kesayangannya, yang menjadi salah satu motivasi terbesar ketika dia berkarya.
Brand populer Laos ini didirikan di tahun 2013 oleh pria flamboyan yang tumbuh kembang di wilayah Pakse. Sebuah kota dengan panorama memesona di Provinsi Champasack, Laos Selatan.
Inspirasi terbesar desain Thoulany adalah warisan lokal yang lekat dengan kekayaan budaya diantaranya dari situs warisan dunia UNESCO “Wat Phou, dan air terjun Kone Prang Peng.
Totalitas dilakukan dengan bekerja sama dengan tim konservasi setempat. Walau memiliki nama, Thoulany terus bertumbuh dengan belajar ke luar Laos. “Untuk Desainer muda ini harus melihat desain, juga pattern langsung ke Vietnam, dan Thailand.”
Brand fesyen Kinnaly memiliki tempat terhormat di Laos, dikenal sebagai brand premium, yang mengutamakan standar tinggi pada setiap proses produksi. Kian istimewa lewat desain kontemporer yang relevan di masa sekarang.
Show berikut “pecah” dengan tampilan Desainer Indra Murak asal Singapura yang mempersembahkan”Dreamlife Fantasi Garden”.
Inspirasi terbesar karyanya ini berasal dari fantasi tentang hutan ajaib yang diceritakan pada sebuah buku cerita. Lekat dengan imajinasi serta seni fantasi menggemaskan.
Penonton dapat melihat siluet halus, tekstur serupa mimpi juga detail puitis yang menghadirkan alam semesta couture nan ajaib. Di mana sebuah imajinasi Indra Murak terasa lebih hidup.
Teknik serta material pengerjaanya terlihat inovatif. Untuk mentransfer idenya tentang hutan rekaanya tersebut, Indra banyak bermain di warna hijau. Soal padu-padan dengan hasil yang tak biasa, sangat memesona, pria berkepribadian hangat ini boleh dibilang mumpuni.
Visioner Kala Budaya “Membaca” Zaman
Penutup manis “Elysian Currents” hadir lewat presentasi desainer Filipina, Erjohn Dela Serna. Ia mempersembahkan “Liquid Reverie” dengan melakukan eksplorasi futuristik tentang air, pantulan serta gerakan saat cairan sumber kehidupan ini mengalir.
Ketika ditanya mengapa air menjadi sumber inspirasi karyanya untuk runway-nya JF3, penyandang gelar BA (Hons) di bidang mode dari University of East London menjawab lugas, bahwa ia lahir serta dibesarkan di negara yang dikarunia alam, dengan sumber air berlimpah. Tetap terpelihara kebersihannya dari generasi ke generasi.
Air merupakan esensi dari sebuah kehidupan, namun bagi seorang kreator seperti dirinya, air juga bisa dijadikan inspirasi yang tak kan pernah selesai, hingga tercipta “Liquid Riverie” yang “mencuri” perhatian penonton.
Tampilan ikonik karya Erjhon berupa gaun serupa patung, dalam balutan warna biru tengah malam. Semakin memesona dengan warna lainnya sebutlah itu warna perak, lavender, hijau zaitun serta warna merah muda pucat. Looknya indah dengan tampilan anggun berkilauan.
Popularitas Erjhon mulai terbangun di negaranya berkat semangat, upaya serta kreativitasnya dalam memadukan estetika yang menjadi DNA rancangannya.
Lekat dengan tekstur yang menonjol, desain modern, edgy, dan asimetris. Dipujikan pria berkulit putih ini setia dengan penggunaan kain tradisi dari Cordillera. Wilayah pegunungan Filipina bagian utara. Juga beragam wastra cantik lainnya seperti T’nalak, Inab’l, dan Hablon.
Lewat tradisi menguri-uri budaya, Erjhon menjadi salah satu persona Desainer yang disegani di negaranya. Dia tercatat sebagai salah satu anggota di organisasi desain mode terkenal “Designers Circle Philippines”.
Apa yang membuat koleksi “Liquid Riverie” bersinar di panggung JF3 Fashion Festival 2026? Desainnya timeless walau waktu berlari begitu cepat hingga puluhan tahun!.
Setiap desain dikajinya secara cermat untuk memenuhi ekspektasi klien, juga karena karyanya ini memiliki DNA yang sangat kuat. Selain itu ia sangat peka akan pemahaman motif tradisi yang akan mendekonstruksi, bahkan mengubah sebuah karya yang mampu mengubah batasan waktu, dan tempat.
Lewat karya terbaiknya untuk JF3 Fashion Festival 2026, Erjhon ingin menyuarakan kekuatan serta kepercayaan diri wanita modern.
Pagelaran bersama tiga Desainer AFDS, nyata karya mereka telah memberikan visual sebuah kanvas nan memukau. Penanda dari sebuah perayaan kualitas lewat inovasi, keahlian artistik serta narasi dalam dunia haute couture.
Gongnya “Elysian Currents” mampu menghantarkan AFDS di garis depan lanskap Asia Tenggara. Tentunya atas berkat kreativitas, inovasi para Desainer muda di ekosistem mode Asia Tenggara, yang mana diharapkan akan terus berkembang lewat tradisi, yang menghantarkan ke sebuah masa depan, yang relevan dengan perkembangan zaman. (*)

