WANITAINDONESIA.CO — Jenama fesyen batik TIEKA HUZA menggelar TIEKA HUZA Trunk Show 2026 di butik Batik Huza, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026).
Mengusung tema “A Timeless Legacy – Celebrating Batik as a Living Heritage”, acara yang berlangsung secara privat ini menampilkan interpretasi batik dalam balutan desain modern, feminin, elegan, dan timeless.
Melalui trunk show tersebut, TIEKA HUZA ingin menunjukkan bahwa batik tidak hanya identik dengan busana formal atau gaya klasik, tetapi juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup perempuan masa kini, termasuk generasi muda yang ingin tampil modis tanpa meninggalkan nilai budaya Indonesia.
Atikah Huza, pemilik sekaligus desainer TIEKA HUZA, menjelaskan bahwa TIEKA HUZA merupakan lini premium dari Batik Huza, jenama batik asal Pekalongan yang telah berdiri sejak 1985. Sementara itu, TIEKA HUZA dikembangkan sejak 2014 dengan fokus menghadirkan busana batik modern untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, khususnya pasar kelas menengah atas.
“Dari acara ini, saya ingin menunjukkan bahwa batik, walaupun klasik dan tradisional, tetap bisa ditampilkan secara modern dan kekinian, sehingga orang yang memakainya tidak terlihat lebih tua,” ujar Atikah.
Hadirkan Tiga Rangkaian Koleksi
Dalam TIEKA HUZA Trunk Show 2026, terdapat tiga rangkaian koleksi yang masing-masing terdiri atas delapan look, yakni busana batik ready-to-wear, koleksi sutra untuk tampilan formal, serta busana bordir dengan motif batik.
Ketiga rangkaian tersebut memperlihatkan eksplorasi TIEKA HUZA dalam mengolah wastra menjadi busana dengan karakter dan fungsi yang beragam. Koleksi ready-to-wear menawarkan pilihan yang lebih praktis untuk aktivitas sehari-hari, sedangkan koleksi sutra menghadirkan alternatif untuk kebutuhan formal dan acara khusus. Adapun koleksi bordir memadukan detail dekoratif dengan motif batik melalui penggunaan material seperti organza dan tulle.
Dari segi bahan, TIEKA HUZA menggunakan katun, sutra, serta material bordir. Pilihan tersebut memberikan ruang bagi pengembangan siluet dan karakter busana yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pemakainya.
Atikah menyebutkan bahwa blazer menjadi salah satu model yang diminati dalam koleksi kali ini. Potongan tersebut dinilai dapat menjadi pilihan bagi konsumen muda yang ingin mengenakan batik dengan gaya lebih modern dan tidak terlalu formal. Selain blazer, koleksi yang diperkenalkan juga mencakup dress, busana formal, dan berbagai pilihan atasan.
TIEKA HUZA turut menghadirkan busana pria berupa kemeja, meskipun koleksi dalam trunk show kali ini lebih banyak berfokus pada busana perempuan.
Kembangkan Motif Klasik dengan Sentuhan Kontemporer
Berakar dari tradisi batik Pekalongan, TIEKA HUZA tetap mempertahankan unsur motif klasik sembari mengembangkannya melalui pendekatan desain yang lebih kontemporer. Eksplorasi dilakukan melalui perpaduan motif daun, titik-titik yang menjadi salah satu elemen dasar batik, serta motif monogram dengan pilihan warna yang lebih modern.
Menurut Atikah, TIEKA HUZA tidak terpaku pada satu motif tertentu sebagai identitas utama. Sebaliknya, pengembangan desain dilakukan dengan mengambil inspirasi dari motif tradisional, kemudian mengolahnya agar sesuai dengan selera pasar saat ini.
“Motif-motif klasik tetap kami gunakan, tetapi dikembangkan lagi menjadi motif yang lebih modern,” jelasnya.
Selain desain, proses produksi juga menjadi bagian penting dari karakter TIEKA HUZA.
Atikah mengatakan bahwa produknya dibuat melalui fasilitas produksi sendiri di Pekalongan, dengan tetap mengandalkan keterampilan dan proses pengerjaan tradisional.
Untuk pewarnaan, TIEKA HUZA menggunakan pewarna sintetis atau kimia, sementara proses pembatikan tetap mengadopsi teknik tradisional. Atikah juga menjelaskan bahwa pengelolaan limbah produksi dilakukan secara tersendiri.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya jenama ini dalam menjaga keterkaitan dengan tradisi batik sekaligus mengembangkan produk yang sesuai dengan kebutuhan industri fesyen modern.
Menjangkau Konsumen Muda melalui Ready-to-Wear
Salah satu fokus pengembangan TIEKA HUZA adalah memperluas jangkauan konsumen, terutama dari kelompok usia di bawah 30 tahun. Jika sebelumnya pelanggan didominasi konsumen berusia 30 tahun ke atas, kini TIEKA HUZA mulai mengembangkan pilihan busana dengan potongan dan gaya yang lebih dekat dengan selera generasi muda.
Blazer batik menjadi salah satu contoh pendekatan tersebut. Dengan potongan yang lebih kasual dan mudah dipadukan, batik dapat dikenakan untuk berbagai kesempatan tanpa harus selalu tampil dalam bentuk busana formal. Atikah juga melihat adanya peningkatan minat generasi muda terhadap batik.
Perubahan ini menjadi peluang bagi TIEKA HUZA untuk memperkenalkan wastra Indonesia melalui desain yang lebih fleksibel dan relevan dengan gaya berpakaian masa kini.
Dari sisi harga, koleksi blazer TIEKA HUZA dibanderol mulai Rp700.000, sedangkan koleksi berbahan sutra ditawarkan mulai Rp2 juta. Rentang harga tersebut mencerminkan perbedaan material, karakter desain, dan kebutuhan penggunaan masing-masing koleksi.
Selain busana siap pakai, TIEKA HUZA menyediakan kain batik serta produk pelengkap, seperti scarf, selendang, dan pashmina. Konsumen juga dapat memesan busana khusus, termasuk untuk kebutuhan berbusana bersama keluarga.
Untuk tampilan serasi, Atikah menyarankan agar busana pasangan atau keluarga tidak harus memiliki model dan motif yang benar-benar sama. Keselarasan warna atau penggunaan batik dalam satu palet warna dapat menjadi pilihan agar penampilan tetap harmonis tanpa terkesan terlalu seragam.
Batik sebagai Warisan yang Terus Hidup
Bagi TIEKA HUZA, pelestarian batik tidak cukup dilakukan dengan menjaga motif dan teknik tradisional, tetapi juga perlu diwujudkan melalui pemakaian dan pengembangan desain yang berkelanjutan. Batik perlu terus hadir dalam kehidupan sehari-hari agar dapat diapresiasi oleh lintas generasi.
Melalui TIEKA HUZA Trunk Show 2026, Atikah ingin memperlihatkan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan. Nilai budaya tetap menjadi fondasi, sementara kreativitas dalam mengolah material, warna, motif, dan siluet membuka peluang bagi batik untuk menjangkau lebih banyak pemakainya.
Semangat tersebut sejalan dengan tema “A Timeless Legacy – Celebrating Batik as a Living Heritage”, yang menempatkan batik bukan sebagai peninggalan masa lalu semata, melainkan sebagai warisan budaya yang terus berkembang mengikuti zaman.
Dengan menggabungkan keterampilan produksi lokal dari Pekalongan dan pendekatan desain kontemporer, TIEKA HUZA berupaya menghadirkan batik yang tetap berakar pada tradisi sekaligus menjadi bagian dari ekspresi gaya perempuan modern.(den)

