Site icon Wanita Indonesia

Terjebak Tren “Kelihatan Kaya”, Kelas Menengah Indonesia Terhimpit Krisis Ekonomi Tersembunyi

Simposium nasional bertajuk "Strategi Percepatan Pertumbuhan 8%: Sinergi Fiskal dan Non-Fiskal". Gdi

WANITAINDONESIA.CO — Di balik riuhnya konser musik papan atas, tren perawatan kulit (skincare) yang kian menjamur, serta kebiasaan nongkrong di kedai kopi modern, tersimpan cerita keprihatinan dari kelas menengah Indonesia.

Secara kasat mata, kehidupan sosial ekonomi masyarakat golongan ini tampak stabil dan sejahtera. Namun, di balik gaya hidup yang megah tersebut, kenyataan pahit justru tengah mengintai keseharian mereka.

Fenomena ketimpangan ekonomi tersembunyi ini mengemuka dalam simposium nasional bertajuk Strategi Percepatan Pertumbuhan 8%: Sinergi Fiskal dan Non-Fiskal.

Narasumber simposium, Hizkia Yosias Polimpung, Research Director Bestari Indonesia Fasilitator (InFast), mengungkapkan bahwa kelompok menengah saat ini kian terancam akibat maraknya keterlibatan dalam pekerjaan di sektor yang memberikan upah tidak mencukupi serta sarat akan ketidakpastian besaran pendapatan.

Demi menopang gaya hidup yang tergolong tinggi, tidak sedikit dari mereka yang terpaksa berhemat secara ekstrem untuk kebutuhan primer. Gambarannya tampak baik-baik saja di permukaan, padahal tumpuan hidup mereka sejatinya ditopang oleh penghasilan yang relatif kecil. Kondisi keterbatasan finansial ini pada akhirnya mendorong masyarakat memanfaatkan fasilitas bayar nanti (paylater), bahkan tidak sedikit yang justru terjerat pinjaman dalam jaringan (pinjol).

Situasi ini menciptakan ilusi pertumbuhan ekonomi makro yang seolah-olah berkinerja baik, padahal realita di tingkat tapak menunjukkan kondisi sebaliknya.

Hizkia Yosias Polimpung menilai, skema pembangunan ekonomi selama ini kerap berpatokan pada investasi berbasis kenaikan pendapatan semata. Sebagai gambaran, untuk meningkatkan pendapatan setiap sektor usaha nasional hingga Rp500 juta, dibutuhkan suntikan investasi yang fantastis sebesar Rp60 Triliun.

Menurut Hizkia Yosias Polimpung, pendekatan pembangunan ekonomi sebaiknya dialihkan menggunakan investasi berbasis efek pengganda (multiplier effect). Skema ini diyakini mampu membuat pemberian insentif menjadi lebih tepat sasaran karena tolok ukur yang digunakan didasarkan pada dampak turunan ekonomi yang dihasilkan, di mana angka ideal untuk efek pengganda tersebut berada pada tingkatan 1,84 kali.

Kondisi yang terjadi saat ini dinilai justru belum berpihak pada pemerataan, sebab berbagai kebijakan insentif cenderung lebih banyak menguntungkan kelompok pengusaha besar.

Sebagai solusi konkrit, Hizkia Yosias Polimpung mengusulkan penerapan sistem koperasi berbasis rantai blok (blockchain). Dalam skema ini, porsi alokasi dana sebesar 60 persen difokuskan untuk pemenuhan kebutuhan pokok, sedangkan 40 persen sisanya diarahkan untuk mendukung perlakuan (treat) ekonomi kreatif, sebagaimana skema yang telah sukses dijalankan di Singapura, China, serta India.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa dana dalam sistem koperasi modern ini dirancang tidak dapat dicairkan dalam bentuk uang tunai, melainkan hanya dapat dibelanjakan pada gerai-gerai tertentu dan tidak bisa dipergunakan di luar ekosistem yang telah ditentukan.

Melalui terobosan ini, wadah koperasi dapat masuk memfasilitasi para pelaku ekonomi kreatif, sehingga mereka tidak hanya mendapatkan kemudahan akses pendanaan, melainkan juga memperoleh bagian sisa hasil usaha (shu) yang adil.

Tantangan ekonomi di balik kilau gaya hidup perkotaan kini menjadi cermin penting bagi masa depan pembangunan nasional.

Akankah pembenahan skema investasi dan modernisasi ekonomi rakyat mampu menjadi penyelamat kelas menengah dari jebakan krisis finansial yang makin menghimpit? (Gdi)

Exit mobile version