WANITAINDONESIA.CO – Setelah sempat vakum cukup lama dari gemerlap dunia hiburan, Tengku Dewi akhirnya memutuskan untuk kembali ke profesi yang pernah membesarkan namanya: disc jockey. Bagi mantan istri Andrew Andhika ini, comeback bukan sekadar soal panggung dan musik—melainkan tentang menjaga kewarasan diri di tengah dinamika hidup sebagai ibu tunggal.
Di usianya yang ke-38 tahun, Dewi tak menampik bahwa keputusan tersebut melalui proses panjang. Ada rasa maju-mundur, ada bimbang, terutama saat memikirkan anak-anak yang kini menjadi prioritas utamanya.
“Tahu nggak aku balik lagi kenapa? Biar nggak stres,” ungkapnya jujur saat menjadi bintang tamu di program Pagi-pagi Ambyar edisi 20 Februari 2026.
Dari Ibu Rumah Tangga ke Panggung Hiburan
Tak banyak yang tahu, sebelum dikenal sebagai aktris sinetron, Dewi justru lebih dulu meniti karier sebagai DJ. Dunia hiburan memang bukan hal baru baginya. Namun ketika memilih fokus menjadi ibu rumah tangga, ia rela menepi cukup lama dari sorot kamera dan dentuman musik.
Kini, dengan status sebagai ibu dua anak sekaligus single mom, Dewi merasa perlu kembali berdiri di atas kaki sendiri—bukan hanya secara finansial, tetapi juga secara emosional.
Mengapa DJ, Bukan Sinetron?
Di antara dua dunia yang pernah ia geluti—akting dan DJ—Dewi mantap memilih kembali ke dunia musik. Alasannya sederhana namun sangat realistis: waktu.
Syuting sinetron, menurutnya, menyita hampir seluruh hari. Jadwal dari pagi hingga pagi lagi membuatnya khawatir kehilangan momen berharga bersama anak-anak. Sementara profesi DJ dinilainya lebih fleksibel.
“Kalau DJ itu lebih fleksibel. Aku nggak perlu benar-benar mulai dari nol lagi, paling cuma rebranding. Skill-nya kan sudah ada,” paparnya.
Bagi perempuan modern seperti Dewi, fleksibilitas adalah kemewahan yang tak ternilai.
Soal Penghasilan dan Profesionalisme
Menariknya, pertimbangan Dewi bukan semata nominal bayaran. Ia justru menyoroti pengalaman kurang menyenangkan di dunia sinetron, terutama soal pembayaran honor yang kerap molor hingga berbulan-bulan.
Sebaliknya, menjadi DJ dianggapnya lebih praktis secara cash flow. Meski begitu, Dewi mengaku tak pernah terlalu nyaman dengan budaya saweran.
“Zaman dulu kalau disawer itu kayak gengsi, egonya tinggi buat ambil. Biasanya tim yang ambil,” ujarnya sambil tertawa.
Kini, ia memilih lebih bijak dalam memandang profesi dan penghasilan. Bagi Dewi, yang terpenting adalah bekerja secara profesional dan tetap menjaga harga diri.
Comeback yang Lebih Matang
Kembalinya Tengku Dewi ke dunia DJ bukan sekadar nostalgia masa lalu. Ini adalah fase baru—lebih matang, lebih sadar prioritas, dan lebih jujur pada kebutuhan diri sendiri.
Di balik gemerlap lampu panggung, ada sosok ibu yang ingin tetap waras, produktif, dan hadir untuk anak-anaknya. Dan mungkin, di situlah makna sesungguhnya dari sebuah comeback: bukan hanya kembali bersinar, tetapi juga kembali menemukan diri sendiri. (imb)

