WANITAINDONESIA.CO – Di tengah riuh rendah kondisi ekonomi dunia yang penuh ketidakpastian, secercah optimisme justru terpancar dari para perempuan pengusaha yang berkumpul dalam forum Prosperitea Vol. 4: Global Crisis and Its Opportunity di Jakarta, akhir April lalu. Dhanavinya, sebuah wadah pemberdayaan perempuan pengusaha, menjadi inisiator pertemuan hangat ini untuk membuktikan bahwa di balik setiap kesulitan, selalu tersedia celah bagi mereka yang jeli melihat peluang. Para tokoh perempuan lintas sektor ini sepakat bahwa kolaborasi dan ketangguhan mental adalah modal utama bagi perempuan untuk tidak sekadar bertahan, tetapi juga tampil sebagai pemimpin yang membawa dampak signifikan bagi masyarakat luas.
Semangat kolaborasi ini ditegaskan oleh Esra Manurung selaku pendiri Dhanavinya, yang didampingi oleh dua sahabat sekaligus rekan pendirinya, Lanny Sutiarto dan Ailing Yang. Ketiga sosok yang telah melintasi dua dekade di dunia bisnis ini percaya bahwa sinergi jauh lebih bermakna daripada persaingan. Melalui Dhanavinya, mereka rutin menyelenggarakan dialog untuk meningkatkan kapasitas diri, menyediakan bimbingan (mentoring), pelatihan intensif (coaching), hingga konsultasi bisnis. Esra menekankan bahwa transformasi mental yang lahir dari kemauan belajar melalui literatur maupun mentor terbaik adalah kunci melahirkan pemimpin yang visioner dan adaptif di tengah situasi yang tidak ideal.
Ailing Yang, penulis buku Life is a gift yang juga memiliki jaringan bisnis lintas benua, menambahkan bahwa krisis global bukanlah momok yang harus ditakuti, melainkan fenomena yang perlu dipahami secara mendalam. Menurutnya, kekuatan sejati untuk menghadapi tekanan eksternal sebenarnya bersumber dari dalam diri sendiri. Ketika seorang perempuan memiliki kejelasan visi dan keberanian untuk melangkah, masa-masa sulit justru dapat menjadi titik balik perubahan yang luar biasa. Baginya, ketidakpastian selalu menyisakan ruang tumbuh bagi mereka yang berani memandang dunia dengan cara yang berbeda.
Pentingnya kemandirian finansial (keuangan) turut menjadi sorotan dalam diskusi ini. Lanny Sutiarto, seorang pebisnis sekaligus mentor di bidang kesehatan dan keuangan, mengingatkan bahwa kemampuan mengelola dana secara bijaksana menjadi semakin krusial saat ini. Kemandirian tersebut bukan hanya diukur dari seberapa besar pendapatan yang dihasilkan, melainkan dari kecerdasan dalam menata keuangan keluarga maupun usaha. Dengan manajemen keuangan yang disiplin, perempuan akan memiliki landasan yang kokoh dalam menjaga stabilitas di tengah fluktuasi ekonomi dunia.
Erita Yohan, seorang eksekutif senior di sektor energi yang menjadi narasumber utama, memetakan beberapa sektor yang kini menjadi ruang pertumbuhan baru yang sangat relevan. Beliau melihat peluang besar pada bidang pangan sehat, kesehatan dan kebugaran (wellness), energi, hingga ekonomi digital. Perempuan dianggap memiliki keunggulan alami berupa kemampuan melakukan berbagai tugas dalam satu waktu (multitasking), ketelitian, serta intuisi yang tajam. Meski tantangan seperti kepercayaan diri dan keterbatasan akses masih membayangi, Erita mendorong perempuan untuk memulai langkah dari hal sederhana, seperti bisnis kuliner rumahan atau pemanfaatan platform digital.
Sebagai penutup yang menggugah semangat, profesional yang berpengalaman menangani berbagai proyek gas alam cair (LNG) dan strategi korporasi ini mengajak perempuan untuk tidak menunda langkah hanya demi menunggu kondisi yang sempurna. Beliau berpesan agar kaum perempuan memulai dari apa yang dimiliki, mengelolanya dengan disiplin, dan terus membuka diri untuk belajar hal-hal baru.
“Bukan yang paling kuat yang bertahan, tetapi yang paling cepat beradaptasi. Di balik krisis, selalu ada peluang tersembunyi yang bisa dimanfaatkan,” pungkas Erita Yohan, meninggalkan pesan mendalam bagi para peserta untuk terus bergerak maju sebagai agen perubahan yang mampu menciptakan peluang baru di tengah perlambatan ekonomi. (gdi)

