
WANITAINDONESIA.CO – Langkah Indonesia untuk mengukuhkan posisinya di panggung perdagangan internasional kini berada dalam fase penting. Di tengah riuk pikuk pesatnya pertumbuhan ekonomi global, tanah air tidak hanya berdiri sebagai penghubung perdagangan semata, melainkan tengah berjuang keras mentransformasikan diri menjadi kekuatan besar perdagangan dunia.
Semangat perubahan inilah yang terpancar kuat dalam perhelatan Grand Launching Trade Indonesia bertajuk “Indonesia Trade Rising: From Connector to Powerhouse” yang digelar megah di She La Vie Grand Ballroom, Alam Sutera, Serpong, Tangerang, Banten.
Dalam perhelatan tersebut, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perdagangan (BPSDM) Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Bapak Djatmiko Bris Witjaksono, memaparkan gambaran besar mengenai tatanan ekonomi nasional.
Djatmiko menegaskan bahwa pondasi utama perekonomian Indonesia sejauh ini sangat ditopang oleh konsumsi domestik yang menyumbang angka sebesar 50-60%. Angka yang cukup dominan ini membawa konsekuensi besar bagi pemerintah untuk senantiasa menjaga kelancaran pasokan, memastikan ketersediaan barang di pasaran, serta menjamin keterjangkauan harga bagi seluruh lapisan masyarakat.
Namun, untuk melangkah lebih jauh menjadi raksasa perdagangan, ketergantungan pada pasar dalam negeri tentu tidaklah cukup. Indonesia perlu menembus barikade batas negara melalui kemitraan perdagangan internasional yang strategis.
Djatmiko mengungkapkan bahwa pemerintah telah menjalin berbagai perjanjian kerja sama internasional yang krusial, seperti kesepakatan dagang dengan negara Chile, Uni Emirat Arab, hingga berbagai bentuk kerja sama bilateral maupun regional bersama Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan para mitra wicaranya.
Tentu saja, perjalanan menuju puncak ekspor global tidak serta-merta berjalan mulus tanpa hambatan. Djatmiko membeberkan bahwa tantangan utama yang kerap menghadang para pelaku usaha domestik, terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), berada pada aspek kepatuhan (compliance) serta pemahaman yang mendalam mengenai regulasi ekspor dan impor di negara tujuan.
Oleh sebab itu, peningkatan kapasitas para pelaku usaha lokal menjadi harga mati agar produk-produk unggulan Indonesia mampu bersaing tangguh dan menembus pasar global yang serba kompetitif.
Guna mengawal cita-cita besar tersebut, jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kementerian Perdagangan RI, termasuk para Atase Perdagangan dan pusat promosi perdagangan Indonesia (Indonesian Trade Promotion Center/ITPC) yang bertugas di luar negeri, memegang peranan yang amat vital.
Para garda terdepan ini dituntut untuk tidak hanya menguasai regulasi perdagangan secara rinci, tetapi juga jeli membaca dinamika perjanjian internasional serta peka terhadap tren global mutakhir, mulai dari isu keberlanjutan (sustainability) hingga isu perubahan iklim (climate change).
Transformasi menuju kekuatan perdagangan dunia ini pada akhirnya memerlukan sinergi yang utuh dari seluruh elemen. Kementerian Perdagangan RI terus berkomitmen penuh untuk memacu tingkat literasi ekspor para pelaku usaha nasional melalui kolaborasi lintas sektor yang erat, program pelatihan yang berkesinambungan, serta pemanfaatan dan optimalisasi teknologi informasi ekspor secara modern.
“Upaya mendongkrak ekspor bukan sekadar tentang menjual produk ke luar negeri, melainkan tentang bagaimana kita memperkuat kapasitas bangsa, memahami aturan main global, dan membawa produk-produk lokal berjaya di panggung dunia,” ujar Djatmiko, dalam kutipan penjelasannya yang menggugah semangat para peserta.
Langkah panjang telah diayunkan, dan peta jalan menuju raksasa perdagangan dunia kini makin membentang terang di depan mata. Keberhasilan transformasi ini bukan hanya sekadar mimpi di atas kertas, melainkan sebuah panggilan aksi bagi seluruh pelaku usaha dan masyarakat Indonesia untuk bersama-sama membuktikan bahwa produk buatan anak bangsa siap menaklukkan pasar global. (gdi)




