Strategi Jangka Panjang Penguatan Produktivitas Sapi Lokal demi Kedaulatan Pangan

Deretan daging sapi di dalam rak pajang salah satu supermarket di Jakarta. Gdi

WANITAINDONESIA.CO – Kebutuhan daging sapi yang terus melonjak di kota-kota besar Indonesia seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi ketahanan pangan nasional. Kesenjangan antara jumlah produksi lokal dan tingginya permintaan pasar membuat meja makan keluarga Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan sapi dari luar negeri, terutama dari Australia.

Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof. Ronny Rachman Noor, menekankan bahwa kondisi ini memerlukan penanganan serius melalui percepatan produktivitas sapi lokal agar ketergantungan impor dapat dikurangi secara bertahap.

Menurut Prof. Ronny Rachman Noor, populasi sapi potong di dalam negeri saat ini memang belum mencukupi kebutuhan nasional yang terkonsentrasi di wilayah perkotaan padat penduduk seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan. Pertumbuhan jumlah penduduk dan meluasnya kelas menengah, ditambah geliat sektor industri makanan, hotel, hingga katering, menuntut adanya pasokan daging yang stabil sepanjang tahun.

Ketidakseimbangan inilah yang akhirnya memaksa pemerintah untuk tetap mengandalkan impor sapi hidup demi menjaga kestabilan harga dan ketersediaan barang di pasar.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan sapi lokal kita masih tertinggal dalam hal performa. Prof. Ronny Rachman Noor menjelaskan bahwa produktivitas sapi lokal relatif lebih rendah jika disandingkan dengan sapi impor seperti jenis Brahman Cross yang memiliki kecepatan pertumbuhan luar biasa serta sangat adaptif untuk proses penggemukan (feedlot).

Kendala tersebut tidak hanya datang dari aspek genetika semata, namun juga dipengaruhi oleh keterbatasan lahan, ketersediaan pakan, serta sistem peternakan rakyat yang sebagian besar masih dikelola secara tradisional.

Untuk memutus rantai ketergantungan tersebut, diperlukan strategi jangka panjang yang terukur dan tidak sekadar mengambil langkah instan. Salah satu solusi yang ditawarkan oleh Prof. Ronny Rachman Noor adalah dengan memperkuat pembibitan sapi asli Indonesia, seperti sapi Bali dan sapi Peranakan Ongole (PO).

Penguatan ini harus dibarengi dengan pengembangan riset genetika (ilmu keturunan) guna menghasilkan bibit unggul yang memiliki produktivitas tinggi namun tetap memiliki daya tahan lokal yang baik.

Selain fokus pada bibit, pemanfaatan sumber daya alam sekitar juga menjadi kunci efisiensi biaya. Pengembangan sistem penggemukan berbasis pakan lokal, seperti penggunaan jagung, singkong, hingga pemanfaatan limbah pertanian, dinilai mampu menekan ongkos produksi peternak.

Langkah ini diharapkan dapat membuat peternakan dalam negeri lebih kompetitif. Prof. Ronny Rachman Noor menegaskan pentingnya konsistensi dalam kebijakan ini dengan menyatakan, “Upaya pengurangan ketergantungan ini memerlukan perencanaan jangka panjang, bukan tindakan instan.”

Pemerintah juga diharapkan terus melakukan diversifikasi (penganekaragaman) sumber impor sembari memberikan dukungan kebijakan yang nyata bagi para peternak lokal.

Dengan dukungan regulasi yang tepat, produksi daging sapi dalam negeri diharapkan dapat tumbuh optimal sehingga kedaulatan pangan dapat dirasakan oleh seluruh keluarga Indonesia tanpa harus merasa khawatir dengan fluktuasi harga global. (Gdi)