WANITAINDONESIA.CO – PINTU Incubator merupakan program kolaborasi terbaik Indonesia – Prancis di bidang mode.
Selain memiliki program unggulan yang berdampak signifikan bagi kreator, pelaku usaha, dan industri, PINTU sukses membangun hubungan, pengalaman serta proses yang dapat membuka kesempatan baru untuk perkembangan industri mode Indonesia.
PINTU dibangun berdasarkan keyakinan bahwa talenta mode memerlukan lebih dari sekedar kreativitas. Mereka juga membutuhkan ruang untuk belajar, memahami proses, memperluas sudut pandang serta menemukan arah yang paling relevan bagi perkembangan karya, dan brand mereka.
Theresia Mareta, Co-Initiator Pintu Incubator, dan Founder Lakon Indonesia menjelaskan, “Pintu tidak dibangun untuk memberikan satu jawaban yang sama kepada setiap peserta, melainkan untuk membantu mereka memulai perjalanan serta pilihannya masing-masing.”
“Kami percaya talenta tidak selalu tumbuh karena diberi lebih banyak jawaban. Seringkali mereka justru berkembang ketika dipertemukan dengan pengalaman, sudut pandang, dan pertanyaan yang tepat.”
“PINTU dibangun sebagai ruang untuk menjalani proses, kekuatan untuk melihat, mengenali kembali, apa yang belum bekerja, dan memahami ke mana sebuah karya ingin dibawa.”
“Karena pada akhirnya, yang kami harapkan bukan hanya lahirnya koleksi terbaik, namun hadir pelaku mode yang terus bertumbuh serta dapat menentukan langkah mereka sendiri, “papar Thres.
Turut berbagi pendapat Soegianto Nagaria, Chairman JF3, & Co-Initiator PINTU Incubator. Soegi menekankan pentingnya ekosistem yang bekerja secara konsisten, dalam mendukung pertumbuhan pelaku mode.
“Sejak awal, JF3 Fashion Festival tidak hanya menyediakan panggung, namun juga menjadi bagian dari proses pertumbuhan pelaku industri. Lewat PINTU, kami membangun ruang yang mempertemukan talenta dengan pengetahuan, mentor, jejaring, pengalaman profesional serta peluang kolaborasi.”
“Karena kami percaya bahwa ekosistem yang kuat harus mampu mendampingi mereka, untuk terus berkembang dalam jangka panjang.”
“Memasuki tahun ke-5 penyelenggaraan, PINTU telah banyak melakukan beragam terobosan kreatif guna memperkuat kolaborasi mode Indonesia dengan Prancis.”
“2026 Yes! Yayasan PINTU Incubator Indonesia
“Di tahun Ke-5 PINTU semakin memperluas pengembangan talenta, kolaborasi internasional, residensi lintas budaya sekaligus memulai proses pembentukan Yayasan PINTU Incubator Indonesia guna memperkuat kolaborasi mode Indonesia – Prancis. Upayanya dilakukan lewat pengembangan talenta, pertukaran pengetahuan, kolaborasi kreatif serta pengalaman lintas budaya,”jelas Soegi.
“Tujuan dibentuknya yayasan agar PINTU Incubator berkelanjutan, solid tidak hanya sekedar platform, lewat PINTU yang terus berkembang semakin besar, tentunya bagi para insan kreatif ada banyak hal, yang bisa kita lakukan, kita dukung, “imbuhnya.
Di tahun 2026 perjalanan tersebut diwujudkan lewat kolaborasi antara brand Indonesia dengan Prancis lewat partisipasi brand Lil Public. Lil Public berpartisipasi di pertunjukan tahunan Ecole Duperre di Paris, awal Juli 2026. Juga dua koleksi PINTU Residency yang dikembangkan lewat riset, dan kolaborasi bersama Komunitas artisan dari Lombok, dan Mojokerto.
Pada penyelenggaraan JF3 Fashion Festival 2026, PINTU Incubator telah menerima
39 pendaftar, kemudian diseleksi menjadi 10 peserta. Para peserta mendapatkan 39 sesi pengembangan kapasitas yang mencakup strategi bisnis, merchandising, pengembangan produk.
Selain itu ada pula teknik komunikasi, hukum, dan kekayaan intelektual. Sesi lainnya berupa ekspor-impor, keuangan, dan styling.
Program melibatkan 18 mentor Indonesia, dan Prancis dengan latar belakang desain, bisnis ritel, hukum, keuangan komunikasi, pemasaran, pengembangan produk, dan industri kreatif.
Setelah melalui rangkaian kelas, mentoring, evaluasi serta kurasi ketat terpilih 5 peserta yang akan mempresentasikan koleksi istimewa mereka, di runway JF3 Fashion Festival 2026. Dua brand tersebut yakni Saul Studio, dan Toja House serta 3 Desainer muda yakni Aldrie, Andrean NR, dan Dacia.
Presentasi mereka dinilai istimewa karena menghadirkan pendekatan yang sangat beragam. Mulai dari eksplorasi konstruksi, dan tailoring, pengembangan aksesori bersama artisan, reinterpretasi tekstil Nusantara.
Juga lewat pendekatan genderless, praktik up-cycling hingga pengembangan produk yang menekankan aspek craftsmanship, inklusivitas serta tanggung jawab dalam proses produksi.
Program Terhubung, Capaian Membanggakan
Beragam program dibuat khusus agar saling terhubung di bawah naungan PINTU, last but not least PINTU Accelerator, program yang memberikan ruang seluas-luasnya untuk kolaborasi.
Pada jalur Accelerator, DENIM ITUP, brand Indonesia mengembangkan
kolaborasi dengan label Prancis, TAREET. Kolaborasi telah mempertemukan dua pendekatan kreatif dalam proses pengembangan koleksi bersama.
Asa kian membuncah manakala brand Lil Public sukses dalam pertunjukan tahunan di Ecole Duperre, Paris, Prancis awal Juli lalu.
Partisipasi tersebut menjadi bagian dari hubungan yang terus berkembang, antara PINTU dengan Institusi Pendidikan Mode Prancis, sekaligus memberikan pengalaman presentasi, dan interaksi bagi brand Indonesia, dilingkup internasional.
Kedua capaian ini membuktikan bagaimana jejaring PINTU dapat membuka ruang bagi kolaborasi, pertukaran pengalaman, dan kemungkinan baru bagi para pelaku mode Tanah Air.
Program istimewa lainnya yakni PINTU Residency. Merupakan ruang bagi dialog kreatif Indonesia dengan Prancis. Tahun ini memasuki penyelenggaraan ke -2. Lewat program Residency yang telah mempertemukan dua Desainer. Mereka akan magang selama 4 bulan dengan mempelajari beragam aspek dari keberadaan wastra Nusantara yang kemudian dialih rupa.
Lewat kurasi ketat oleh Theresia Mareta, Pascaline Wilhelm, dan Carol Meyer Program Residency sukses terselenggara sepanjang April -Juli 2026.
Para peserta menjalani proses riset bersama, mengekplorasi beragam teknik tekstil tradisional, bekerja langsung dengan komunitas artisan serta mengembangkan koleksi lewat pertukaran pengetahuan, dan budaya.
Di daerah Lombok, Desainer Prancis Mickael Nana berkolaborasi dengan Desainer Indonesia, Beatrice Angelica dengan mengembangkan koleksi Garuda. Koleksi spesial untuk JF3 Fashion Festival 2026, memadukan pendekatan tailoring barat dengan tenun, dan songket Lombok.
Hadir interpretasi kontemporer terhadap simbol Garuda sebagai representasi kekuatan, kebebasan, dan identitas.
Sementara dari Mojokerto, Jawa Timur, Lisa Rayar, dan Gabriel Marcella mengembangkan koleksi AU LARGE. Inspirasi dari tradisi maritim Prancis serta budaya pesisir Jawa. Koleksi spesial ini mempertemukan batik dengan struktur tailoring serta referensi seragam dalam siluet kontemporer.
Lebih dari sekedar menghasilkan koleksi, PINTU Residency membangun ruang dialog antara desainer, artisan, material, teknik serta latar budaya berbeda. Kolaborasi menjadi upaya untuk menciptakan proses kreatif yang setara, relevan serta memiliki nilai jangka panjang, bagi semua pihak yang terlibat. (*)

