WANITAINDONESIA.CO — Dunia medis Indonesia kembali mencatatkan langkah progresif dalam penanganan kesehatan saraf melalui penyelenggaraan ajang bergengsi The 1st Bekasi Regional Advancement In Neurology Symposium (BRAINS). Mengusung tema besar “Saving the Brain, Preserving the Mind: From Stroke to Dementia”, acara yang dihelat pada 1 November 2026 di Harris Hotel and Convention Bekasi ini sukses menarik perhatian puluhan dokter dari berbagai rumah sakit pemerintah maupun swasta.
Simposium ini menjadi wadah strategis untuk mengupas tuntas berbagai tantangan klinis terkini, mulai dari langkah pencegahan komprehensif hingga tata laksana penanganan stroke yang cepat dan tepat di era pelayanan kesehatan modern.
Dalam keterangannya, Direktur RS Siloam Bekasi Timur, dr. Luxandre Agung, MARS, memaparkan komitmen kuat rumah sakitnya dalam menghadirkan layanan neurologi unggulan yang telah mendapatkan pengakuan internasional dari European Stroke Organisation dan World Stroke Organisation. Implementasi sistem penanganan kegawatdaruratan code stroke di Siloam Hospitals Bekasi Timur didukung oleh koordinasi lintas disiplin yang solid, melibatkan dokter spesialis saraf, dokter IGD, radiolog, tim farmasi, laboratorium, hingga petugas keamanan rumah sakit. Guna mengantisipasi lonjakan pasien sekaligus mendongkrak mutu pelayanan jangka panjang, manajemen telah merencanakan program perluasan fasilitas dalam satu hingga satu setengah tahun ke depan, yang mencakup penambahan kapasitas tempat tidur, pelipatgandaan area instalasi gawat darurat (IGD), serta penambahan fasilitas kamar operasi modern.
Aspek krusial mengenai penanganan kegawatdaruratan medis turut diperdalam dalam sesi pemaparan bersama dr. Rezy Sesareza, Sp.N, yang menegaskan bahwa stroke merupakan kondisi darurat yang membutuhkan respons super cepat. Batas waktu emas (golden period) penanganan stroke adalah kurang dari 4,5 jam sejak gejala awal dirasakan, sehingga masyarakat diimbau untuk sigap mengenali tanda-tanda utama seperti kelumpuhan pada separuh tubuh, bicara pelo atau cadel, serta wajah mencong sebelah, dan langsung meluncur ke IGD rumah sakit terdekat tanpa membuang waktu pada pengobatan alternatif yang tidak teruji.
Hipertensi terbukti menjadi pemicu utama kejadian ini, sementara fenomena medis terkini menunjukkan adanya tren peningkatan kasus stroke di kalangan usia muda, termasuk para pemain gim profesional atau gamer. Kebiasaan buruk seperti begadang berhari-hari demi turnamen, pola makan tidak teratur, kelebihan berat badan hingga melampaui 120 kilogram, serta kondisi medis khusus seperti lupus yang memicu peningkatan kekentalan darah, menjadi faktor pemicu kerentanan fungsi otak di usia produktif.
Di sisi lain, dr. Tranggono Yudo Utomo, Sp.N, M.Si.Med, FINA dari PERDOSNI menjelaskan kolaborasi lintas profesi terus digencarkan untuk menekan angka kesakitan akibat gangguan saraf tepi atau neuropati. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) aktif mengedukasi masyarakat dan dokter di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) mengingat sebagian besar kasus kesemutan, kebas, dan rasa terbakar pada anggota tubuh dipicu oleh diabetes yang tidak terkontrol. Faktor risiko neuropati dan stroke kini semakin luas, di mana merokok yang dulunya dianggap sebagai faktor risiko minor telah bergeser menjadi faktor risiko mayor, berdampingan dengan kurangnya aktivitas fisik, obesitas, dan hipertensi. Edukasi kesehatan ini didorong hingga tingkat akar rumput melalui RT dan RW agar masyarakat memahami jalur rujukan yang tepat dari faskes pertama menuju rumah sakit tipe C atau B.
Mengingat stroke menduduki posisi sebagai penyebab kematian nomor dua di Indonesia dan penyebab kecacatan nomor satu di dunia, pemahaman mengenai jenis dan tata laksana medis menjadi sangat vital. Stroke terbagi menjadi dua jenis utama, yakni hemoragik akibat pendarahan dan iskemik akibat penyumbatan. Untuk jenis iskemik, pemberian obat alteplase dalam golden period 4,5 jam mampu memulihkan pasien yang semula mengalami kelumpuhan total, sementara penanganan lanjutan menggunakan metode mechanical thrombectomy dapat dilakukan hingga batas waktu 24 jam di rumah sakit rujukan utama. Sebagai penunjang pemulihan, penderita dianjurkan menerapkan pola makan wajar secara proporsional (in moderation) tanpa melakukan pantangan ekstrem terhadap daging, telur, atau ayam, karena sel-sel otak memerlukan asupan nutrisi lengkap, yang diimbangi dengan pemenuhan waktu tidur berkualitas antara enam hingga delapan jam setiap malam untuk menjaga kestabilan hormon serta tekanan darah. (Des)

