
WANITAINDONESIA.CO – Bayangkan seorang ibu di pelosok desa terpencil tak perlu lagi menempuh jarak berkilo-kilo meter hanya untuk memastikan detak jantung buah hatinya. Melalui inovasi bertajuk “Detect Me”, harapan baru bagi kesehatan ibu dan janin di Indonesia mulai bersemi, membawa kehangatan teknologi langsung ke ruang tamu keluarga.
Lahir dari kolaborasi hebat tujuh institusi Indonesia dan Australia dalam proyek ULTRALIGHT, “Detect Me” bukan sekadar alat medis. Ini adalah pendamping mandiri bagi ibu hamil. Cukup digunakan di rumah, alat ini akan mengirimkan data kondisi janin secara real-time (pemantauan langsung saat itu juga) kepada bidan desa melalui aplikasi ponsel. Jika ada anomali (kelainan atau ketidaknormalan), intervensi medis bisa dilakukan secepat kilat.
“Ada budaya di mana ibu hamil biasanya hanya menunggu dilayani. Kini, mereka diajak untuk berdaya dengan memegang kendali atas kesehatan mereka sendiri,” ungkap Restuning Widiasih, peneliti utama dari Universitas Padjadjaran, saat berbagi cerita di ajang IDE Katadata Future Forum 2026, Rabu (15/4).
Menariknya, teknologi ini membawa dampak manis bagi keharmonisan keluarga. Restuning mencatat bahwa ketika alat ini ada di rumah, para suami yang biasanya ‘cuek’ tiba-tiba menjadi sosok siaga. Mereka membantu mengoperasikan alat, antusias melihat data, hingga lebih peduli pada perkembangan janin di rahim sang istri.
Meski tantangan infrastruktur digital masih membayangi, optimisme tetap membubung tinggi. Tim ULTRALIGHT kini tengah merancang masa depan di mana perangkat ini tampil dalam bentuk chip yang super ringan (ultralight). Harapannya sederhana namun mendalam: agar setiap ibu di pelosok negeri merasa tenang karena ada detak jantung yang terjaga, meski jarak ke puskesmas jauh di mata.
Randy Teguh, Ketua Umum Himpunan Pengembangan Ekosistem Alat Kesehatan Indonesia (HIPELKI), melihat Detect Me dengan mata yang realistis namun optimistis.
“Inovasi seperti ini menarik untuk masuk ke pasar pemerintah karena efisien. Tapi ada paradoks bisnis: harga murah belum tentu laku,” katanya. Ia mengingatkan bahwa pada 2014, alat serupa pernah dikembangkan di Indonesia — namun hak kekayaan intelektualnya malah dibeli perusahaan asing untuk dikembangkan di Afrika.
Namun Randy menegaskan: “Momentumnya sekarang berbeda.” Dalam konteks kebijakan kesehatan nasional yang semakin serius menargetkan penurunan angka kematian ibu, Detect Me hadir di waktu yang tepat.
Yang membedakan Detect Me dari inovasi kesehatan lainnya adalah kesadaran para pengembangnya bahwa alat saja tidak cukup.
“Detect Me tidak ada dampaknya kalau tidak ada kolaborasi,” tegas Restuning.
Visi ke depannya: sistem ini bisa berjalan otomatis, tidak bergantung penuh pada pemantauan manual tenaga kesehatan. Integrasi dengan ekosistem kesehatan pemerintah, dari puskesmas hingga sistem pelaporan nasional, menjadi kunci agar inovasi ini benar-benar berskala.
Dalam peta jalan pengembangan berikutnya, tim ULTRALIGHT ingin membuat perangkat yang lebih ringkas, bahkan dalam bentuk chip, agar benar-benar sesuai namanya: ultralight. Ringan di tubuh, ringan di pikiran, tapi berat dampaknya.
Proyek ULTRALIGHT sendiri merupakan kolaborasi lintas institusi yang melibatkan Universitas Padjadjaran, ITB, Telkom University, Poltekkes Kemenkes Kupang, RS Hasan Sadikin, hingga University of Newcastle Australia. (gdn)




