WANITAINDONESIA.CO — Menjalani kehidupan lintas benua sebagai istri, ibu, sekaligus perancang busana bukanlah perkara mudah. Namun bagi Oewi Wahyono, desainer di balik jenama Nura Boutique, perjalanan hidup selama 32 tahun di Jeddah, Arab Saudi, adalah sebuah proses pendewasaan, pencarian estetika rancangan, serta bentuk pengabdian keluarga yang penuh makna.
Dengan dua buah hati yang kini tumbuh mandiri dan meniti karier di London, Oewi membagikan kisah tentang prinsip parenting, proses kreatif di dunia fashion, hingga kesiapannya untuk soft landing kembali ke Tanah Air.
Ia mulai menekuni dunia mode secara profesional sejak mendirikan Nura Boutique pada tahun 2014. Setelah melalui berbagai dinamika bisnis, namanya kian dikenal dalam industri busana Muslimah dan olah batik khas Indonesia.
Ciri khas utama dari rancangan Oewi Wahyono berakar kuat pada kekayaan wastra Nusantara. Desainer berdarah Solo ini berani mengawinkan keagungan kain tradisional Indonesia dengan gaya busana khas Timur Tengah.
Salah satu karya ikoniknya adalah konsep Nurbaya sebuah akronim dari Nur (Cahaya, yang dimaknai lewat motif batik Truntum berbentuk bintang/bunga kecil) dan Baya (Abaya).
”Konsepnya memadukan batik tradisional Indonesia dengan gaya berbusana orang Saudi, yaitu abaya style. Potongannya ala jubah dengan permainan bahan yang berkualitas, sehingga memberikan kesan mewah, feminin, elegan, dan internasional,” jelas Oewi.
Tak hanya batik, kebiasaan berbelanja bahan di Jeddah turut membentuk karakter karyanya. Toko-toko di Saudi menyajikan detail pelengkap seperti batu kristal berukuran besar serta renda mewah secara grosir. Sentuhan aksen batu kristal dan sentuhan Prada pada kain batik menjadikan setiap karya Nura Boutique tampil penuh (deluxe), elegan, namun tetap santun.
Meskipun berfokus pada busana Muslim, rancangan Oewi tergolong fleksibel. Siluetnya dirancang serbaguna sehingga tetap anggun dikenakan, baik oleh perempuan berhijab maupun non-hijab.
Di balik kemewahan rancangan wastranya, Oewi senantiasa menanamkan kerendahan hati dan prinsip hidup yang kuat kepada anak-anaknya.
Kedua anaknya tumbuh dalam lingkungan yang sangat sistematis dan rasional, hingga lebih fasih berbahasa Inggris dan berbicara bahasa Indonesia dengan logat layaknya warga asing. Kendati demikian, Oewi tetap membumikan akar tradisi dan nilai spiritual di rumah.
”Kalau hanya berpikir secara logika, batasannya sebatas dunia. Saya selalu ingatkan anak-anak: mau jadi apa pun kamu, kalau lupa salat dan tidak jadi orang baik, you are nothing. Tetap harus humble,” tegasnya.
Pola asuh ini membentuk kemandirian dan rasa hormat yang tinggi pada anak-anaknya. Putra pertamanya, misalnya, sangat segan jika harus meminta uang kepada orang tua secara mendadak. Jika sedang terdesak, sang putra akan meminta izin secara sopan: “Mah, excuse me Mah, aku boleh enggak pinjam uang?”
Selain itu, setiap kali berkunjung ke Indonesia, Oewi kerap mengajak anak-anaknya turun langsung membagikan makanan pada kegiatan Jumat Barokah atau bersedekah kepada hewan. Langkah kecil ini ia lakukan agar empati dan kepedulian sosial terus bertumbuh dalam diri mereka.
Menetap selama lebih dari tiga dekade menjadikan Saudi sebagai rumah kedua bagi Oewi. Namun, seiring dengan dinamika aturan baru seperti pemberlakuan pajak keluarga dan peningkatan biaya hidup, keinginan untuk kembali dan menetap (for good) di Indonesia kian dimatangkan.
Sebagai langkah persiapan masa pensiun sang suami, Noor Wahyono, pasangan ini merancang unit bisnis di Indonesia sebagai bentuk soft landing.
”Suami saya tipe pekerja keras yang sejak kuliah tidak pernah ada jeda mendadak menganggur. Jadi bisnis ini dirancang agar saat menetap di Indonesia nanti, pikiran tetap sehat dan ada aktivitas. Saya juga akan lebih fokus membenahi lini busana dan menyiapkan second line yang lebih daily serta terjangkau,” ungkap Oewi optimis.
Bagi Oewi Wahyono, pertambahan usia bukanlah alasan untuk berhenti berkarya. Ia menutup perbincangan dengan sebuah pesan penuh inspirasi:
”Usia biarlah berjalan karena tidak bisa kita hindari. Tetapi berkarya, berpikir aktif, dan mengejar mimpi harus tetap berjalan selagi kita mampu dan diberikan kesempatan oleh Allah SWT.” (Des)

