WANITAINDONESIA.CO – Indonesia dinilai selangkah lebih maju dalam pendidikan kader ulama Perempuan. Atas dasar itu, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar meyakini, Indonesia menjadi pionir global pendidikan kader ulama Perempuan.
Demikian dikemukakan Menag Nasaruddin saat membuka International Short Course 2026 di Masjid Istiqlal, Jakarta.
Ia memaparkan, keberhasilan Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) dalam mencetak ulama perempuan tingkat dunia. Salah satunya menyangkut terobosan strategis PKUMI yang dijalankan bersama Universitas PTIQ Jakarta, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta LPDP Kementerian Keuangan.
PKUMI merupakan satu-satunya institusi di dunia yang fokus menyiapkan ulama perempuan pada jenjang magister dan doktor.
“Indonesia menjadi pionir global dalam menyelenggarakan pendidikan kader ulama perempuan secara terstruktur. Model yang kita kembangkan di PKUMI ini bahkan mendorong para akademisi dan ulama perempuan dari Mesir untuk datang berguru, karena mereka berniat mereplikasi program serupa di Universitas Al-Azhar, Kairo,” kata Nasaruddin, Senin (2/11/2026).
Nasaruddin menjelaskan, kaderisasi di PKUMI juga diperkuat dengan jaringan akademik internasional. Saat ini, sekitar 100 mahasiswa PKUMI sedang menempuh riset di Amerika Serikat. Adapun luluhan mahasiswa lainnya mengikuti program intensif di Universitas Al-Azhar.
Lebih lanjut, Nasaruddin mengatakan, keberadaan ulama perempuan yang terhimpun dalam jaringan seperti KUPI berhasil mengubah paradigma lama yang memposisikan perempuan sekadar sebagai objek kajian. Kehadiran mereka membuktikan perempuan mampu memproduksi pengetahuan keagamaan dan merumuskan hukum Islam yang responsif terhadap realitas sosial.
Melalui metodologi dan konsepsi seperti mubadalah (kesalingan), keadilan hakiki, serta maqasid al-shariah, para ulama perempuan mampu menjawab isu-isu kontemporer tanpa merusak tradisi klasik.
“Proses regenerasi ulama perempuan di Indonesia memperkaya sudut pandang yang selama ini didominasi ulama laki-laki. Otoritas mereka dalam merumuskan fatwa dan panduan etis menjadikan khazanah keilmuan Islam jauh lebih utuh dan komprehensif,” kata dia.
Besarnya dampak gerakan ini mendorong Kementerian Agama untuk memberikan dukungan afirmasi secara berkelanjutan. Menag Nasaruddin mendorong perluasan sinergi antara perguruan tinggi, pesantren, jaringan media, hingga ruang dialog antariman agar narasi ulama perempuan semakin berdaya di tingkat nasional maupun internasional.
Sementara, Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Ketua LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Amelia Fauzia menyampaikan, International Short Course 2026 akan berlangsung dari 2 – 9 November 2026.
Selama delapan hari itu, para peserta akan mengikuti perkuliahan, diskusi interaktif, serta pembelajaran lapangan. Para peserta dan peneliti internasional juga dijadwalkan menginap di Pesantren Kebon Jambu, Cirebon, untuk menyerap secara langsung tradisi keilmuan dan kepemimpinan ulama perempuan di basis masyarakat.
“Kami ingin mengajak peserta memahami bagaimana ajaran Islam ditafsirkan dan diwujudkan dalam aksi nyata, mulai dari penegakan keadilan gender, bina damai (peacebuilding), hingga pelestarian lingkungan,” kata Amelia.
Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ali Munhanif turut buka suara. Dia menyambut positif kolaborasi lintas lembaga dan negara ini.
Ali mengapresiasi pemikiran Menag Nasaruddin Umar yang sejak lama konsisten mendorong pembaharuan pemahaman keagamaan terkait hak-hak perempuan.
“Program ini memberikan kesempatan bagi peserta mancanegara untuk menyaksikan secara langsung bagaimana tradisi pesantren dan masyarakat Muslim tradisional di Indonesia mampu merawat khazanah klasik sekaligus memegang teguh komitmen kesetaraan di ruang publik,” ujar Ali menambahkan. (yud)

