Site icon Wanita Indonesia

Selamatkan Satwa Langka, Indonesia-Inggris Jajaki Pembiayaan Hijau Baru

Induk gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) bernama Ria dengan anaknya di TN Tesso Nilo, Riau, Rabu (10/6/2026). HO-Kemenhut.

WANITAINDONESIA.CO – Hutan-hutan tropis Nusantara yang rimbun bukan sekadar hamparan hijau di atas peta, melainkan rumah bagi jutaan nyawa dan spesies unik yang tidak ditemukan di belahan bumi lain. Menjaga kekayaan alam yang begitu megah ini tentu bukan perkara mudah dan tidak bisa dilakukan sendirian. Sebuah langkah besar baru saja dirajut di belahan dunia lain, membawa angin segar bagi masa depan paru-paru dunia dan satwa-satwa ikonik yang mendiaminya.

Langkah konkret ini lahir dari komitmen bersama antara Pemerintah Indonesia dan Inggris yang sepakat menindaklanjuti penguatan kerja sama di bidang konservasi alam. Kerja sama strategis ini berfokus pada perlindungan keanekaragaman hayati serta pencarian model pembiayaan berkelanjutan bagi kawasan lindung di tanah air.

Kesepakatan penting tersebut dimatangkan dalam sebuah pertemuan bilateral (bilateral meeting) antara Menteri Kehutanan (Menhut) RI Raja Juli Antoni dengan Perwakilan Khusus Inggris Bidang Alam Ruth Davis. Pertemuan tingkat tinggi ini menjadi salah satu agenda krusial dalam rangkaian Pekan Aksi Iklim London (London Climate Action Week) yang digelar di London, Inggris, pada awal pekan ini.

Dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta pada Rabu, Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni menjelaskan bahwa kedua belah pihak secara intensif membahas perkembangan implementasi Satuan Tugas (Satgas) Konservasi Bentang Alam dan Spesies Ikonik. Satgas ini dibentuk berdasarkan payung hukum Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2026 yang mengemban mandat besar. Beberapa di antaranya adalah memperkuat lini konservasi, memobilisasi pembiayaan inovatif, mendukung pencapaian target penyerapan karbon bersih sektor kehutanan dan tata guna lahan (Forestry and Other Land Uses Net Sink/FOLU Net Sink) 2030, serta membangun model pengelolaan kawasan konservasi yang ramah lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kehutanan memberikan apresiasi tinggi atas komitmen jangka panjang Pemerintah Inggris. Dukungan awal senilai 2 juta poundsterling yang telah diumumkan pada April lalu menjadi bukti nyata keseriusan mitra global dalam menjaga ekosistem Indonesia.

“Indonesia telah memiliki landasan hukum yang kuat serta dukungan politik pada tingkat tertinggi untuk memperkuat konservasi alam. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan mandat tersebut menjadi reformasi kebijakan, proyek percontohan yang dapat direplikasi, dan hasil konservasi yang terukur bagi masyarakat maupun lingkungan,” ujar Raja Juli Antoni dengan penuh penekanan.

Satu hal yang ditegaskan oleh Menhut agar tidak terjadi salah paham di tengah masyarakat adalah mengenai model pembiayaan inovatif ini. Skema pendanaan eksternal tersebut murni bersifat melengkapi anggaran pemerintah, dan sama sekali bukan bentuk komersialisasi sepihak atau privatisasi taman nasional. Seluruh tata kelola yang dirancang akan tetap memegang teguh prinsip keterbukaan, pertanggungjawaban (akuntabilitas), keutuhan ekologis (integritas ekologis), serta memberikan manfaat yang adil dan merata bagi masyarakat lokal di sekitar kawasan hutan.

Menariknya, pertemuan ini juga mengupas tentang proyek percontohan masa depan bernama Inisiatif Konservasi Gajah Peusangan (Peusangan Elephant Conservation Initiative/PECI). Model ini dirancang secara terintegrasi untuk melindungi spesies kunci seperti gajah, sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat setempat lewat kucuran investasi jangka panjang.

Saat ini, Indonesia sendiri memiliki 57 taman nasional dengan bentang luas mencapai hampir 18 juta hektare yang menjadi benteng pertahanan terakhir bagi ekosistem penting dunia. Kesenjangan dana yang selama ini menjadi tantangan klasik dicoba diurai melalui kombinasi pendanaan campuran (blended finance), lembaga filantropi, hingga pembiayaan publik yang disesuaikan dengan karakter unik setiap kawasan.

“Indonesia dan Inggris sepakat untuk terus memperkuat dialog serta menjajaki berbagai peluang kerja sama konkret guna mendukung pengelolaan kawasan lindung yang efektif, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkas Raja Juli Antoni.

Kolaborasi lintas negara ini memberikan secercah optimisme bahwa perlindungan lingkungan dan kesejahteraan manusia bisa berjalan beriringan. Menjaga kelestarian alam bukan lagi sekadar kewajiban moral, melainkan investasi masa depan. Ketika dunia mulai bergerak bersama mengamankan setiap jengkal hutan dan satwa di dalamnya, kini giliran kita untuk ikut peduli dan memastikan warisan hijau ini tetap utuh bagi generasi yang akan datang. (Gdi)

Exit mobile version