Saatnya Perpustakaan Tak Lagi Sekadar Gudang Buku

Seorang anak tengah mencari buku di salah satu perpustakaan.

WANITAINDONESIA.CO – Di tengah kepungan arus informasi digital yang serba instan, sebuah pertanyaan besar menyeruak dalam benak kita: masihkah perpustakaan memiliki tempat di hati masyarakat modern? Selama hampir setengah abad berdiri, lembaga yang kerap dijuluki sebagai lumbung ilmu ini kini berada di persimpangan jalan, antara tetap menjadi penjaga tradisi atau bertransformasi menjadi pusat peradaban yang memartabatkan bangsa.

Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia, E. Aminudin Aziz, melontarkan refleksi mendalam mengenai relevansi institusi ini setelah 46 tahun melayani masyarakat. Beliau menegaskan bahwa perpustakaan tidak boleh lagi dipandang hanya sebagai tempat penyimpanan buku yang sunyi, melainkan harus menjadi entitas hidup yang aktif merawat martabat bangsa melalui pemanfaatan pustaka yang dinamis.

Baca Juga :  Systemiq Luncurkan Buku Tentang Sistem Pengelolaan Sampah Yang Efektif

“Yang menjadi pertanyaan besar, selama 46 tahun berdiri, apakah benar perpustakaan masih diperlukan masyarakat? Masih menjadi tumpuan ilmu pengetahuan? Apakah masih benar perpustakaan adalah hakikat lumbung pengetahuan itu sendiri?” ujar Aminudin Aziz dengan nada reflektif saat berbicara di Jakarta, Selasa.

Bagi beliau, upaya merawat pustaka adalah sebuah kerja panjang yang menuntut kesabaran, tenaga, dan pemikiran yang terus berkembang agar selaras dengan kebutuhan zaman. Kehadiran perpustakaan di era sekarang bukan sekadar tentang deretan rak kayu, melainkan sebuah tekad sekaligus tantangan besar untuk menjaga identitas dan kualitas intelektual generasi masa depan Indonesia.

Baca Juga :  Bicara Enak, Catatan Ronni Waluya Selama 3 Dekade di Industri Hiburan

Senada dengan hal tersebut, Kepala Pusat Pembinaan Pustakawan Perpusnas, Agus Sutoyo, memandang bahwa tantangan literasi di tanah air merupakan persoalan kompleks yang tidak bisa diselesaikan secara parsial (terpisah-pisah). Diperlukan sinergi (kerja sama) lintas sektor untuk memastikan setiap bahan pustaka di seluruh penjuru negeri tetap terawat dan mudah diakses oleh siapa saja.

Agus Sutoyo merumuskan lima sasaran strategis, mulai dari mengidentifikasi peran perpustakaan dalam pembangunan nasional, menggali kontribusi industri penerbitan, hingga memperkuat perspektif akademik berbasis riset (penelitian). Sinergi ini diharapkan mampu menghidupkan kembali khazanah (kekayaan) budaya nasional yang tersimpan dalam lembaran buku agar tetap relevan bagi kemajuan bangsa.

Baca Juga :  Prilly Latuconsina Hadirkan Buku Perjalanan Emosional yang Menjadi Cultural Moment

“Persoalan literasi tidak dapat diselesaikan dari satu sudut pandang saja,” tegas Agus Sutoyo mengingatkan pentingnya kolaborasi.

Pada akhirnya, setiap buku yang tersimpan dan dibaca adalah sepotong marwah yang kita jaga untuk anak cucu. Perpustakaan adalah cermin dari seberapa besar kita menghargai sejarah dan seberapa jauh kita berani bermimpi tentang masa depan. Di antara aroma kertas tua dan hangatnya sapaan pustakawan, tersimpan janji untuk terus merawat akal sehat dan nurani, karena sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah membiarkan lumbung pengetahuannya menjadi sunyi dan berdebu. (Gdi)