WANITAINDONESIA.CO – Memasuki usia kepala tiga sering kali dianggap sebagai fase kematangan hidup, namun di balik itu, tubuh manusia mulai menghadapi alarm sunyi yang jarang disadari. Tanpa intervensi yang tepat, kekuatan fisik perlahan menyusut seiring berkurangnya massa otot dan kepadatan tulang yang terjadi secara alami.
Fenomena penurunan kondisi fisik ini menjadi perhatian serius bagi Dokter Spesialis Bedah Ortopedi, Dr. Manan Vora. Melansir laporan dari Hindustan Times, praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi masyarakat ini menjelaskan bahwa hilangnya massa otot secara bertahap setelah usia 30 tahun, atau yang dikenal dengan istilah sarkopenia (sarcopenia), merupakan ancaman kesehatan laten yang kerap diabaikan.
“Dokter sering kali mengingatkan Anda untuk makan dan tidur dengan baik, tetapi mereka biasanya melewatkan hal ini. Setelah usia 30 tahun, tubuh Anda mulai kehilangan otot tanpa disadari. Kehilangan otot ini juga memperlambat metabolisme Anda,” ungkap Dr. Manan Vora memperingatkan.
Lebih lanjut, Dr. Manan Vora memaparkan dampak domino dari penurunan fungsi ini terhadap sistem peretabolisan tubuh. Otot memegang peran yang sangat krusial dalam mengatur kadar glukosa di dalam darah. Ketika massa otot menyusut, tubuh akan kesulitan mengontrol glukosa secara efektif, sehingga menyebabkan pembakaran kalori melambat. Akibatnya, seseorang dapat mengalami kenaikan berat badan secara drastis meskipun porsi makan yang dikonsumsi tidak berubah.
Kondisi tersebut diperparah dengan risiko pengeroposan tulang atau osteoporosis (osteoporosis) yang mengintai seiring bertambahnya usia. Tulang akan menjadi lebih tipis dan rapuh tanpa memberikan gejala awal yang nyata. Banyak orang baru menyadari gangguan ini setelah mengalami cedera patah tulang akibat benturan ringan atau terjatuh.
Guna memutus rantai penurunan fungsi tubuh tersebut, Dr. Manan Vora menyarankan langkah strategis berupa latihan beban atau latihan kekuatan (strength training). Latihan ini terbukti efektif untuk merangsang pertumbuhan otot kembali sekaligus memperkokoh struktur tulang. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa olahraga tersebut harus memberikan tantangan nyata pada otot dan bukan sekadar rutivitas ringan tanpa beban yang berarti.
Memulai latihan beban dapat dilakukan pada usia berapa pun dan dari tingkat kebugaran apa pun, asalkan dilakukan di bawah pengawasan tenaga profesional demi menjaga keselamatan. Langkah disiplin ini bukan lagi soal estetika atau penampilan visual semata di tempat kebugaran, melainkan sebuah investasi jangka panjang agar tubuh tetap dapat bergerak aktif, mandiri, dan berfungsi optimal hingga usia senja.
Menua adalah kepastian, namun menjadi lemah di usia matang adalah pilihan yang bisa dihindari. Melalui komitmen untuk terus melatih kekuatan fisik sejak dini, setiap individu tengah membangun benteng pertahanan terbaik bagi kesehatan masa depannya, memastikan setiap langkah di masa tua tetap tegak dan penuh energi. (Gdi)





