Site icon Wanita Indonesia

Saat Tun M Berduka, Air Mata Jadi Simbol Kehilangan & Kerinduan

Romansa Cinta Tun M & Tun Siti Hasmah banyak menginspirasi masyarakat Malaysia, bumi negeri jiran serasa runtuh ketika romansa indah itu harus terlepas buhulnya, Tun Siti Hasmah berpulang di usianya yang ke -100 Tahun. (Foto: Dokumentasi Tun Siti Hasmah.)

WANITAINDONESIA.CO — Dunia mengenang kisah cinta romantis antar dua anak manusia.

India memiliki pasangan romantis yang kisah cintanya abadi Maharaja Mughal Syah Jahan dan isterinya Mumtaz Mahal, tak kalah menggetarkan Indonesia lekat dengan cerita cinta Prof. Dr.H.C BJ. Habibie, Dipl Ing, – Dr.dr. Hasri Ainun Besari, dan rakyat Malaysia memiliki Dr.Tun Mahathir Mohamad (Tun M) dengan Dr.Tun Siti Hasmah Mohamad Ali.

Negara jiran Malaysia baru saja kehilangan wanita terbaik mereka, Dr. Tun Siti Hasmah.
Sosok perempuan cerdas berhati mulia, wafat di Institut Jantung Negara di Kuala Lumpur, Senin, 28 September 2026, sekira pukul 09.20 waktu Kuala Lumpur, dalam usia 100 tahun!

Kisah cinta yang mengharu-biru bersama suaminya Dr. Tun, hadir di sepanjang usia perkawinan mereka yang genap di hitungan 70 tahun. Hingga kemudian takdir mengharuskan dirinya pergi, meninggalkan belahan jiwanya, menghadap Rabb-Nya.

Keluarga besar Tun M beserta rakyat Malaysia sedang berkabung atas wafatnya mendiang Tun Siti Hasmah. Perempuan cerdas Bumi Melayu ini mampu membuktikan jati diri wanita Melayu yang memiliki cita-cita tinggi serta mampu mewujudkannya dengan meraih gelar dokter pertama untuk perempuan Malaysia.

Layaknya wanita yang berperan multitasking, ia adalah sosok istri serta ibu yang hebat bagi keluarga kecilnya. Juga akan selalu dikenang karena dirinya memiliki konsen tinggi terhadap kesehatan serta kesejahteraan masyarakat Malaysia, khususnya kaum ibu, anak-anak, dan orang papa

Walau lekat dengan kebersamaan di banyak momen, di mana ada Mahathir selalu hadir istrinya, menurut pengakuan Tun Siti Hasmah mereka bukanlah pasangan romantis yang sering diceritakan di film-film maupun novel.

“Mahathir bukan sosok pria romantis yang terampil mengungkapkan perasaannya. Katakan dia membawa buket bunga atau secara khusus mengajak dinner berdua. Saya suka tak tahan dengan perilakunya yang jauh dari kesan romantis itu, “jelas Tun Siti Hasmah.

Sedangkan Mahathir meluapkan perasaannya ihwal kebiasaan istrinya. “Siti Hasmah merupakan wanita yang sangat memperhatikan penampilan. Hal ini kerap membuat saya harus menunggu sedikit lama, agar bisa hadir ke sebuah majelis. Padahal saya kan merupakan orang yang tepat waktu.”

“Di awal kehidupan rumah tangga kami, saya kerap berkelahi (bertengkar) dengannya, karena sifatnya itu tak pernah berubah. Lambat-laun Bapak modernisasi Malaysia ini memaklumi kebiasaan istrinya tersebut.

Dari perbedaan perilaku, pasutri yang dianugerahi oleh lembaga rekor di Malaysia, sebagai pasutri mantan Perdana Menteri yang lama memerintah serta rekor sebagai mantan Perdana Menteri yang dikarunia umur panjang, dari pasangan serasi ini ada semacam ikhtibar bagi keturunan mereka maupun masyarakat Malaysia.

Tun M berfilosofi, “Cinta yang bertahan, bukanlah karena kedua manusia itu sempurna. Tetapi karena mereka belajar untuk menerima perbedaan.”

“Bersedia, ikhlas menerima kekurangan masing-masing. Tak sibuk untuk mengubah pasangan seperti apa yang dia inginkan.”

“Mencintai itu mudah, namun menerima seseorang dengan apa adanya itu memerlukan seni, yang hadir dari ketulusan hati.”

Tak ada tanda maupun firasat sebelum Almh. Tun Siti Hasmah berpulang karena penyakit jantung, sempat ucapkan terima kasih kepada dokter serta juru rawat yang telah sudi, ikhlas merawat dirinya, dan suami. (Foto: Dokumentasi Tun M.)

Tumbuhkan Sifat Romantis Berpelukan di Depan Publik

Sementara Tun Siti Hasmah berusaha menerima sikap Tun M yang bukanlah sosok pria romantis. Namun wanita utama di Malaysia Raya ini punya taktik jitu, agar suaminya itu mau menunjukkan sifat romantisnya.

Di sebuah majelis, Tun Siti Hasmah tiba-tiba memeluk Mahathir dengan erat, sementara Mahathir mukanya merona merah. Sembari meronta lemah, dia berusaha untuk melepaskan kedua tangan isterinya. Namun hadirin bersorak, berteriak kecil menyemangati Mahathir untuk balas memeluk istrinya itu.

Masih dengan gestur badan menolak serta ekspresi wajah menahan geli serta malu, Mahathir kemudian memeluk sembari menepuk-nepuk pundak istri terkasihnya itu. Endingnya air mata haru langsung menetes dari kedua mata indah Tun Siti Hasmah.

Walau diklaim tak romantis, Mahathir kerap menunjukan perhatian khusus untuk istrinya.
Dalam banyak kesempatan, Mahathir kerap memberikan perhatian lewat caranya.

Saat Tun M berada di sebuah majelis, dan dia tak melihat istrinya. Mahathir berkata, “Di mana istri saya? Pun ketika sedang duduk sembari menyantap sajian. Mereka kompak saling menyuapi bergantian.

Dalam banyak momen, pasutri yang turut andil dalam pembangunan serta kemajuan Malaysia ini kerap bergandeng tangan.

Selain dikenal cerdas, wanita yang menjadi role model perempuan negara jiran ini memiliki ketrampilan bermain alat musik biola, dan piano. Tun Siti Hasmah kerap menunjukkan kemahirannya itu di depan orang banyak, khususnya keluarga.

Dengan bermusik, perempuan pertama Malaysia yang mengenyam pendidikan kedokteran di luar negeri, mampu membangun kehangatan dalam sebuah ruang. Menghadirkan suasana romantis, spirit serta hiburan yang sulit dilupakan oleh circlenya.

Banyak generasi muda Malaysia yang meminta doa, petunjuk serta saran dari Tun Siti Hasmah agar rumah tangga mereka langgeng, tanpa gelombang kehidupan. (Foto: Dokumentasi Tun Siti Hasmah.)

Membacakan Buku untuk Istrinya

Walau tak seromantis pasangan di film, Tun Mahathir menunjukkan rasa cinta kepada wanita yang dinikahinya pada 5 Agustus 1956 lewat perilaku serta tindakan.

Di saat kondisi kesehatan mata Tun Siti Hasmah menurun, dokter yang merawatnya menyarankan agar dia tak lagi membaca. Hal ini jelas sangat menyiksa. Baginya buku adalah “suluh” serta “sarapan” untuk jiwa yang harus ada serta tak akan terpisahkan dari hidupnya.

Melihat kondisi istrinya itu, Tun M segera melakukan inisiatif dengan membacakan buku yang diinginkan belahan jiwanya. Dia akan bertanya dengan lembut judul buku serta berdiskusi bab berapa yang hendak dibacakan. Berikutnya Tun akan membaca dengan suara lembut serta intonasi yang jelas.

Walau mereka selalu bersama, ada masanya mereka terpisah. Tak kala Tun M harus berpergian seorang diri dengan pesawat, ada momen haru, Tun Siti Hasmah setia pada tradisi menghantarkan belahan jiwanya itu.

Usai berpelukan sembari saling mendoakan, Tun Siti Hasmah akan mencari posisi strategis, agar nanti saat pesawat yang membawa suaminya mengudara, dia bisa melambai-lambaikan tangannya selayaknya anak kecil zaman dahulu. Setelah itu dia baru merasa lega, kemudian pulang.

Rakyat Malaysia sudah pasti berbangga memiliki pemimpin yang peduli kepada rakyatnya. Tak hanya mengumbar jargon, janji, kemudian setelah terpilih lalu melupakan.

Tun M merupakan pemimpin yang amanah. Sanggup memikul tanggung jawab, mampu menunjukkan bukti nyata dari banyak kerja-kerja cerdas. Sosoknya disegani serta berjaya membawa Malaysia menjadi bangsa besar di Asia.

Salah satu bukti ketika krisis ekonomi global melanda 1998, Tun M merupakan satu-satunya pemimpin dunia yang tak tertarik untuk berhutang ke Bank Dunia. Alasannya ia tak ingin menjerumuskan diri serta rakyat Malaysia ke dalam perbuatan yang dibenci Allah yakni riba.

Lewat keilmuan serta seni memimpin yang dikuasai, Malaysia tak butuh lama untuk bangkit dari keterpurukan, dampak dari krisis ekonomi global.

Setelah istrinya wafat, kisah cinta kedua pasangan ideal Malaysia ini kerap disandingkan masyarakat Indonesia & Malaysia layaknya pasangan Habibie -Ainun.

Sejarah mencatat awal pertemuan hingga muncul benih-benih cinta bermula saat pertama mereka menempuh pendidikan di King Edward VII College of Medicine, di Singapura.

Dimasanya, Tun Siti Hasmah merupakan satu-satunya mahasiswi yang banyak diperebutkan oleh teman-teman sekampusnya. Tutur katanya lembut. Wanita berparas manis ini trampil merangkai kata lewat buah pemikiran bernas. Walaupun lembut nada bicaranya terdengar tegas. Dia dikenal memiliki perhatian lebih kepada sesama selayaknya wanita Melayu.

Panah asmara sang Amour mengarah kepada keduanya, hati Tun Siti Hasmah pun luluh dengan perhatian, kasih sayang dari seorang pemuda berparas tampan. Takdir kemudian membawanya menjadi seorang isteri dari seorang pemimpin yang dicintai rakyatnya serta disegani dunia.

Bagi Tun M, sifat romantis itu tak perlu diucapkan atau lewat seremonial seperti di film, tapi harus dibuktikan lewat perhatian serta peran berkelanjutan seorang suami kepada istrinya. (Foto: Dokumentasi Tun Siti Hasmah.)

Saat dijadikan sosok inspiratif oleh para perempuan di Malaysia, Tun Siti Hasmah kerap dimintakan nasihat, kiat jadi istri bijak seperti dirinya. Awalnya dia hanya tertawa, menganggap permintaan tersebut lucu.

Namun kemudian dengan bahasa lugas dia menjabarkan beberapa poin yang bisa dilakukan wanita kepada para suaminya agar hubungan rumah tangga mereka langgeng. Utamanya seorang istri harus setia, dan patuh kepada suaminya. Terampil mengurus rumah tangga hingga mengelola keuangan. Tak kalah penting mampu berkomunikasi dengan baik ke suami beserta anak-anaknya. Waktu luang lebih banyak dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi diri, keluarga serta lingkungan.

Nasihat bijak kerap diberikan kepada buah hatinya serta cucunya. Pasutri Tun M memiliki 4 orang anak Marina Mahathir, Mirzan Mahathir, Mokhzani Mahathir, dan Mukhriz Mahathir

Sebagai istri, ibu serta oma yang sangat menyayangi keluarga, Tun Siti Hasmah kerap menjadi tempat keluh-kesah serta dijadikan suluh bagi kehidupan rumah tangga keluarga di Malaysia.

Salah satu nasihat yang paling membekas bagi banyak pasangan adab hubungan suami istri. Contoh nyata saat di meja makan, Tun mengajarkan adab agar di meja makan suamilah yang harus berperan sebagai pelayan untuk istri mereka. “Ambilkan istrimu dahulu sajian kegemarannya, kemudian barulah sang suami mengambil sendiri makanannya “begitu pesan Tun Siti Hasmah.

Nafasnya retak tapi jiwanya tak mati, Tun M saat berziarah ke makam belahan jiwanya. (Foto: Tangkapan layar Tiktok)

Gula-gula & Boneka Bamby

Dikenal memiliki kepribadian lembut, kasih sayang, lekat dengan jiwa penyabar, penuh perhatian, sosok ibu Malaysia ini memiliki cara khas saat menyambangi sejumlah yayasan di mana dia dijadikan sebagai penasihat.

Saat berjumpa maupun menyambangi yayasan sosial khusus anak, tangan rentanya selalu terlihat membawa sebuah ember kaleng vintage berukuran kecil.

Bagi orang asing hal ini pasti menjadi tanda tanya besar, setelah tersorot kamera di dalam ember vintage tersebut berisi cokelat serta aneka permen yang siap untuk dibagikan ke anak-anak yang ditemuinya.

Oh iya, Tun Siti Hasmah juga sering membawa boneka bamby nan lucu lho. Menurutnya berbagi kebahagiaan kecil seperti yang dilakukannya merupakan kiat, untuk memuliakan anak-anak yang sedang dalam keadaan sakit maupun susah.

Anak kedua Mirzan Mahathir bercerita, “Jauh-jauh hari sebelum beliau wafat, ibu saya banyak cerita tentang kehidupan di alam barzah serta apa yang akan dialami oleh umat Nabi Muhammad. Setelah beliau wafat cerita tersebut seperti nasihat kepada dirinya juga untuk keluarganya. Bagi kami ungkapan beliau memiliki makna mendalam.”

“Tak lama berselang, beliau terkena serangan jantung, dan dirawat di Institut Jantung Nasional, Kuala Lumpur. Kami tak sedikitpun menyangka bahwa ibu akan pergi di momen ini. Padahal selama perawatan ekspresi wajahnya ceria, tak selayaknya orang yang sedang sakit.”

“Ibu masih sempat bercanda dengan keluarga yang hadir untuk menjaga maupun yang membesuknya. Hingga akhirnya el maut menjemput serta membawa ruh ibunda ke Rabb-Nya, “ujar Mirzan sembari terisak.

(Foto: Tangkapan layar Tiktok)

“Pada saat ibu dirawat, ayah saya juga ikut dirawat di ruang yang sama karena penyakit jantung. Tak sedikitpun terbersit di hati beliau untuk berjauhan dengan ibu. Hingga akhirnya kami semua harus ikhlas menerima takdir dari Yang Maha Kuasa, ibunda diwafatkan di usia ke 100 tahun, “ucap Mirzan pilu.

“Ada momen mengharu-biru ketika ibu wafat. Ayah seperti sulit mencerna keadaan ini. Terlihat linglung, mata beliau sayu, berlinang air mata. Sejak di rumah sakit, maupun di rumah duka hingga pada saat prosesi pemakaman, kondisi beliau membuat kami semakin bersedih.”

“Saya pikir kebingungan serta kesedihan beliau merupakan hal wajar, karena selama 70 tahun berumah tangga, ayah dan ibu saya seolah tak terpisahkan. Saling mencari bila tak bersua satu dengan lainnya.”

“Saling berbagi pendapat, perhatian serta kasih sayang. Saling mendukung, dan melengkapi dalam menjalankan keseharian mereka. Bak tubuh dengan jiwa yang menyatu. Tak terbayangkan ketika Ayah harus menjalani hari-harinya sekarang tanpa ibu.”

Sebagai bukti cinta serta kesetiaannya, Mahathir berucap lirih saat menziarahi makam istrinya. “Istri saya saat ini sedang menunggu saya. Seandainya Tuhan mengambil nyawa saya, saya ikhlas, dan bahagia karena bisa kembali berjumpa dengan dirinya, “ucapnya pilu. (Rp)

Exit mobile version