Site icon Wanita Indonesia

Saat Cuaca Ekstrem Mengancam Hak Belajar dan Kebahagiaan Anak

Ilustrasi yang menggambarkan kemarau ekstrem yang membuat permukaan danau mengering. (Gdi/AI)

WANITAINDONESIA.CO — Perubahan iklim bukan sekadar angka kenaikan suhu di atas kertas, melainkan ancaman nyata bagi ruang tumbuh kembang anak. Dalam lensa perlindungan anak, kelompok usia dini adalah pihak yang paling rentan merasakan dampak langsung dari kerusakan lingkungan, mulai dari terganggunya ekonomi keluarga hingga hilangnya waktu belajar.

Senior Specialist Perlindungan Anak dan Advokasi ChildFund, Reny Rebeka Haning, menggambarkan potret muram di Nusa Tenggara Timur (NTT). Akibat cuaca panas yang sangat ekstrem, sejumlah sekolah terpaksa diliburkan, sebuah kondisi yang jelas merenggut hak dasar anak untuk belajar.

Contoh lain, di wilayah pesisir, penurunan hasil tangkapan ikan akibat cuaca laut yang tak menentu turut menekan ekonomi rumah tangga nelayan, yang tidak jarang berujung pada tingginya risiko kekerasan terhadap anak di rumah.

Kondisi jauh lebih berat dialami oleh anak-anak penyandang disabilitas yang memikul kerentanan ganda. Namun, uji coba permainan edukatif yang dilakukan PREDIKT di Sekolah Luar Biasa (SLB) di NTT membuka mata banyak pihak. Anak-anak berkebutuhan khusus ini ternyata mampu menceritakan pengalaman emosional mereka mengenai dampak perubahan iklim secara gamblang dan jujur.

Reny mengingatkan agar riset dan alat bantu pembelajaran ini tidak berhenti saat pendanaan selesai. Ia mendesak adanya panduan praktis yang spesifik serta pelatihan guru yang berkelanjutan agar program ini benar-benar aplikatif untuk anak-anak disabilitas. Tanpa adanya panduan konkret, riset secanggih apa pun hanya akan berakhir sebagai tumpukan kertas laporan di atas meja. (gdi)

 

Exit mobile version