WANITAINDONESIA.CO – Di tengah cuaca tropis yang lembap dan paparan polusi yang kian tak terhindarkan, kebutuhan akan sunscreen bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari rutinitas harian. Namun faktanya, penggunaan sunscreen di Indonesia masih tergolong rendah. Meski kategorinya terus tumbuh, tingkat penetrasinya baru mencapai 23 persen.
Kesenjangan pemahaman pun masih terjadi. Studi global yang melibatkan 17.000 responden di 17 negara menunjukkan bahwa 46 persen masyarakat Indonesia belum mengetahui perbedaan sinar UVA dan UVB. Bahkan, 24 persen belum menyadari bahwa paparan sinar matahari dapat memicu penuaan dini. Tak heran jika 58 persen mengaku menyesal karena tidak melindungi kulit lebih baik sejak awal.
Situasi ini menjadi semakin relevan ketika Jakarta tercatat sebagai salah satu kota dengan tingkat polusi tertinggi di dunia. Kombinasi sinar UV dan polusi udara atau photopollution dapat memicu oxidative stress yang berujung pada penuaan dini, hiperpigmentasi, hingga meningkatnya risiko kanker kulit. Edukasi dan inovasi pun menjadi kunci.
Menjawab tantangan tersebut, La Roche-Posay, brand dermokosmetik dengan produk tabir surya nomor satu yang direkomendasikan dermatolog di dunia, kembali menghadirkan inovasi terbaru: Anthelios UVAIR™ SPF50+. Sunscreen dermatological-grade ini dirancang dengan sensasi seringan udara dan nyaman digunakan setiap hari, termasuk di iklim lembap seperti Indonesia.
Pandu Brodjonegoro, Marketing Director L’Oréal Dermatological Beauty Indonesia, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari kebutuhan konsumen modern. Ia menegaskan bahwa sunscreen kini telah menjadi bagian penting dari rutinitas skincare. Konsumen tak lagi hanya mencari perlindungan UV, tetapi juga manfaat tambahan seperti mencerahkan, melembapkan, hingga berfungsi sebagai primer makeup.
Data internal L’Oréal Dermatological Beauty Indonesia menunjukkan masih banyak masyarakat yang enggan menggunakan sunscreen secara rutin. Alasannya beragam, mulai dari tekstur yang terasa berat, mudah lengket, hingga kekhawatiran tidak menyatu dengan makeup. Anthelios UVAIR™ SPF50+ dirancang untuk menjawab keluhan tersebut.
Mengusung teknologi UVAIR™ yang telah dipatenkan, produk ini menghadirkan Zero Gram Film Technology yang membentuk lapisan ultra-tipis di kulit. Teksturnya terasa ringan, tidak berminyak, tanpa white cast, breathable, serta makeup-friendly tanpa cracking atau pilling. Sensasinya dibuat seolah tak terasa, namun tetap memberikan perlindungan maksimal.
Perlindungan ganda terhadap sinar UV dan polusi diperkuat dengan Cell-Ox B3 Shield® Technology yang memberikan perlindungan antioksidan hingga 16 jam. Formulanya juga mengandung 50 persen bahan berbasis serum, termasuk Niacinamide, Hyaluronic Acid, serta La Roche-Posay Thermal Spring Water yang dikenal ramah untuk kulit sensitif. Kombinasi ini membantu mengontrol minyak hingga 16 jam sekaligus memberikan hidrasi hingga 48 jam. Produk ini aman digunakan mulai usia 12 tahun.
Sebagai #SunscreenSatSet, Anthelios UVAIR™ SPF50+ menyasar non-users maupun irregular users sunscreen. Cocok bagi mereka yang aktif bekerja, sering berada di depan layar, menggunakan sunscreen sebagai primer makeup, hingga berolahraga ringan seperti padel meski di dalam ruangan.
Produk ini tersedia melalui official store La Roche-Posay di berbagai platform e-commerce serta jaringan ritel kesehatan dan kecantikan seperti Guardian Indonesia. Karlina Elisabet Wirian, Commercial & Customer Insights Director Health & Beauty Guardian Indonesia, menyampaikan bahwa konsumen kini semakin sadar pentingnya perlindungan kulit harian, terutama di negara beriklim tropis. Guardian pun berkomitmen menghadirkan inovasi yang relevan dan mudah diakses.
Untuk menghadirkan pengalaman lebih dekat, La Roche-Posay menggelar aktivasi di Central Park Mall pada 25 Februari hingga 8 Maret 2026. Pengunjung dapat mengikuti Skin Check untuk mengetahui kondisi kulit, mengeksplorasi rangkaian Anthelios di Anthelios Corner, hingga mencoba langsung sensasi ringan sunscreen ini di UV Air Corner.
Pada akhirnya, sunscreen bukan lagi sekadar langkah terakhir dalam rutinitas skincare. Ia adalah bentuk perlindungan diri yang sederhana, namun berdampak besar dalam jangka panjang. Dan ketika teksturnya terasa seringan udara, tak ada lagi alasan untuk melewatkannya. (Srv)

