Remaja Kecanduan Digital, Kader SBH Siap Menjadi Penyelamat

Saka Bakti Husada sebagai wadah pendidikan dan pembinaan dalam Gerakan Pramuka Indonesia yang difokuskan khusus pada bidang ilmu pengetahuan dan keterampilan di bidang kesehatan siap membantum program pemerintah di bidang kesehatan diantaranya untuk menghadapi kecanduan gawai di kalangan remaja. Gdi

WANITAINDONESIA.CO – Dunia digital yang bergerak tanpa batas kini menyimpan sisi kelam yang mengancam generasi muda. Di balik kemudahan teknologi, ancaman perundungan siber (cyberbullying), kecanduan gawai (gadget addiction), hingga tekanan media sosial kian nyata mengepung keseharian anak dan remaja. Di tengah situasi yang mengkhawatirkan ini, hadir sebuah gerakan moral yang siap menjadi benteng pertahanan bagi kesehatan jiwa generasi penerus bangsa.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menempatkan Saka Bakti Husada sebagai wadah pendidikan dan pembinaan dalam Gerakan Pramuka yang difokuskan khusus pada bidang ilmu pengetahuan dan keterampilan di bidang kesehatan menjadi mitra strategis untuk mengatasi persoalan akut ini. Melalui jaringan kader muda yang tersebar di seluruh penjuru negeri, organisasi ini bergerak melakukan pendampingan intensif serta edukasi mengenai pemanfaatan internet secara sehat.

Langkah taktis ini dirasa kian mendesak jika melihat fakta di lapangan. Berdasarkan data terbaru, hampir 35 persen remaja di tanah air mengalami gangguan kesehatan mental dalam setahun terakhir. Tantangan ini diperparah dengan fakta bahwa 28 persen pengguna internet aktif menghabiskan waktu mereka untuk bermain permainan daring (game online) setiap hari. Fenomena ini menjadi alarm keras bahwa kesehatan jiwa remaja merupakan isu krusial yang menuntut penanganan segera.

Baca Juga :  Pesona Mikhayla Bakrie, Tampil Cantik Saat Beranjak Remaja

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, menegaskan bahwa momentum hari ulang tahun Saka Bakti Husada tahun ini menjadi titik balik penting. Peringatan tersebut menjadi penegas peran vital generasi muda dalam menciptakan lingkungan masyarakat yang sehat, aman, serta terbebas dari segala bentuk tindak kekerasan.

Menurut Imran Pambudi, relevansi gerakan ini semakin kuat berkat adanya kolaborasi lintas sektor yang tengah digencarkan oleh pemerintah. Salah satunya adalah integrasi antara aplikasi Asisten Respons Kecanduan Digital (Digital Addiction Response Assistant atau DARA) milik Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan layanan SatuSehat Mobile dari Kementerian Kesehatan. Saka Bakti Husada mengambil peran sebagai jembatan yang menghubungkan remaja dengan fasilitas layanan tersebut, sekaligus memperkuat pemahaman digital dan kesehatan jiwa di tingkat komunitas.

Baca Juga :  Sulianto Indria Putra, Remaja 18 Tahun yang Bikin Heboh Karena Punya Duit 1 Juta Dollar

Wadah yang mempertemukan dunia kepramukaan dan sektor kesehatan ini sejatinya memiliki rekam jejak yang panjang. Dibentuk bersama Kemenkes dan Gerakan Pramuka sejak tahun 1985, organisasi ini memang dirancang khusus mendidik Pramuka Penegak dan Pandega. Imran Pambudi memaparkan bahwa tujuan awal pembentukannya sangat visioner, yakni mencetak kader muda yang mampu menjadi pelopor hidup sehat sekaligus agen perubahan di tengah masyarakat.

Kini, kekuatan tersebut telah beranak pinak dengan jumlah anggota nasional mencapai 57.514 orang, yang tersebar di 2.147 pangkalan pusat kesehatan masyarakat serta Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kesehatan di 30 provinsi. Dengan modal sosial yang besar ini, gerakan moral tersebut optimistis mampu menekan dampak negatif era digital pada remaja.

Baca Juga :  DMC Dompet Dhuafa Yogyakarta Berikan Edukasi Hingga Mitigasi Bencana Pada Remaja Sekolah

“Hari ulang tahun Saka Bakti Husada bukan sekadar perayaan usia, melainkan perayaan komitmen. Komitmen untuk menolak segala bentuk kekerasan, komitmen untuk mendampingi remaja agar bebas dari adiksi digital, dan komitmen untuk menanamkan nilai kesehatan, empati, serta keadilan sosial dalam setiap langkah,” tegas Imran Pambudi dalam keterangannya, Minggu.

Penyelamatan masa depan bangsa memang tidak bisa bertumpu pada satu pihak saja. Ketika teknologi terus melaju, kehadiran ruang yang aman, suportif, dan penuh kasih bagi tumbuh kembang remaja adalah mutlak. Melalui komitmen bersama dan aksi nyata para kader muda di lapangan, harapan untuk melihat generasi emas yang sehat fisik serta mentalnya di era digital ini tentu bukan sekadar impian. (Gdi)