Site icon Wanita Indonesia

Rekam Jejak Transaksi Digital Bisa Dipakai Sebagai Kelayakan Pinjaman Modal Usaha

Kelayakan kredit kini dapat diukur dari rekam jejak transaksi digital. Bank DKI

WANITAINDONESIA.CO – Di balik maraknya penggunaan QRIS untuk bertransaksi, tersimpan rekam jejak keuangan yang kini bernilai jauh lebih besar dari sekadar kuitansi pembayaran. Aktivitas pindaian kode batang yang selama ini mempermudah transaksi harian masyarakat, perlahan bertransformasi menjadi kunci pembuka pintu akses permodalan bagi jutaan pelaku usaha kecil yang selama ini kerap kesulitan menembus persyaratan pinjaman bank secara konvensional.

Langkah strategis ini menjadi angin segar bagi ekosistem usaha rakyat, di mana histori transaksi pembayaran digital diplot untuk menggantikan penilaian kelayakan kredit (credit scoring) yang sebelumnya sangat bergantung pada jaminan fisik atau rekam jejak perbankan formal. Terobosan ini dinilai mampu menjangkau para pelaku usaha di tingkat akar rumput yang sejatinya memiliki arus kas sehat, namun terbatas secara administratif untuk mendapatkan dukungan dana pengembangan bisnis.

Gubernur BI Destry Damayanti dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (TIIF) 2026 di Jakarta, Senin, menyampaikan bahwa langkah tersebut merupakan keberhasilan nyata dalam memperluas jangkauan akses keuangan bagi para pedagang (merchant) di tingkat bawah, khususnya kelompok usaha skala kecil (small), di mana data transaksi yang terkumpul nantinya dapat dimanfaatkan sebagai dasar penilaian kelayakan kredit (credit scoring).

Langkah pemanfaatan data ini berdiri di atas fondasi adopsi teknologi pembayaran digital yang kian mengakar luas di tengah masyarakat. Hingga kuartal III 2026, jumlah pengguna sistem pindaian kode matriks nasional ini telah menembus angka 70,6 juta dengan keterlibatan 49,4 juta pedagang (merchant), di mana sebanyak 97 persen di antaranya merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Daya jelajah platform ini juga teDirectory dibuktikan oleh lonjakan volume transaksi yang mencapai pertumbuhan sebesar 75,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal III 2026.

Integrasi data transaksi pembayaran digital ke dalam sistem penilaian kredit ini diproyeksikan menjadi pendorong utama bagi terciptanya pemerataan ekonomi nasional. Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bahwa pemanfaatan data transaksi tersebut dirancang untuk mendukung perluasan akses keuangan bagi para pelaku usaha kecil, sejalan dengan komitmen otoritas moneter dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih merata dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat (inklusif).

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur BI Destry Damayanti menambahkan bahwa otoritas moneter telah melakukan berbagai langkah strategis untuk memastikan pertumbuhan ekonomi dapat berjalan secara berkelanjutan (sustainable), yang berarti proses pergerakan roda ekonomi tersebut harus bersifat merata dan melibatkan seluruh elemen masyarakat (inklusif).

Akselerasi ekosistem keuangan digital nasional juga ditopang secara solid oleh keandalan infrastruktur pembayaran riil (fast payment) melalui BI-FAST yang beroperasi penuh tanpa henti selama 24 jam. Gubernur BI Destry Damayanti menyoroti bahwa belum banyak bank sentral atau negara lain yang memiliki infrastruktur pembayaran cepat (fast payment) sekelas BI-FAST, di mana keberadaannya mampu memberikan efisiensi dan penghematan secara nilai ekonomi (economical savings) yang sangat signifikan bagi perekonomian nasional.

Keandalan infrastruktur pembayaran cepat tersebut tecermin langsung dari performa kinerjanya sepanjang kuartal III 2026 yang berhasil mencetak volume transaksi sebanyak 1,631 miliar, atau tumbuh sebesar 31,78 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Dari sisi nominal, nilai transaksi yang diproses melalui sistem pembayaran cepat ini menembus angka Rp4.049 triliun, melambung sebesar 33,91 persen jika dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Transformasi digital yang terus melaju pesat ini pada akhirnya bukan sekadar tentang kemudahan bertransaksi di ujung jari, melainkan tentang membangun jembatan masa depan bagi para pelaku usaha untuk terus tumbuh mandiri. Setiap pindaian kode dan transfer yang terjalin setiap detik kini bukan lagi sekadar catatan pembayaran, melainkan jejak rekam kepercayaan yang siap membawa usaha kecil naik kelas dan menggeliat lebih tangguh di panggung ekonomi nasional. (gdi)

Exit mobile version