WANITAINDONESIA.CO – Di balik kenyamanan gaya hidup digital modern, sebuah ancaman senyap tengah mengintai tanpa suara. Ancaman ini tidak datang dari wabah penyakit menular seperti era dekade lalu, melainkan dari piring makanan yang dipesan hanya dengan sekali sentuh di layar ponsel cerdas.
Perubahan pola hidup masyarakat era kini memang bergerak sangat cepat. Kehadiran berbagai layanan pesan antar makanan makin memanjakan lidah, namun di saat bersamaan menyimpan potensi bahaya tersembunyi bagi kesehatan jangka panjang.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan betapa peta tantangan kesehatan di Tanah Air telah bergeser secara drastis dibanding masa lampau. Pada tahun 1965, angka harapan hidup masyarakat Indonesia tercatat hanya mencapai 43 tahun karena maraknya penyakit infeksi serta terbatasnya fasilitas medis.
“Nah, sekarang dengan dieliminasi sanitasi yang makin baik, kemudian fasilitas kesehatan yang makin bagus, pengobatan infeksi makin bagus, bergeser yang tadinya penyakit infeksi menjadi penyakit degeneratif atau penyakit menua,” ujar Dante di Jakarta, Selasa.
Perkembangan teknologi turut mengubah pola konsumsi secara masif. Kemudahan memesan santapan lezat kapan saja tanpa perlu bergerak memicu tingginya angka kegemukan (obesitas), yang kemudian menjadi pintu masuk bagi berbagai penyakit degeneratif.
Kondisi tersebut menjadi penghambat utama untuk menaikkan angka harapan hidup masyarakat Indonesia yang saat ini berada di kisaran 74,5 tahun. Penyakit-penyakit mematikan yang kerap hadir tanpa gejala nyata ini dikenal sebagai pembunuh senyap (silent killer).
Dante menegaskan betapa berbahaya sifat penyakit yang tak kasat mata ini dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang merasa tubuhnya bugar, padahal gangguan kesehatan serius sudah mulai menggerogoti dari dalam.
“Nggak kelihatan. Kadang-kadang nggak ada keluhan. Orang hipertensi nggak tahu kalau dia hipertensi. Orang diabetes nggak tahu kalau dia itu diabetes,” tegasnya.
Hasil temuan di lapangan memperlihatkan kenyataan yang mengkhawatirkan. Berdasarkan riset yang dilakukan Kementerian Kesehatan di Jakarta, sekitar satu dari delapan orang yang diperiksa terbukti mengidap kencing manis (diabetes melitus). Dari jumlah tersebut, hanya tiga persen yang menyadari kondisinya, sementara sembilan persen sisanya sama sekali tidak mengetahui bahwa mereka hidup dengan penyakit tersebut.
Atas dasar itulah, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dihadirkan sebagai benteng pertahanan dini. Penanganan sejak awal tidak hanya menekan beban biaya pengobatan yang membengkak, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam mencetak generasi yang tangguh dan produktif demi terwujudnya cita-cita Generasi Emas 2045.
Pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala juga ditekankan oleh Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan dr. Maria Endang Sumiwi. Ia mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tidak melewatkan kesempatan mengikuti penapisan (skrining) CKG setiap tahun guna mendeteksi potensi penyakit baru secara dini.
Data evaluasi program CKG menunjukkan temuan yang sangat mengejutkan. Dari sekitar 30 juta orang yang tercatat bebas dari tekanan darah tinggi (hipertensi) pada tahun 2025, sebanyak 9,2 juta orang di antaranya kembali menjalani pemeriksaan ulang pada tahun 2026. Hasilnya, sekitar satu juta orang ditemukan telah mengidap tekanan darah tinggi.
Fenomena serupa terjadi pada kasus kencing manis. Dari 36 juta orang yang terbebas dari kencing manis pada tahun 2025, sebanyak 8,39 juta orang kembali diperiksa pada tahun 2026, dan sebanyak 188 ribu orang di antaranya terdeteksi telah mengidap penyakit tersebut.
“Kita senang bisa menemukan satu juta yang tadinya nggak hipertensi sekarang hipertensi,” tutur Endang.
Temuan ini membuktikan bahwa kesehatan bukanlah sesuatu yang statis, melainkan kondisi dinamis yang memerlukan pemantauan konsisten. Tubuh yang tampak sehat hari ini belum tentu berada dalam kondisi ideal tanpa pemeriksaan medis yang akurat.
Melakukan cek kesehatan secara berkala bukan sekadar bentuk kepedulian terhadap diri sendiri, melainkan langkah nyata dalam menjaga kualitas hidup agar tetap optimal di masa depan. Memastikan kondisi tubuh tetap terpantau adalah investasi terbaik untuk terus menikmati setiap momen berharga bersama orang-orang tercinta tanpa terbayang ketakutan akan ancaman penyakit yang datang tiba-tiba. (Gdi)

