WANITAINDONESIA.CO — Layar ponsel kini seolah telah menjadi dunia baru bagi jutaan remaja Indonesia. Di tengah derasnya arus informasi yang mengalir tanpa henti setiap detiknya, ancaman terbesar justru bukan lagi datang dari luar, melainkan dari jempol kita sendiri di media sosial.
Kenyataan ini ditegaskan oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, saat menghadiri puncak Apresiasi Duta dan Jambore Ajang Kreativitas Generasi Berencana Nasional dua ribu dua puluh enam di Kantor Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak anak muda untuk mengubah arah perjuangan mereka di era modern.
“Kalau dulu nenek moyang kita berperang melawan penjajah, adik-adik, kita sekarang harus bisa berperang melawan hoaks di dunia digital. Adik-adik semua harus belajar dan memahami, cek dulu, jangan mudah terprovokasi dan saling bergunjing,” tutur Raffi Ahmad di hadapan para peserta.
Ancaman hoaks memang tidak bisa dipandang sebelah mata, mengingat sebanyak sembilan puluh empat persen remaja usia tiga belas hingga delapan belas tahun saat ini sudah terhubung dengan internet dengan durasi penggunaan lebih dari lima jam sehari. Tingginya interaksi digital ini membuat peran pendampingan menjadi sangat krusial.
Raffi Ahmad menambahkan bahwa dirinya sendiri tidak melarang anak-anaknya bermain di dunia digital, namun sebagai orang tua, pembatasan tetap harus dilakukan agar kegiatan mereka tetap produktif. Selain peran orang tua, keberadaan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) juga menjadi wadah penting karena remaja cenderung lebih nyaman berbagi cerita serta berdiskusi dengan teman sebaya ketimbang orang tua mereka.
Kesempatan emas bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan ini turut diamini oleh pemerintah. Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menyampaikan bahwa pemuda merupakan salah satu kekuatan utama Indonesia dalam memanfaatkan bonus demografi (keuntungan ekonomi dari tingginya proporsi usia produktif).
Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus dua ribu dua puluh lima, kelompok usia tiga belas hingga dua puluh delapan tahun mencapai dua puluh empat koma sembilan puluh tiga persen dari total penduduk Indonesia. Angka yang besar ini menuntut generasi muda untuk tidak sekadar menjadi penonton, melainkan pelaku aktif pembangunan.
“Salah satunya adalah bergabung dengan Forum Generasi Berencana Indonesia. Potensi tata kata (public speaking) Duta Generasi Berencana menjadi suatu hal yang penting. Mereka dapat berbicara dengan sesama remaja, bisa terjun langsung ke daerah-daerah yang terkena bencana untuk membantu dalam pemulihan mental,” papar Wamendukbangga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka.
Langkah kecil untuk menahan diri dari membagikan kabar burung di media sosial adalah awal dari gerakan besar. Ketika Generasi Z berani berencana dan saling menguatkan, impian menuju Indonesia Emas dua ribu empat puluh lima bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan yang sedang kita bangun bersama hari ini. (Gdi)

