
WANITAINDONESIA.CO – Perhelatan puncak gerakan Bakti Indonesia ke-4 yang berlangsung di Kelenteng Agung Sam Poo Kong, Semarang, sukses menyatukan ribuan warga lintas agama dan budaya. Lebih dari sekadar agenda sosial tahunan, acara ini menjadi simbol kuat dalam merawat keberagaman sekaligus mengokohkan fondasi kesehatan bangsa melalui pelayanan medis gratis komprehensif, edukasi gaya hidup sehat, hingga dorongan mewujudkan Semarang sebagai pusat wisata medis (medical tourism).
Kegiatan puncak ini memberikan manfaat langsung kepada sekitar 5.000 warga. Ratusan tenaga medis diturunkan untuk memberikan pelayanan kesehatan gratis, mulai dari rekam jantung, tes laboratorium, pemeriksaan mata dan gigi, deteksi dini kanker, hingga konsultasi psikologi keluarga. Penggagas Bakti Indonesia dari gerakan Bakti Nusantara, Dra. Hj. Mulia Jayaputri, MPA, Psikolog, menegaskan bahwa pemulihan kesehatan dan nilai kemanusiaan tidak mengenal batasan suku maupun agama, di mana perbedaan keyakinan justru mempertemukan masyarakat dalam kebaikan. Apresiasi mendalam juga disampaikan kepada Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, serta para donatur dan mitra strategis seperti Siloam International, Pertamina Hulu Energi, Bank Mandiri, BAZNAS, dan RSUP Dr. Kariadi.
Sinergi pelayanan kesehatan di Sam Poo Kong ini sejalan dengan visi besar penataan fasilitas kesehatan di Kota Semarang. Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dr. dr. Mochamad Abdul Hakam, Sp.PD, FINASIM, mengungkapkan bahwa Semarang memiliki potensi besar sebagai destinasi medical tourism unggulan. Kehadiran wisata medis ini memungkinkan masyarakat menikmati liburan (healing) sekaligus memeriksakan kesehatannya. Dengan dukungan 40 rumah sakit yang tersebar merata di seluruh kecamatan, pasien tidak hanya mendapatkan perawatan medis modern berbiaya terjangkau, tetapi juga dapat menikmati ragam wisata kuliner dan sejarah tanpa rasa jenuh.

Selain menangani penyakit kronis seperti onkologi, tren medis kini bergeser ke arah wellness dan perawatan estetika holistik. Dr. Hakam menekankan bahwa kebutuhan estetika kini tidak lagi didominasi kaum wanita, melainkan penanganan masalah kebotakan dan kerontokan rambut pada pria juga menjadi peluang wellness medis yang sangat diminati.
Menjawab kebutuhan estetika tersebut, Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika, Dr. dr. Holy Ametati, Sp.DVE, memaparkan inovasi perawatan rambut tanpa bedah. Kerontokan rambut atau alopecia kerap dialami pria usia di atas 40 tahun dengan pola garis “M” di dahi, sedangkan pada wanita kebotakan biasanya bermula dari menipisnya garis belahan rambut tengah. Salah satu metode modern yang efektif mengatasinya adalah Platelet Rich Plasma (PRP) Therapy, yaitu prosedur regeneratif minimal invasif menggunakan komponen plasma darah pasien sendiri yang kaya akan faktor pertumbuhan (growth factors). Injeksi PRP bekerja secara biologis untuk memperpanjang fase pertumbuhan rambut (anagen), meningkatkan diameter dan ketebalan batang rambut, memperbaiki sirkulasi darah ke kulit kepala, serta mengurangi peradangan di sekitar folikel. Terapi PRP sangat aman dari risiko alergi karena menggunakan darah autolog pasien sendiri, dengan hasil penebalan rambut maksimal yang umumnya terlihat pada bulan ke-3 hingga ke-6 selama folikel rambut masih dalam kondisi hidup (viable).
Pilar penting lain dalam mewujudkan masyarakat sehat adalah pencegahan penyakit kritis, khususnya kanker. Dalam Seminar Kesehatan Yayasan Kanker Indonesia, Dr. Vina Yunarvika, Sp.PD, mengingatkan pentingnya mengenali sinyal awal tubuh, seperti benjolan yang tak kunjung hilang, perdarahan abnormal, hingga penurunan berat badan drastis tanpa sebab. Pemeriksaan berkala seperti Low-Dose CT Scan untuk perokok aktif, vaksinasi HPV untuk pencegahan kanker serviks, serta tes darah samar feses untuk deteksi awal kanker kolorektal sangat disarankan sebelum gejala memasuki stadium lanjut. Dari sudut pandang gizi, Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Febe Christianto, Sp.GK, Subsp.P.K, membagikan langkah praktis pencegahan kanker melalui pola makan seimbang antara karbohidrat, protein, dan serat, membatasi konsumsi makanan olahan, gorengan bertepung, dan minuman tinggi gula, serta menjaga berat badan ideal dan konsisten menggunakan sunscreen.
Edukasi kesehatan masyarakat ditutup dengan imbauan penting mengenai kesehatan organ pernapasan oleh dr. Avissena D. Pratama, Sp.P dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Jawa Tengah. Saat ini, Indonesia masih menduduki peringkat kedua dunia untuk kasus Tuberkulosis (TBC), sehingga masyarakat diingatkan untuk tidak meremehkan gejala batuk berulang atau sesak napas. Kebiasaan merokok—baik aktif maupun pasif—meningkatkan risiko infeksi TBC hingga dua sampai tiga kali lipat, sekaligus memicu timbulnya Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) dan kanker paru. Area leher juga perlu diwaspadai, sebab batuk lama yang disertai munculnya benjolan di area leher dapat menjadi indikasi TBC ekstra paru, sedangkan pada pria perokok aktif di atas 40 tahun, benjolan tersebut bisa menandakan risiko kanker paru. Penyakit paru akibat bakteri seperti TBC sebenarnya bisa sembuh total jika terdeteksi dini dan diobati secara rutin, sehingga menghindari asap rokok, rutin berolahraga, dan segera memeriksakan diri jika batuk berlangsung lebih dari dua minggu adalah langkah proteksi terbaik untuk menjaga paru-paru tetap sehat. (Des)




