Prilly Latuconsina Hadirkan Buku Perjalanan Emosional yang Menjadi Cultural Moment

Buku ini menandai fase baru Prilly sebagai figur yang tidak hanya menulis perasaan, tetapi juga mengkurasi kedewasaan emosional kolektif.

WANITAINDONESIA.CO – Prilly Latuconsina kembali mempersembahkan karya tulis terbaru berjudul Retak, Luruh, Kembali Utuh, sebuah buku yang berubah menjadi ruang kontemplatif yang intim ini menangkap perjalanan emosional seorang perempuan ketika luka, kehilangan, berproses untuk menyembuhkan diri hingga berhasil untuk pulih.

Buku ini menandai fase baru Prilly sebagai figur yang tidak hanya menulis perasaan, tetapi juga mengkurasi kedewasaan emosional kolektif. Retak, Luruh, Kembali Utuh bukanlah sekadar kumpulan puisi.

Tulisan ini merupakan catatan renungan yang menggambarkan perjalanan healing Prilly dan banyak orang di generasinya. Dengan bahasa yang lembut, reflektif, dan intim, buku ini menjadi ruang aman bagi siapa pun yang sedang belajar berdamai dengan diri sendiri.

Baca Juga :  Prilly & Bestie CellBooster®, Tren Tampil Cantik Paripurna 2026!

Disajikan dengan 3 fase, Prilly mengajak para pembaca untuk mencintai diri dan berani keluar dari fase yang membuat mereka retak. Kemudian, di fase luruh, Prilly ingin menyampaikan kepada para pembaca untuk menyembuhkan diri.

Hingga pada fase kembali utuh, Prilly menuangkan berbagai pengalaman serta emosi saat akhirnya bisa menemukan rumah yang sesungguhnya.

Baca Juga :  Prilly Latuconsina Masuk Nominasi Pemeran Pendukung Terbaik FFI 2023, Jadi Kado terindah di Ulang Tahunnya

Retak, Luruh, Kembali Utuh menjadi simbol kultural momen ketika keberanian perempuan untuk pulih dipandang sebagai pengalaman yang layak disuarakan, dirayakan, dan dibicarakan bersama.

“Aku menulis bukan untuk terlihat kuat, tapi supaya aku nggak terus sembunyi di balik luka,” kata Prilly Latuconsina.

Buku ini berangkat dari gagasan penting bahwa setiap luka membutuhkan bahasa agar bisa dipahami. Melalui tulisan-tulisannya, Prilly memberi ruang bagi perasaan yang sering kali sulit diutarakan—patah, marah, kecewa, serta hening yang tertinggal setelah semuanya luruh.

Baca Juga :  Hal yang Bisa Kamu Tiru dari Prilly Latuconsina!

Karya ini tidak menawarkan jawaban instan; sebaliknya, ia menawarkan pendampingan. Setiap bagiannya dirangkai seperti refleksi yang jujur, seolah pembaca sedang mendengarkan seseorang bercerita pada jam-jam paling sunyi.

Lahir di tengah meningkatnya percakapan publik mengenai kesehatan emosional, Retak, Luruh, Kembali Utuh hadir sebagai representasi dari gelombang kesadaran kolektif dari generasi saat ini yang makin berani mengakui patah hati, trauma, maupun proses pemulihan diri. (GIE)