Pneumonia Anak Melonjak, Pentingnya Imunisasi dan Pemahaman Budaya

Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Penyakit Infeksi pada Anak di Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) Universitas Indonesia (UI) Prof. Dessie Wanda. HO-Humas UI.

WANITAINDONESIA.CO  – Sebagai orang tua, melihat si kecil ceria adalah kebahagiaan tak ternilai. Namun, ada alarm peringatan yang perlu kita dengar bersama. Guru Besar Tetap Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI), Prof. Dessie Wanda, mengungkapkan fakta yang cukup menggetarkan: kasus pneumonia pada anak Indonesia meningkat tajam hampir dua kali lipat di tahun 2024 dibanding tahun sebelumnya.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2020–2024 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan pada penyakit infeksi seperti pneumonia, diare, tuberkulosis, hingga HIV. Mengapa ini terjadi? Selain karena sistem imun anak yang masih dalam proses pematangan, faktor eksternal seperti perubahan iklim dan menurunnya cakupan imunisasi pasca-pandemi menjadi pemicu utamanya.

Baca Juga :  Sofistikasi Budaya Tak Hanya Menyimpan Produk Namun Penting untuk Mewariskannya

Yang menarik dari pemikiran Prof. Dessie adalah keberaniannya menyatukan ilmu medis modern dengan Culture Care Theory. Beliau menegaskan bahwa kesehatan anak tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya keluarga.

“Tindakan keperawatan tidak selalu harus mengubah total budaya pasien,” ujar Prof. Dessie di Kampus UI Depok. Menurutnya, tenaga kesehatan dan orang tua perlu melakukan negosiasi agar pengasuhan tetap berjalan tanpa melanggar prinsip budaya yang dianut keluarga.

 

Belajar dari Kasus Badui Dalam hingga Tradisi Sei di NTT

Prof. Dessie membagikan beberapa potret nyata betapa kuatnya pengaruh budaya terhadap kesehatan anak di Indonesia:

Negosiasi Medis di Badui Dalam: Ketika seorang anak dari masyarakat Badui Dalam mengalami patah tulang, keluarga awalnya memilih pengobatan tradisional karena pantangan terhadap teknologi modern. Namun, melalui culture care negotiation dengan pemangku adat, sang anak akhirnya bisa mendapatkan perawatan medis di klinik terdekat tanpa harus melanggar aturan adat yang sakral.

Baca Juga :  Menjaga Ketenangan Hati Ibu Melalui Budaya Sekolah Ramah

Tradisi Sei di NTT: Tradisi pengasapan ibu dan bayi baru lahir (Sei) diyakini sebagai bentuk perlindungan. Meski niatnya baik, praktik ini berisiko menyebabkan infeksi saluran pernapasan. Di sinilah peran penting edukasi yang penuh rasa hormat, agar tradisi tetap terjaga tanpa mengorbankan kesehatan pernapasan si kecil.

Tips untuk Ibu Cerdas: Menjaga Si Kecil di Tengah Perubahan Zaman
1. Jangan Abaikan Imunisasi: Menurunnya cakupan imunisasi adalah lubang besar bagi masuknya infeksi. Pastikan jadwal vaksinasi anak kembali lengkap.
2. Pahami Lingkungan: Perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan, tapi ancaman nyata bagi kesehatan paru-paru anak. Jaga kebersihan udara di sekitar rumah.
3. Kritis Namun Menghormati Tradisi: Jika ada kebiasaan turun-temurun dalam keluarga mengenai pengobatan anak, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga medis guna menemukan jalan tengah yang paling aman bagi anak.

Baca Juga :  Tak Asal Menggelar Pesta, Ini 6 Mitos Larangan Pernikahan Menurut Adat Jawa

Kesehatan anak adalah investasi masa depan. Menjadi ibu yang cerdas berarti mampu memadukan kasih sayang, kearifan lokal, dan langkah medis yang tepat demi melindungi buah hati dari ancaman infeksi yang kian nyata. (gdi)