Site icon Wanita Indonesia

Perjalanan Menjadi Perempuan: Saul Studio Hadirkan Koleksi “SHE” di JFW dengan Inovasi Serat Nanas

Credit foto: JFW 2027

WANITAINDONESIA.CO – ​Bukan sekadar deretan busana penampil panggung, Saul Studio mempersembahkan selebrasi mendalam bagi ketangguhan, kompleksitas, dan keindahan perjalanan hidup setiap perempuan. Di bawah arahan sang founder sekaligus desainer, Debora Mettu, Saul Studio menghadirkan koleksi terbarunya bertajuk “SHE” untuk musim Spring/Summer 2027 di ajang Jakarta Fashion Week (JFW) 2026, Jakarta, Minggu (26/10/2026).

​Debora mengungkapkan, perempuan sering kali dihadapkan pada tuntutan untuk menjalankan berbagai peran sekaligus, baik sebagai ibu, istri, pemimpin karier, pengusaha, hingga perempuan yang mandiri mencari jalannya sendiri.

​Namun, di tengah kesibukan tersebut, perempuan kerap lupa memberikan ruang bagi diri mereka sendiri. Melalui koleksi SHE, Saul Studio merayakan perempuan bukan sebagai sosok yang harus selalu sempurna, melainkan individu yang terus berproses, lelah, namun tetap memilih untuk melangkah.

​Perjalanan hidup ini diterjemahkan secara simbolis melalui urutan busana di atas runway: dibuka dengan gaun panjang putih (long dress) yang merepresentasikan awal kedewasaan di usia 25 tahun, hingga ditutup dengan gaun panjang hitam sebagai simbol kedalaman perjalanan hidup hingga menutup usia.

​Semangat inklusivitas dan kekuatan perempuan ini semakin hidup berkat kehadiran empat muse inspiratif Saul Studio: Indi Barends, Lia Lukman, Melaney Ricardo, dan Valen Amijo, yang membuktikan bahwa tidak ada satu definisi tunggal untuk menjadi seorang perempuan.

​
​Konsistensi Saul Studio terhadap isu keberlanjutan (sustainability) kembali dibuktikan melalui eksplorasi material inovatif. Dalam koleksi SHE, Saul Studio memanfaatkan daur ulang daun serat nanas yang diolah menjadi benang hingga menjadi kain.

​Menyadari Indonesia sebagai negara tropis dengan limpahan tanaman nanas, Debora berinisiatif memanfaatkan limbah daun nanas untuk diintegrasikan ke dalam busana. Proses riset dan pengembangan (trial and error) ini bahkan memakan waktu hingga satu tahun.

Credit foto: JFW 2027

​Debora mengungkapkan bahwa pihaknya membutuhkan bahan yang firm, dan mereka memanfaatkan limbah daun nanas yang diolah oleh perajin lokal di Kudus untuk dibina dan disejahterakan bersama. Karena karakternya yang cukup kaku—bahkan lebih kaku dari linen—dengan porsi sekitar 20% dalam setiap look, kain serat nanas diaplikasikan secara strategis pada bagian tertentu atau sebagai aksesoris busana.

​Untuk menjaga kenyamanan di iklim tropis Indonesia, material ini dipadukan secara cermat dengan bahan semi-wool dan katun berkualitas tinggi, serta memiliki perawatan yang cukup mudah melalui hand wash atau dry clean.

​Sebagai seorang mantan arsitek, Debora Mettu menuangkan latar belakang akademisnya ke dalam DNA desain Saul Studio. Koleksi SHE tampil dengan ciri khas siluet asimetris dan relaxed yang merefleksikan kompleksitas perjalanan perempuan yang tidak selalu berjalan lurus, sekaligus memberikan ruang gerak yang bebas dan nyaman.

​Karakter ini diperkuat oleh bentuk arsitektural yang menghadirkan ketegasan visual yang kuat. Dari segi warna, palet yang dihadirkan penuh makna dengan dominasi warna ivory (gading) sebesar 75% yang melambangkan ketidaksempurnaan sebagai keutuhan, abu-abu yang merepresentasikan keberanian menghadapi ketidakpastian, serta sentuhan warna orange sebagai simbol kebahagiaan.

​Penampilan para model semakin sempurna berkat kolaborasi penataan gaya bersama brand sepatu Steve Madden, yang menghadirkan fleksibilitas tinggi—mulai dari flat shoes untuk berjalan santai hingga alas kaki yang elegan untuk bekerja di berbagai occasion.

​Berdiri lebih dari 13 tahun, Saul Studio tetap mempertahankan idealisme bisnisnya. Seluruh proses produksi dari desain awal hingga pengemasan (packing) dilakukan secara in-house demi menjaga kerapian dan kualitas jahitan.

​Saul Studio juga secara konsisten memberdayakan penjahit lokal dengan standar kesejahteraan yang layak, serta memegang teguh komitmen untuk menolak praktik white label atau OEM demi menjaga integritas merek. Konsistensi mutu ini membuahkan hasil manis. Selain memiliki basis loyal customer di tanah air yang kini bahkan sudah diwariskan dari para ibu kepada anak perempuan mereka yang beranjak remaja, Saul Studio juga sukses merambah kancah internasional.

​Melalui hubungan baik yang terjalin sejak Jakarta Fashion Week (JFW) sebelum pandemi, karya Saul Studio kini dipasarkan di butik independen di Kuwait dan Los Angeles (LA) dengan penyesuaian ukuran dan panjang busana tanpa mengubah identitas aslinya, jelas Debora.

​Menutup sesi wawancara, Debora menegaskan bahwa koleksi SHE bukan tentang mengikuti tren secara membabi buta, melainkan tentang menemukan kebebasan berekspresi dan merayakan jati diri.

​“Femininity has no single shape, and every woman has her own way of becoming.” (des)

Exit mobile version