Site icon Wanita Indonesia

Penataan Kawasan Blok M: Tiga Jurus Kunci dan Didorong Jadi Active City

Suasana di salah satu ruas jalan kawasan Blok M, Kebayoran Baru, Jaksel, Sabtu (31/10/2026). (Foto: WanitaIndonesia.co/Yudha)

WANITAINDONESIA.CO – Penataan kawasan Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) belakangan kerap mencuat di ruang publik. Hal ini seiring kembali “hidupnya” kawasan tersebut sebagai pusat keramaian dengan berbagai aktivitas hiburan dan ekonomi setelah sempat “mati suri” beberapa tahun lalu.

Upaya merevitalisasi kawasan Blok M sendiri terus berjalan. Terlebih, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Gubernur Pramono Anung telah meluncurkan revitalisasi total kawasan Blok M fase ultimate pada awal Oktober 2026.

Terkait hal itu, Wali Kota Jaksel Syafrin Liputo pun mengungkapkan, pada tahun 2020 lalu, Pemprov DKI Jakarta sudah menetapkan soal kawasan pembangunan berorientasi transit Blok M dan Sisingamaraja melalui Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 55 Tahun 2020.

Terbitnya peraturan itu menjadi salah satu pijakan revitalitasi kawasan Blok M. Aspek krusial menyangkut penataan tersebut yakni pelibatan melibatkan masyarakat melalui tiga jurus.

“Pemerintah ingin Blok M itu dibangun bersama masyarakat, bukan dibangun untuk masyarakat, beda di frasanya. Karena itu, jika dibangun bersama masyarakat, maka situasi yang hari ini kita diskusikan, itu yang disebut kita bersama-sama membangun Blok M,” kata Syafrin saat diskusi bertajuk “Menuju Blok M yang sebenar-benarnya Inklusif” di Kebayoran Baru, Jaksel, Sabtu (31/10/2026).

Dia menjelaskan, atas dasar itu, tiga jurus diterapkan. Poin pertama yaitu aspiratif. Artinya, warga bisa menyampaikan semua aspirasinya menyangkut upaya Pemprov DKI Jakarta membagun dan menata kawasan Blok M.

“Kemudian (poin) kedua kedua yakni inklusif, secara perlahan (antara lain) dilakukan penataan, sebagai contoh terhadap pedestrian,” ujar Syafrin.

Ia mengakui, pendekatan secara inklusif belum dilakukan secara menyeluruh lantaran
​Jakarta saat ini tengah mengalami relaksasi terkait dengan kapasitas fiskal.

Adapun poin terkait jurus ketiga yaitu berkelanjutan. Syafrin mengungkapkan, tiga jurus itu diterapkan secara bertahap.

“Karena kami ingin membangun Blok M bersama masyarakat, maka kami ingin setiap orang tidak memandang status ekonominya.
​Setiap warga, yang apakah anak kecil, pasangan muda, orang tua, warga disabilitas, pemilik keterbatasan kemampuan, itu mereka memiliki kemampuan untuk mengakses, menikmati, dan hadir bersama-sama di Blok M,” ujar Syafrin menambahkan.

Sementara, Kepala Bidang Pembangunan dan Lingkungan Hidup Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta, Cipta Aditya mengatakan, Pemprov DKI Jakarta sejatinya juga mendorong kawasan Blok M sebagai active city. Artinya, merancang dan menata kawasan perkotaan yang lebih ramah bagi pejalan kaki, pesepeda, dan mobilitas aktif.

Hal tersebut, ujar Aditya, tak terlepas dari pengumpulan data yang menyatakan Jaksel sebagai salah satu yang mengalami kenaikan aktivitas secara signifikan.

“Aktif dalam banyak hal, dalam sisi ekonomi, dari sisi lingkungan dan sosialnya. Ini yang kami coba dorong dan kami dan itu sebenarnya indikator yang sudah dilakukan di negara-negara lain dan kami coba merumuskan,” ujar Aditya.

Oleh karena itu, ucap dia menambahkan, upaya merancang dan menata kawasan Blok M menjadi active city tersebut turut meliputi terminal dan taman-taman yang berada di sekitarnya.

“Kami coba dengan taman-taman, kami masuk juga ke terminal-terminal dan sebagainya, itu kami coba lakukan. Dan ternyata konsep ini juga bisa in line dalam pengembangan Blok M,” kata Aditya. (yud)

Exit mobile version