WANITAINDONESIA.CO — Suara gemuruh roda besi yang beradu dengan rel, derap langkah bergegas para komuter, serta riuh hiruk-pikuk khas perkotaan senantiasa mewarnai dinamika Stasiun MRT Bundaran HI. Namun, di tengah lalu lalang manusia yang memburu waktu, ada kejutan visual dan sensorik yang mengajak setiap penumpang untuk sejenak menghentikan langkah.
Sebuah pameran temporer bertajuk “Hutan dan Peradaban: Dari Ekosistem Kehidupan Menuju Masa Depan” secara mengejutkan hadir melintasi ruang transit modern ini, membawa bentang pengetahuan alam liar langsung ke tengah kesibukan warga Jakarta.
Langkah inovatif yang diusung oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta bersama Perkumpulan Asosiasi Museum Indonesia (AMI) DKI Jakarta “Paramita Jaya” dan Museum Kehutanan ini bukan sekadar memindahkan pajangan sejarah dari dinding museum yang tenang. Pameran yang diresmikan bertepatan dengan Hari Museum Indonesia tersebut dirancang khusus untuk memangkas jarak antara edukasi kebudayaan dan rutinitas harian masyarakat urban.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Miftahulloh Tamary, menegaskan bahwa kehadiran pameran di titik dengan tingkat mobilitas super tinggi ini menjadi terobosan penting dalam mengubah cara pandang masyarakat terhadap ruang publik dan museum.
“Pameran ini hadir untuk mengajak masyarakat melihat hubungan antara hutan, manusia, kebudayaan, dan perkembangan peradaban. Melalui pameran ini, masyarakat diharapkan tak hanya mengenal kekayaan hutan, namun juga memahami keterkaitannya dengan kebudayaan manusia hingga keberlanjutan kehidupan kota,” ujar Miftahulloh Tamary dalam keterangan resminya.
Menelusuri area pameran, pengunjung tidak hanya diajak menjadi penonton pasif. Jalur edukasi ini dibagi ke dalam 5 zona interaktif yang memamerkan keragaman spesimen kayu, flora dan fauna, perlengkapan kehutanan, hingga berbagai hasil hutan. Untuk memanjakan pancaindra, pameran ini dilengkapi dengan stasiun aroma (Aroma Station) yang memancarkan wewangian khas hasil hutan, layar dioda pemancar cahaya (LED) interaktif, monitor layar sentuh, permainan mencocokkan (matching game), hingga area foto (photobooth) dan perpustakaan mini.
Di tengah hiruk-pikuk isu perubahan iklim, kualitas udara, dan ancaman pemanasan global yang kian menghantui kehidupan metropolitan, pameran ini hadir sebagai pengingat bahwasanya nafas kehidupan kota sangat tergantung pada kelestarian paru-paru dunia. Kehadiran pepohonan dan ekosistem kehutanan bukan lagi cerita jauh dari pedalaman, melainkan fondasi utama bagi keberlangsungan masa depan Jakarta itu sendiri.
Saat melintas di peron Stasiun MRT Bundaran HI pada pekan ini, luapkan rasa penasaran Anda dan luangkan waktu sejenak untuk menghirup wangi hutan di tengah hiruk-pikuk kota. Mampirlah dan temukan bagaimana setiap helaian daun di pedalaman sebenarnya ikut menentukan arah masa depan tempat kita berpijak hari ini! (Gdi)





