Site icon Wanita Indonesia

Musyawarah Burung Menguri-Uri Tradisi Spiritual di Pentas Teater

'Musyawarah Burung' Teater Satu mengisahkan perjalanan manusia menemukan kesejatian diri, dan hakikat kebenaran, menyala di Pentas Teater Indonesia. Foto: Dokumentasi Teater Satu.

WANITAINDONESIA.CO — Kisah dari novel klasik Musyawarah Burung maha karya Fariduddin Attar sukses dipentaskan Teater Satu Lampung, di Taman Budaya Lampung (14-15 September).

Iswadi penulis juga berperan sebagai sutradara membutuhkan waktu hingga lebih dari 10 tahun untuk mempelajari, dan memahami novel bergaya alegoris. Novel merupakan alegoris dari perjalanan manusia untuk menemukan kesejatian diri, dan hakikat kebenaran.

Iswadi menjelaskan, “Kisah perjalanan burung mencari Simurgh, Raja Burung merupakan refleksi dari kecenderungan sifat-sifat manusia.”

“Sifat inilah yang akan menentukan cara pandang manusia dalam memahami realitas serta menentukan apa yang menjadi tujuan hidup mereka.”

“Saya melihat masalah utama masyarakat di era sekarang adalah kehilangan pusat nilai di dalam dirinya.”

“Dalam hal ini saya menemukan relevansi antara novel tersebut dengan kenyataan zaman. Hidup manusia seperti kehilangan pusat gravitasi, melayang tak tentu arah terbawa arus zaman, yang tak dapat dikendalikan, “ungkap Iswadi.

Pertunjukan diperankan oleh 14 pemain yang masing-masing berperan ganda menjadi burung sekaligus berperan sebagai seorang penempuh.

Untuk menampilkan pertunjukan yang memukau, mereka melakukan persiapan selama enam bulan. “Para aktor digembleng fisiknya agar memiliki stamina serta keterampilan yang mumpuni, sehingga mampu memenuhi tuntutan artistik yang diberikan sutradara, “jelas Wika pimpinan produksi pertunjukan.

Yang menarik bagi enthusiast sastra, Musyawarah Burung yang ditampilkan merupakan bagian dari teks pertunjukan, yang saat ini sulit ditemukan di pentas teater dengan mengangkat isu spiritualisme, sekaligus kritik sosial yang tajam.

Salah seorang sutradara dunia yang pernah memainkan teks musyawarah burung adalah Peter Brook di tahun 1975-1979.

“Namun demikian ada juga seniman Indonesia lainnya yang pernah mengangkat kisah ini sebagai pertunjukan, tapi hanya ada satu dua seniman. Yang mengesankan muatan dalam teks tersebut semakin lama justru semakin relevan dengan situasi saat ini, “papar Wika.

Dalam pertunjukan kali ini teater satu juga berkolaborasi dengan para musisi dari lampung, videographer, dan filmmaker dari Yogyakarta. Selain di Lampung, Musyawarah Burung juga akan dipentaskan di Teater Black Box Salihara pada tanggal 19-20 September 2026. (*)

Exit mobile version