Site icon Wanita Indonesia

Momen Hari Ibu, Christine Hakim Agungkan Peran Ibu Rumah Tangga lewat Ajaran Agama Selaras Pancasila

Momen Hari Ibu 2025, Penerima Anugerah Ikon Prestasi Pancasila 2019, Aktris Christine Hakim apresiasi peran Ibu Rumah Tangga yang memiliki nilai lebih, butuh manajemen handal, serta support system keluarga. (Foto: Wanitaindonesia.co)

WANITAINDONESIA.CO – Sebagai pemeran, produser, serta aktivis, Aktris lintas generasi aset berharga bangsa Indonesia, Christine Hakim senantiasa menebar energi positif khusus untuk kaumnya.

Ditemui Wanitaindonesia.co pada lokakarya Peringatan Hari Ibu 2025 yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), di Gedung Perpustakaan Nasional, Jalan Merdeka Selatan (Jum’at, 19/12), Christine Hakim
penerima anugerah Ikon Prestasi Pancasila 2019 tampil enerjik mengobarkan semangat Pancasila kepada kaumnya.

Lokakarya “Perempuan Menyapa, Perempuan Berdaya, Menuju Indonesia Emas 2045 menjadi ruang refleksi, sekaligus penguatan peran strategis perempuan, dalam membangun tatanan sosial, pendidikan, dan peradaban bangsa yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.

Lokakarya diselenggarakan sebagai bagian dari komitmen BPIP dalam menggaungkan Pancasila secara kontekstual, dan inklusif khususnya lewat pemberdayaan perempuan sebagai pendidik, pemimpin komunitas, serta penggerak sosial di berbagai lapisan masyarakat.

Kepala BPIP, Prof. Yudian Wahyudi menjelaskan, “Pancasila bukan sekedar teks maupun simbol formal, melainkan fondasi moral, pemersatu bangsa, dan pedoman etis yang harus selalu hidup dalam praktik sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.”

Prof. Yudian menambahkan, “Pancasila harus hadir dalam setiap tindakan. Pembinaan ideologi Pancasila harus menyentuh ruang kehidupan masyarakat, bersifat kontekstual, inklusif, serta menghormati kearifan lokal yang menjadi perekat komunitas.”

Lewat momen peringatan Hari Ibu, Prof. Yudian berpesan, “Hari Ibu harus menjadi awal dari sebuah langkah konkret berkelanjutan. Dengan memperkuat kapasitas perempuan, dan menghadirkan Pancasila dalam pendidikan, serta kehidupan sosial, kita sedang mempersiapkan fondasi yang kokoh bagi generasi yang berdaya, dan beretika menuju Indonesia Emas 2045.”

Turut memberikan pendapat Wakil Ketua BPIP, Rima Agristina. Dia menyampaikan, “Perempuan memiliki posisi strategis dalam proses pembudayaan Pancasila, karena kedekatannya dengan lingkungan keluarga, pendidikan, dan komunitas.”

“Mereka merupakan agen perubahan nilai lewat perannya sebagai pendidik, pengasuh, serta pemimpin komunitas, perempuan mampu menerjemahkan Pancasila ke dalam praktik sehari-hari, yang berdampak nyata kepada masyarakat, “imbuhnya.

Usai pembukaan lokakarya “Perempuan Menyapa, Perempuan Berdaya, Menuju Indonesia Emas 2045” Christine Hakim berkenan diwawancarai oleh Wanitaindonesia.co. Christine Hakim menjadi salah satu persona Ikon Prestasi Pancasila 2019. Sebagai pekerja seni yang telah berkiprah selama lebih dari 50 tahun, Christine Hakim memiliki pemikiran ihwal peran Ibu Rumah Tangga, yang menurutnya tak lagi bisa dipandang sebelah mata. IRT itu merupakan sebuah profesi yang membutuhkan keterampilan, manajemen, dan pengorbanan. Disayangkan kondisi sosial yang patriarkis menjadikan profesi IRT tidak dianggap sebagai pekerjaan yang serius, dikarenakan tidak menghasilkan finansial.

Ki-ka : Deputi Kesetaraan Gender Kementerian PPPA, Dr. Amurwani Dwi Lestariningsih, SSos, M Hum, Kepala BPIP, Prof. Yudian Wahyudi, Ikon Prestasi Pancasila 2019, Christine Hakim lewat lokakarya “Perempuan Menyapa, Perempuan Berdaya, Menuju Indonesia Emas 2045, momen Hari Ibu 2025 menjadi awal dari sebuah langkah konkret berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas perempuan, menghadirkan Pancasila dalam pendidikan, serta kehidupan sosial. (Foto: Istimewa)

Wanitaindonesia.co :
Apa pesan untuk Pembaca Wanitaindonesia.co terkait momentum Hari Ibu 2025, dan Pancasila? Dikarenakan hingga saat ini masih tingginya ketidaksetaraan gender yang dialami oleh Wanita Indonesia?

Christine Hakim:
“Kita sebagai hamba Allah telah diberikan dengan amanah masing-masing dari Tuhan Semesta Alam. Baik itu laki-laki, dan khususnya perempuan.
Namun demikian Christine berpesan bagi Wanita Indonesia yang berperan sebagai Ibu Rumah Tangga dikarenakan seakan-akan peran tersebut tidak lebih berarti dari profesi yang lain di luar itu, “kata aktris era klasik Indonesia hingga panggung internasional modern.

“Saya justru dapat ikut merasakan beratnya melakoni peran sebagai Ibu Rumah Tangga. Dikarenakan lekat dengan peran multitasking yang tak mudah. Dalam satu waktu menghandle banyak tugas seperti membersihkan rumah, mencuci lalu memasak sembari mengasuh anak-anaknya.
Pun masih juga dituntut untuk memikirkan banyak hal diantaranya menyiasati keuangan, “ujar pemeran watak terbaik Indonesia.

“Namun daripada beragam tugas mulia tersebut, utamanya bagaimana kaum ibu dapat menjaga keutuhan rumah tangganya seperti keluarga inti, dan juga keluarga besar, “tambahnya.

“Menurutnya butuh manajemen yang handal dari peran IRT. Bagaimana kaum ibu dapat menghadirkan kebersamaan yang telah terjalin secara berkelanjutan.
Saya percaya bilamana support system yang ada dalam keluarga sudah kuat, tentunya akan memudahkan, meringankan tugas seorang perempuan, bilamana diberikan amanat agar dapat menjalankan peran di luar, “ungkap aktris kelahiran Kuala Tungkal, Jambi.

“Saya sendiri sering berpergian, shooting di luar selama berbulan-bulan juga harus ke luar negeri. Di sinilah saya butuh support system dari anggota keluarga yang lain. Termasuk oleh pasangan hidup kita.
Esensinya penting untuk menjaga nilai-nilai dasar kita sebagai manusia yakni Cinta Kasih.
Juga harus menjaga moral, etika, saling menghargai, “terang pemenang 11 Piala Citra.

“Bagi saya Asisten Rumah Tangga merupakan support system, dan menjadi bagian dari keluarga.
Saya tidak pernah terpikir menganggap ART di rumah hanya sebagai ART.
Tapi lebih dari sekedar itu, saya memuliakan peran mereka. Mereka adalah pribadi-pribadi yang harus saya sayangi, saya perhatikan kebutuhannya, seperti ketika saya memperhatikan anak-anak saya, serta keluarga saya sendiri.
Ini yang tak boleh kita bedakan.
Para asisten tersebut sudah menjadi bagian dari anak saya dalam tanda kutip, “ucap Herlina Christine Natalia Hakim bungah.

Christine Hakim Berharap Pancasila yang sudah didesain oleh Founding Father bisa dijadikan pedoman hidup Bangsa Indonesia, yang mengatur cara pandang sebagai petunjuk kehidupan sehari-hari. (Foto: Wanitaindonesia.co)

“Saya percaya pada akhirnya setelah saya melewati perjalanan 50 tahun lebih di industri perfilman Nasional, peran saya sebagai seorang ibu harus menjadi pegangan dasar saya. Dikarenakan setiap kehidupan itu kan harus terus berjalan, “imbuhnya.

“Proses aging, serta proses lainnya tentunya tak akan bisa dihindari. Saya masih punya tanggung jawab untuk membesarkan anak-anak saya di dunia film.
Karena mereka akan menjadi generasi penerus, “papar wanita yang memiliki darah campuran Aceh, Minang, Jawa, dan Timur Tengah.

“Jadi bagi seorang ibu yang tahu khusus akan perannya, dengan cinta kasih yang berawal dari keluarga, kitanya dapat memberikan pendidikan kepada mereka. Tentu seorang ibu juga akan siap berkorban untuk anak-anaknya, dan juga membekali mereka dengan nasihat, dan ilmu. Dikarenakan tantangan hidup di akhir zaman terutama bagi yang percaya kepada Tuhan, dunia semakin tidak baik -baik saja, “terang Christine.

“Kita tahu walaupun kita berharap, namun itulah proses dari sebuah skenario yang sudah Tuhan tuliskan di alam semesta, di alam kehidupan ini.
Bagaimana tantangan di depan mampu membuat kita menjadi lebih baik sekaligus bisa bertahan. Tidak masuk ke dalam perpecahan, yang akan membawa kita kepada kehancuran, “tuturnya.

“Saya berharap Pancasila yang sudah didesain oleh Founding Father bisa dijadikan pedoman hidup Bangsa Indonesia, yang mengatur cara pandang
sebagai petunjuk kehidupan sehari-hari. Menjadi dasar kita untuk hidup berbangsa, dan bernegara, serta menjaga persaudaraan.”

“Saya pribadi tidak setuju dengan sistem negara federal, yang sekarang sudah mulai digaung-gaungkan. Dengan Pancasila saja sudah rentan, terlebih dengan negara federal.”

“Kita punya otonomi daerah saja kadang-kadang keadilan, dan kesejahteraannya masih kurang merata. Kembali lagi tergantung bagaimana, apapun sistemnya itu. Saya kira hal tersebut tergantung terutama dari kualitas manusia, terutama pada pemimpinnya, “ujarnya berpendapat.

“Maka dari itu, kenapa kemudian kita harus selalu menjaga, dan memelihara agar sifat-sifat kita sebagai manusia, yang diwajibkan dari Tuhan kepada kita, harus terus dijaga, dipelihara, juga disuburkan agar jangan sampai mati, “urainya.

Wastra tenun ikat lahir dari kekuatan Wanita Indonesia berdaya sebagai penggerak sosial. (Foto: Wanitaindonesia.co)

Wanitaindonesia.co :
Sebagai Ikon Prestasi Pancasila 2019 apa peran yang Anda jalankan?.

Christine Hakim:
“Peran saya mengupayakan bagaimana Pancasila tetap menjadi komitmen kita bersama yang harus selalu dijaga. Jangan pernah beranggapan bahwa Pancasila itu bertentangan dengan agama lho. Kalau masih ada orang yang menganggap bertentangan dengan agama, berarti Sila Pertama bukan Ketuhanan YME, “ujarnya.

“Artinya Sila Pertama itu salah satunya memberikan kita kebebasan kepada kita masing-masing untuk meyakini, serta menjalankan apa yang kita yakini, dan percaya.
Urusan keimanan itu urusan Tuhan. Yang menggerakkan hati manusia juga Tuhan, “tegas pemeran sosok di Film Tjoet Nja’Dien.

“Kalau saya belajar dari profesi saya pada seni peran. Awalnya kan pada proses persiapan. Saya perlu melakukan riset. Perlu memahami semua aspek kehidupan yang harus kita perankan. Namun ketika pada saat kamera menyala nomor satu adalah menjalankan ‘rasa’ yang kita miliki. Butuh kepekaan bagi kita agar kita bisa mencintai, “jelasnya.

“Rasa itulah yang kemudian saya terus asah. Namun demikian saya melihat manusia saat ini kepekaannya semakin menipis. Walau menurut saya ada juga sebagian yang masih sensitif. Namun saya percaya, di luar sana masih banyak masyarakat Indonesia yang memiliki sifat kemanusiaan, “cetus produser film Pasir Berbisik.

“Namun demikian, kita harus terus waspada, selalu berhati-hati karena iblis, setan, dan jin siap untuk memecah belah.
Kembali ke dunia peran, saya merasa bersyukur dengan beragam peran yang saya lakoni. Mulai dari peran sebagai perempuan pejuang, hingga memerankan sosok iblis. Karenanya saya berpesan kepada pembaca Wanitaindonesia.co, berhati-hatilah dengan iblis, dikarenakan musuh kita adalah bukan dengan sesama manusia, melainkan dengan iblis, setan, dan jin yang selalu memecah belah, “tutupnya. (*)

Exit mobile version