Site icon Wanita Indonesia

Modernisasi Rantai Pasok Demi Kemandirian Industri Susu Nusantara

Ilustrasi peternakan sapi perah. gdi/AI

WANITAINDONESIA.CO – Wajah industri persusuan tanah air kini sedang bersiap menghadapi babak baru yang sarat akan sentuhan teknologi modern. Langkah besar ini diambil sebagai strategi jitu untuk mendongkrak daya saing sekaligus memperkokoh jaringan distribusi bahan baku lokal agar mampu berbicara banyak di panggung nasional. Melalui program digitalisasi di setiap tempat penerimaan susu, pemerintah berkomitmen penuh untuk merombak tata kelola sektor hulu demi terciptanya ekosistem industri pengolahan yang jauh lebih tangguh, efisien, dan transparan.

Transformasi digital ini menjadi angin segar dalam momentum peringatan Hari Susu Nusantara 2026 yang menuntut adanya percepatan hilirisasi dan peningkatan mutu bahan baku secara menyeluruh. Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa komoditas strategis ini memegang peranan krusial dalam menopang ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, penguatan efisiensi dan transparansi data melalui komputerisasi sistem di tingkat pengepul menjadi kunci utama untuk merangsang pertumbuhan industri pengolahan susu yang jauh lebih berkelanjutan ke depan.

Nyawa dari kekuatan industri ini sejatinya terletak pada eratnya jalinan kerja sama antara pabrik pengolahan dengan para peternak di lapangan. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, menjelaskan bahwa penguatan pasokan lokal secara mandiri merupakan langkah mutlak untuk memangkas ketergantungan pada bahan baku luar negeri yang saat ini masih mendominasi iklim industri. Komitmen tersebut dibuktikan dengan penyediaan teknologi unit pendingin (cooling unit) serta digitalisasi yang hingga tahun dua ribu dua puluh empat lalu telah berhasil menyentuh sembilan puluh enam tempat penerimaan susu di bawah naungan sembilan koperasi besar di Jawa Barat dan Jawa Timur, dengan melibatkan lebih dari dua belas ribu peternak sapi perah.

Tidak berhenti di situ, pemantauan ketersediaan bahan baku kini kian akurat berkat peluncuran aplikasi pemantauan pasokan susu segar dalam negeri yang terintegrasi langsung dengan mesin-mesin digital di tingkat koperasi. Guna memberikan stimulus konkret bagi pelaku usaha di sektor makanan dan minuman, pemerintah juga menggulirkan Program Restrukturisasi Mesin dan/atau Peralatan melalui Peraturan Menteri Perindustrian Nomor empat puluh Tahun dua ribu dua puluh enam. Skema ini menawarkan fasilitas penggantian sebagian biaya (reimbursement) hingga tiga puluh lima persen untuk pembelian unit mesin baru, yang dapat dinikmati oleh korporasi besar maupun kelompok koperasi peternak mitra.

Melalui stimulus teknologi dan finansial yang masif ini, industri persusuan nasional diharapkan tidak hanya mampu mencukupi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga tumbuh menjadi pilar ekonomi yang mandiri. Langkah hilirisasi yang terintegrasi dari hulu ke hilir ini menjadi pondasi kokoh bagi kedaulatan pangan jangka panjang. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, memberikan penekanan optimistis mengenai masa depan sektor ini.

“Sinergi antara peternak rakyat, koperasi, dan industri pengolahan susu perlu terus diperkuat guna menciptakan ekosistem industri persusuan yang terintegrasi, produktif, dan berkelanjutan,” tegas Putu Juli Ardika, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian.

Saat teknologi digital mulai merambah ke pelosok peternakan dan komitmen insentif pemerintah berjalan beriringan, fajar cerah bagi kemandirian industri susu nasional kian benderang. Upaya kolektif ini memanggil seluruh elemen industri untuk terus berinovasi dan merapatkan barisan, memastikan setiap tetes susu yang dihasilkan dari bumi pertiwi memiliki kualitas prima yang mampu merajai pasar negeri sendiri tanpa harus terus-menerus menengok ke luar angkasa global. (Gdi)

Exit mobile version