
WanitaIndonesia.co — Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengungkapkan bahwa pemerintah dan Kementerian UMKM saat ini memiliki tiga fokus utama untuk memperkuat sektor UMKM di Indonesia. Fokus tersebut meliputi percepatan perizinan dan sertifikasi, akses pembiayaan, serta perluasan akses pasar, termasuk kesempatan ekspor.
Maman menekankan pentingnya kolaborasi strategis lintas sektor, khususnya antara pemerintah dan dunia usaha, seperti Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Menurutnya, kemitraan ini berpotensi menjadi katalisator untuk melahirkan UMKM yang lebih kompetitif dan mampu naik kelas.
Dalam Rapat Kerja Nasional ke-34 Apindo 2025 yang diadakan di Bandung, Jawa Barat, Maman menguraikan perlunya keterlibatan aktif dari para pengusaha yang telah melewati berbagai pengalaman, termasuk pasang surut dalam dunia bisnis. Ia yakin bahwa pengalaman berharga tersebut dapat digunakan sebagai pijakan untuk membangun dan memberdayakan UMKM di Indonesia.
Tak hanya itu, Maman juga memberikan perhatian terhadap proses sertifikasi bagi UMKM—seperti sertifikasi halal dan izin BPOM—yang menurutnya harus dipercepat. Langkah ini bertujuan agar para pelaku UMKM memiliki legalitas yang mampu meningkatkan daya saing mereka, baik di pasar lokal maupun internasional.
Di sisi pembiayaan, Maman mendorong dukungan skema formal pemerintah sekaligus membuka peluang bagi Apindo menjadi mitra bisnis langsung bagi UMKM. Bahkan, Apindo dapat berperan sebagai angel investor yang memfasilitasi kolaborasi bisnis ke bisnis.
Ia juga menyebut Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai peluang strategis bagi UMKM untuk masuk ke dalam rantai pasok bahan pangan berkualitas dalam program tersebut. Hal ini dianggap sebagai langkah yang tidak hanya membuka pasar baru bagi UMKM tetapi juga memperkuat keterlibatan mereka dalam pengadaan lokal.
Lebih jauh lagi, Maman menggarisbawahi pentingnya akses pasar ekspor bagi UMKM. Namun demikian, ia menekankan bahwa agenda ekspor harus selalu mengedepankan kualitas produk serta keberlanjutan pasokan. Menurutnya, UMKM tidak hanya dituntut untuk naik kelas, tetapi juga menjaga mutu dan konsistensi produknya.
Maman berharap sinergi strategis bersama Apindo dapat terus diperkuat demi menjadikan UMKM sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang tangguh, mandiri, dan mampu bertahan menghadapi tantangan global.
Sementara itu, Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani turut menggarisbawahi urgensi kolaborasi multi-pihak untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi UMKM. Menurut Shinta, Apindo berkomitmen membantu menyusun peta jalan strategis, memberikan masukan teknis, dan membangun sinergi lintas sektor untuk mendukung pengembangan UMKM.
Melalui program “Apindo UMKM Merdeka,” Apindo menyasar pemberdayaan pengusaha UMKM dan mahasiswa di 17 provinsi dengan lebih dari 1.000 peserta dari kalangan mahasiswa dan perguruan tinggi. Tujuan utama dari inisiatif ini adalah mendorong diplomasi ekonomi global melalui UMKM, memperluas penetrasi ekspor, serta mengintegrasikan UMKM ke dalam rantai pasok nasional.
Shinta optimis bahwa kolaborasi lintas sektor ini tidak hanya akan memperluas potensi UMKM untuk bersaing di pasar global tetapi juga mengokohkan perannya sebagai bagian penting dalam ekosistem ekonomi nasional. Ia berharap sinergi yang berlangsung dapat membawa perubahan nyata atas berbagai tantangan yang selama ini dihadapi sektor usaha kecil dan menengah di Indonesia. (srv)




