Menolak Takut Hadapi Perimenopause, Kuncinya Tetap Produktif di Usia 40-an

Keterangan foto (dari kiri ke kanan): Dr. dr. Martina Hutabarat, Sp.OG; dr. Feliani, Sp.Ak; dan Susanna Angraini, CEO & Co-Founder Yoona Women, menjadi pembicara dalam sesi talkshow bertajuk "Kenapa Saya Berubah? Mengenal Perubahan Hormon di Usia 35+ dan Solusinya" pada seminar "Jangan Malu, Saatnya Bicara Perimenopause". (Gdi)

WANITAINDONESIA.CO – Memasuki gerbang usia 40-an sering kali menjadi fase krusial bagi banyak individu. Di satu sisi, performa karier dan kematangan hidup sedang berada di puncak. Namun di sisi lain, tubuh mulai mengirimkan sinyal-sinyal perubahan yang tak jarang mengganggu kenyamanan. Mulai dari siklus bulanan yang tidak teratur, gangguan tidur, kelelahan tanpa sebab yang jelas, perubahan suasana hati (mood swing), hingga berat badan yang mendadak melonjak. Sayangnya, karena tingginya tuntutan peran dalam pekerjaan maupun keluarga, perubahan biologis yang nyata ini kerap diabaikan dan dianggap sebagai angin lalu. Padahal, mengenali transisi ini sejak dini adalah investasi terbaik untuk menyambut proses penuaan dengan tetap sehat, nyaman, dan bahagia.

Fase transisi alami menjelang berakhirnya masa kesuburan ini dikenal sebagai perimenopause. Guna mengikis stigma dan membuka ruang diskusi yang lebih edukatif, Primaya Hospital Group menggelar seminar bertajuk “Jangan Malu, Saatnya Bicara Perimenopause”. Acara yang diselenggarakan di Jakarta pada Sabtu, 18 Juli 2026 ini berkolaborasi dengan Yoona Women, Martha Tilaar SPA, dan Blibli.

Melalui pendekatan multidisiplin, seminar ini mengupas tuntas dinamika perimenopause dari berbagai sudut pandang, mulai dari fluktuasi hormon, kesehatan fisik dan mental, kecantikan kulit, pemenuhan nutrisi, hingga pentingnya ekosistem pendukung.

Secara biologis, fase ini umumnya bergulir pada rentang usia 40 hingga 50 tahun. Penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron secara fluktuatif ternyata tidak hanya memengaruhi sistem reproduksi. Dampaknya meluas pada penurunan kepadatan tulang, kekuatan otot, metabolisme tubuh, fungsi kandung kemih, hingga memicu penipisan kulit dan rambut.

Baca Juga :  Memahami Perimenopause, Tahap Peralihan Bunda ke Era Menopause

Chief Executive Officer (CEO) Primaya Hospital Group, Leona A. Karnali, CFA, FRM, menegaskan bahwa perubahan selama masa transisi ini berdampak langsung pada kualitas hidup secara menyeluruh. Oleh karena itu, pendampingan kesehatan yang holistik dan terintegrasi mutlak diperlukan.

“Perimenopause merupakan fase alami dalam kehidupan, namun bukan berarti harus dijalani dengan rasa tidak nyaman. Banyak yang belum menyadari bahwa perubahan yang mereka rasakan dapat dikelola melalui edukasi dan pendampingan medis yang tepat. Yang terpenting, tidak perlu merasa khawatir secara berlebihan hingga melakukan penanganan yang berlebihan (over treatment), tetapi memahami kapan harus mendapatkan pertolongan agar tidak terlambat,” ujar Leona A. Karnali, CFA, FRM.

Dari kacamata medis, Dr. dr. Martina Hutabarat, Sp.OG, menjabarkan bahwa rata-rata seseorang mulai memasuki fase transisi ini pada usia 47,5 tahun, sedangkan menopause secara penuh umumnya terjadi pada usia 51,3 tahun. Mengingat angka harapan hidup masyarakat saat ini tergolong tinggi, hampir sepertiga perjalanan hidup akan dilewati pada fase klimakterik (masa peralihan). Oleh karena itu, deteksi dini gejala menjadi sangat penting agar langkah pengelolaan bisa segera diambil.

Setiap keluhan fisik yang muncul dapat diselaraskan melalui penanganan yang personal. Sebagai alternatif yang kini telah berjalan beriringan dengan sains modern, dokter spesialis akupuntur dr. Feliani, Sp.Ak, menjelaskan bahwa terapi akupuntur medis terbukti efektif membantu menyeimbangkan kembali vitalitas tubuh yang sempat menurun akibat gejolak hormon.

Pengalaman nyata mengenai fase ini turut dibagikan oleh Susanna Angraini selaku CEO & Co-Founder Yoona Women. Menurutnya, keberanian untuk membicarakan penurunan stamina hingga kondisi kandung kemih yang sensitif (leaky bladder) adalah langkah awal yang krusial. Isu-isu biologis seperti ini sudah saatnya tidak lagi dianggap tabu agar tidak ada pihak yang merasa berjuang sendirian. Komitmen untuk menghadirkan kenyamanan sehari-hari juga diwujudkan melalui inovasi produk sanitasi yang lebih aman dan bebas klorin.

Baca Juga :  Memahami Perimenopause, Tahap Peralihan Bunda ke Era Menopause

Dari sisi pemenuhan gizi, Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, Sp.GK., Subsp.PK, mengingatkan pentingnya menerapkan pola makan dengan nutrisi berimbang. Langkah ini menjadi benteng utama untuk menjaga metabolisme, mempertahankan massa otot, sekaligus menekan risiko serangan penyakit kronis yang rentan mengintai di usia matang.

Perubahan hormon ini nyatanya juga berdampak signifikan pada penampilan luar. Dr. dr. Komang Ardi Wahyuningsih, M.Biomed., Sp.KKLP., Subsp. FOMC, memaparkan bahwa penurunan estrogen menyebabkan produksi kolagen dan elastin merosot tajam. Efeknya, kulit menjadi lebih tipis, kering, dan kehilangan kelenturannya. Bahkan, sekitar 30 persen kolagen pada kulit dapat menyusut dalam lima tahun pertama setelah menopause. Kondisi ini menuntut penanganan yang tepat sesuai karakteristik tubuh masing-masing individu.

Menanggapi fenomena tersebut, President Director Martha Tilaar SPA, Wulan Maharani Tilaar, mengajak masyarakat untuk memandang fase transisi ini sebagai momentum terbaik untuk melakukan perawatan diri secara menyeluruh (holistik) agar aura positif, kesehatan, dan rasa percaya diri tetap terjaga optimal.

Fase transisi ini juga memberikan tantangan besar pada aspek fisik dan mental. Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi dr. Gustiawaty Army, Sp.KFR, mengungkapkan data bahwa sekitar 72,9 persen individu pada masa ini mengalami gangguan dasar panggul. Untuk mengatasinya, aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur dan bertahap memegang peranan vital dalam menjaga kekuatan tulang dan otot.

Baca Juga :  Memahami Perimenopause, Tahap Peralihan Bunda ke Era Menopause

Beban psikologis pun kerap bertumpuk karena fase ini sering kali bertepatan dengan dinamika hidup yang tinggi, seperti tuntutan pekerjaan yang memuncak atau fase adaptasi keluarga. Dokter spesialis kedokteran jiwa dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ., MSc, menekankan bahwa ketidakstabilan emosi yang muncul merupakan respons biologis yang nyata dari perubahan hormon, bukan sekadar sensitivitas tanpa alasan.

“Penting untuk mengelola stres melalui langkah sederhana seperti metode STOP (Stop sejenak, Tarik napas perlahan, Observasi, dan Pilih respons yang membantu). Jika gejala mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau kualitas hidup, jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga profesional. Perimenopause adalah fase kehidupan yang normal, bukan penyakit,” tutur dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ., MSc.

Sebagai penutup diskusi, Chief Operating Officer (COO) & Co-Founder Blibli, Lisa Widodo, mengajak semua pihak untuk optimis dan tidak memandang fase ini sebagai momok yang menurunkan produktivitas. Ketika penurunan fokus atau kondisi kabut otak (brain fog) dipahami sebagai proses biologis yang bisa dikelola, maka adaptasi akan berjalan lebih mudah tanpa harus menyalahkan diri sendiri.

Menghadapi perimenopause bukanlah akhir dari segalanya, melainkan babak baru untuk pembuktian kematangan diri. Dengan pemahaman medis yang utuh, gaya hidup yang terjaga, serta dukungan penuh dari lingkungan kerja dan keluarga, performa terbaik untuk tetap berkarya, memimpin, dan menginspirasi akan terus menyala di setiap fase kehidupan. (Gdi)