WANITAINDONESIA.CO — Laju transformasi teknologi di tanah air kini bergerak kian kencang, membawa angin segar bagi pertumbuhan sektor keuangan dan bisnis nasional. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memproyeksikan nilai ekonomi digital Indonesia bakal melampaui angka 130 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.080 triliun pada 2026. Lonjakan angka yang sangat fantastis ini didorong oleh pesatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang makin masif di berbagai sektor bisnis.
Proyeksi megah tersebut sejalan dengan temuan UOB Business Outlook Study 2026 yang mencatat sebanyak 74% bisnis yang disurvei di Indonesia telah menerapkan solusi kecerdasan buatan. Menariknya, dari jumlah tersebut, sebanyak 47% di antaranya melaporkan peningkatan kepuasan pelanggan secara signifikan. Penetrasi teknologi pintar ini terbukti bukan sekadar tren sesaat, melainkan strategi krusial dalam menciptakan lompatan kualitas layanan di era serba cepat.
Melihat fenomena tersebut, Staf Ahli Menteri Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya Kementerian Komunikasi dan Digital, Raden Wijaya Kusumawardhana menekankan pentingnya infrastruktur data yang andal dan pemanfaatan kecerdasan buatan yang bertanggung jawab. Saat berbicara di ajang Jakarta CX Executive Roundtable 2026 yang mengusung tema “Beyond Customer Experience: Turning Intelligence into Business Impact” di Hotel Pullman Thamrin Jakarta pada Kamis, ia menjelaskan bahwa pusat data tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas penyimpanan informasi, melainkan juga menjadi fondasi bagi komersialisasi data, layanan publik, platform digital, serta pemanfaatan kecerdasan buatan secara terintegrasi dan berkelanjutan.
Lebih jauh, kecerdasan buatan membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas pengalaman pelanggan (customer experience) dan komunikasi publik. Keunggulan ini mencakup kemampuan menganalisis percakapan dan mendeteksi isu hingga mengenali pola pertanyaan guna mendukung respons yang jauh lebih cepat serta presisi. Namun demikian, Raden Wijaya Kusumawardhana mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi canggih ini harus tetap memperhatikan potensi risiko serta prinsip kemanusiaan, keamanan, kepercayaan, dan transparansi agar tidak menjadi kotak hitam (black box), melainkan teknologi yang dapat dipahami dan dipertanggungjawabkan. Guna mendukung meluncurnya inovasi yang aman tersebut, pemerintah bahkan telah menyiapkan dua regulasi khusus terkait kecerdasan buatan.
Pertemuan strategis di ibu kota tersebut turut dihadiri oleh para pemimpin industri ternama dari sektor perbankan, asuransi, infrastruktur, telekomunikasi, instansi pemerintah, serta energi dan pertambangan. Kehadiran para pilar industri ini menegaskan komitmen bersama dalam menyongsong era baru ekonomi berbasis pengetahuan dan teknologi presisi.
Perjalanan Indonesia menuju era puncak ekonomi digital bukan lagi sekadar impian di atas kertas, melainkan sebuah realitas yang sedang diukir bersama. Ketika kecerdasan buatan berpadu serasi dengan tata kelola yang bertanggung jawab dan beretika, landasan ekonomi nasional dipastikan akan berdiri kian kokoh, mewujudkan masa depan digital yang tidak hanya canggih tetapi juga aman dan memberi manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat. (Gdi)

