WANITAINDONESIA.CO – Keriuhan metropolitan Jakarta sejenak luruh ketika bentangan sayap-sayap bebas kembali membelah langit pesisir utara. Di tengah kepungan gedung pencakar langit dan deru lalu lintas yang tiada henti, Taman Wisata Alam (TWA) Angke Jakarta Utara menjadi saksi momen bersejarah pemulihan ekosistem lahan basah ibu kota. Kementerian Kehutanan secara resmi melepasliarkan 15 ekor burung air di kawasan konservasi tersebut pada Senin (10/8/2026), mengembalikan gema kehidupan alami yang sempat redup di benteng hijau terakhir Jakarta.
Aksi pelepasliaran yang memikat perhatian publik ini dipimpin langsung oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki. Momen berharga ini digelar sebagai bagian dari puncak peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 yang dilaksanakan secara serentak bersama seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) serta pimpinan taman nasional di penjuru Nusantara.
Langkah mulia ini tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, melainkan wujud nyata komitmen pemerintah dalam merawat ruang hidup alam liar. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, menegaskan bahwa pelepasan satwa ini memegang peranan krusial bagi keseimbangan rantai makanan lokal.
“Pelepasliaran dilakukan untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan sekaligus memperkaya kembali komponen keanekaragaman hayati di habitat yang sesuai,” ujar Satyawan Pudyatmoko saat memberikan keterangannya.
Adapun spesies burung yang dikembalikan ke alam bebas ini meliputi ibis cucukbesi (Threskiornis melanocephalus) yang masuk dalam daftar satwa dilindungi, serta pecuk padi hitam (Phalacrocorax sulcirostris). Kehadiran kedua jenis burung air berukuran besar ini bukan sekadar pemandangan visual yang memanjakan mata, melainkan penanda vital kesehatan lingkungan. Kehadiran pecuk padi hitam, misalnya, menjadi tolok ukur utama dari kebersihan dan kesegaran kondisi perairan yang mampu menopang kehidupan satwa liar.
Tidak berhenti pada pelepasliaran burung, helat ini juga dirangkaikan dengan penanaman puluhan bibit bakau (mangrove) sebagai gerakan pemulihan ekosistem nasional secara serentak. Langkah terpadu ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Presiden Prabowo Subianto terkait percepatan rehabilitasi lahan kritis serta penguatan pemulihan lingkungan secara berkelanjutan.
Penunjukan TWA Angke sebagai pusat kegiatan pun menyimpan alasan mendalam. Memiliki luas mencapai 99,82 hektare di Kelurahan Kamal Muara, Kecamatan Penjaringan, kawasan ini merupakan benteng alami yang memagari Jakarta dari ancaman abrasi dan intrusi air laut (perembesan air laut ke daratan). Sebagai salah satu oasis tersisa di ibu kota, TWA Angke telah membuktikan keberhasilan restorasi hutan bakau yang luar biasa. Berdasarkan data Balai KSDA Jakarta, tutupan lahan bakau di kawasan ini melonjak drastis hingga mencapai 70 hingga 80 persen dari total luas area setelah konsisten menerima penanganan pemulihan.
“Di Jakarta ini kita masih mempunyai kawasan mangrove yang sangat penting, dan ini harus kita pertahankan. TWA Angke menjadi salah satu contoh bagaimana ekosistem yang berada di tengah kota tetap bisa dipulihkan dan memberikan manfaat ekologis,” lanjut Satyawan Pudyatmoko.
Keberadaan hutan bakau yang rindang dan sehat terbukti ampuh melindungi garis pantai, menjadi benteng penahan karbon alami untuk mengantisipasi perubahan iklim, sekaligus menyediakan rumah yang aman bagi ribuan nyawa keanekaragaman hayati. Satyawan juga menekankan bahwa utuhnya sebuah ekosistem tidak hanya diukur dari rindangnya pepohonan semata, melainkan dari harmonisasi seluruh penghuni di dalamnya.
“Karena itu, dalam konservasi, ekosistem hutan itu tidak hanya pohonnya, tetapi juga satwa liar di dalamnya yang merupakan komponen penting untuk dipulihkan keberadaannya,” tutup Satyawan Pudyatmoko dengan penuh optimistis.
Kembalinya belasan burung air ke pelukan alam TWA Angke memberikan kita sebuah renungan berharga: di balik derak pesatnya modernisasi Jakarta, ruang untuk kelestarian alam akan selalu ada selama kepedulian manusia terus dirawat. Sudahkah kita ikut mengambil peran kecil hari ini untuk menjaga bumi yang menjadi satu-satunya rumah bagi seluruh makhluk hidup? (Gdi)





