Site icon Wanita Indonesia

Mengubah Timbunan Sisa Dapur Menjadi Nyala Api Dapur di Rusunawa Rorotan

Pansus Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan DPRD Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta meninjau fasilitas pengolahan sampah organik berbasis pencerna biologis (biodigester) komunal yang dikembangkan Bank Jakarta di Rumah Susun Sederhana Sewa Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Senin (7/10/2026). Bank Jakarta

WANITAINDONESIA.CO – Timbunan sisa bahan makanan dan potongan sayuran dari dapur kerap kali berakhir menjadi masalah lingkungan yang menumpuk. Namun, di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, sisa olahan rumah tangga tersebut kini diolah secara langsung di tempat hingga menghasilkan energi bersih terbarukan berupa gas bio (biogas) yang mengalir kembali ke kompor warga.

Inovasi pengolahan limbah hayati (organik) komunal berbasis pengurai hayati (biodigester) ini dihadirkan oleh Bank Jakarta bersama mitranya. Fasilitas tersebut ditinjau langsung oleh Panitia Khusus Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (Pansus CSR/TJSL) DPRD Provinsi DKI Jakarta pada Senin (5/10/2026) sebagai bentuk pengawasan legislatif terhadap pelaksanaan program tanggung jawab sosial Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Ketua Pansus CSR/TJSL DPRD DKI Jakarta Ghozi Zulazmi memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah strategis ini. Ia menilai keberadaan fasilitas tersebut membawa dampak yang sangat positif dan signifikan bagi masyarakat yang tinggal di pemukiman padat penduduk.

“Sekitar 60 persen sampah kita itu organik dari dapur atau rumah tangga yang memang butuh pengolahan khusus. Kami berharap dengan adanya biodigester ini, sampah bisa terolah langsung di tempat dan dihasilkan menjadi energi terbarukan berupa biogas yang bisa digunakan kembali oleh para penghuni rusun untuk memasak,” ujar Ghozi di Rusunawa Rorotan.

Peninjauan lapangan ini turut dihadiri oleh Kepala Pokja Pengembangan Ekonomi Sirkular Direktorat Pengurangan Sampah/Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) Asep Setiawan serta Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara Edy Mulyanto. Ghozi menegaskan bahwa kegiatan peninjauan ini sejalan dengan komitmen DPRD DKI Jakarta yang sedang mendorong pembentukan Peraturan Daerah (Perda) terkait CSR sebagai payung hukum yang lebih kuat. Menurutnya, pola pikir (mindset) masyarakat dan dunia usaha harus diubah, dari yang menganggap tanggung jawab sosial sekadar bantuan sukarela menjadi suatu kewajiban entitas korporasi.

“Mindset selama ini CSR adalah bentuk sukarela atau hadiah, padahal sebenarnya TJSL ini adalah bentuk kewajiban yang dilakukan oleh perusahaan, termasuk BUMD. Kami berharap program ini tidak berhenti di Jakarta Utara saja, tetapi juga dilebarkan ke wilayah lain seperti Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan kawasan padat penduduk lainnya,” kata Ghozi.

Sementara itu, Direktur Utama Bank Jakarta Agus H Widodo menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas pengurai hayati (biodigester) ini merupakan komitmen jangka panjang perseroan dalam membangun ekosistem pengolahan sampah yang berkelanjutan di wilayah ibu kota.

“Bagi Bank Jakarta, program lingkungan ini bukan hanya sekadar instalasi, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem pengelolaan sampah yang lebih dekat dengan masyarakat dan memiliki manfaat langsung. Pengolahan sampah menjadi energi terbarukan saat ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sudah menjadi satu kebutuhan bagi Jakarta,” jelas Agus.

Secara teknis, instalasi yang dibangun di Rusunawa Rorotan dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Kelurahan Rawa Badak Utara mengandalkan pencerna gas bio (digester biogas) berbahan serat kaca (fiberglass). Perangkat tersebut dilengkapi mesin pembubur sampah organik dengan kapasitas kerja mencapai 250 kg per jam.

Pengoperasian fasilitas komunal ini memberikan dampak lingkungan yang nyata, yakni mampu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 154,4 ton CO2e per tahun. Selain menghasilkan gas bio (biogas) sebagai pengganti elpiji (LPG) untuk kebutuhan memasak sehari-hari, sistem pengolahan ini menghasilkan pupuk organik cair sebanyak 400 hingga 450 liter per hari dan pupuk padat 50 hingga 100 kg per hari yang dapat dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam di perkotaan (urban farming).

Dukungan serupa disampaikan Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara Edy Mulyanto. Ia memuji sinergi antara Bank Jakarta, Pemprov DKI Jakarta, dan kementerian dalam mengurai persoalan sampah langsung dari sumber utamanya, terlebih Jakarta Utara telah ditetapkan sebagai wilayah proyek percontohan (pilot project) dalam peta jalan (road map) Pengelolaan Sampah di Indonesia.

“Di Rusunawa Rorotan ini ada empat tower dengan sekitar 300 hingga 400 KK. Dengan estimasi timbunan sampah rata-rata, fasilitas biodigester berkapasitas pengolahan hingga 1,2 ton per hari ini akan sangat optimal menyerap sampah organik dari sisa olahan dapur warga,” kata Edy.

Kehadiran sarana penampung olahan (offtaker) di tingkat lokal ini pun terbukti mengedukasi masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Kesadaran untuk memilah sampah dari hunian masing-masing kini tumbuh pesat.

“Melalui kolaborasi dan penyediaan fasilitas seperti biodigester ini, tingkat pemilahan sampah rumah tangga warga di lokasi percontohan berhasil meningkat drastis dari yang sebelumnya hanya 5 persen kini mencapai hampir 90 persen,” tutur Edy.

Langkah inovatif di Rusunawa Rorotan ini membuktikan bahwa dengan pengelolaan yang tepat, limbah rumah tangga tidak lagi menjadi beban lingkungan, melainkan sumber daya berharga yang memberi manfaat balik secara ekonomi dan sosial. Mari kita mulai memilah sampah dari dapur sendiri hari ini demi menciptakan lingkungan pemukiman yang lebih bersih, sehat, dan mandiri energi untuk masa depan bersama.(GDI)

Exit mobile version