WANITAINDONESIA.CO – Riuh tawa anak-anak langsung memecah keheningan sore di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Cakung Barat, Jakarta Timur. Di antara kerumunan bocah yang berlarian, hadir sesosok perempuan yang tak asing lagi bagi publik, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan. Kehadirannya hari itu bukan sekadar formalitas pejabat negara yang melakukan kunjungan kerja, melainkan mengemban misi untuk menangkap mimpi anak-anak yang tinggal di Rusunawa.
Melalui kegiatan Jelajah Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) yang digelar pada hari Jumat, Veronica turun langsung untuk berdialog dan mendengarkan keluh kesah mereka. Baginya, setiap kebijakan besar yang dirancang oleh pemerintah harus bermula dari bisikan jujur suara hati anak-anak. Langkah ini menjadi cerminan bahwa pembangunan yang inklusif (terbuka bagi semua kalangan) hanya bisa terwujud jika hak-hak kelompok terkecil pun terpenuhi dengan baik.
Dalam suasana santai dan penuh kehangatan, Veronica mengajak anak-anak yang hadir untuk mengobrol lepas mengenai aktivitas sehari-hari, cita-cita masa depan, hingga harapan yang ingin mereka sampaikan kepada negara.
Di sela-sela canda tawa tersebut, ia juga menyelipkan pesan berharga mengenai pentingnya sopan santun, seperti membiasakan diri berbicara lembut dan tidak menggunakan nada keras saat berkomunikasi dengan orang tua.
Dialog interaktif ini menjadi bukti nyata komitmen kementerian dalam merangkul aspirasi anak. Veronica menegaskan bahwa hari itu merupakan momen penting untuk mendengar langsung apa yang ada di benak anak-anak. Beliau menekankan bahwa tidak boleh ada satu pun anak yang tertinggal dalam proses pembangunan bangsa, karena setiap anak berhak menikmati hasil dari kemajuan negara secara merata.
Jelajah SAPA sendiri merupakan bagian dari rangkaian semarak peringatan Hari Anak Nasional yang ke-42 pada tahun 2026. Program ini dirancang sebagai ruang aman bagi anak untuk bersuara, sekaligus menjadi sarana evaluasi bagi pemerintah dalam meninjau kondisi nyata pelayanan perlindungan anak di lapangan.
Melalui program ini, koordinasi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah serta para pemangku kepentingan diharapkan dapat terjalin lebih erat demi masa depan generasi penerus yang lebih cerah.
Menutup pertemuannya yang hangat, Veronica mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menyukseskan Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak (Gernas RANA). Gerakan ini merupakan sinergi besar antara pemerintah, dunia usaha, media massa, hingga unit terkecil yaitu keluarga untuk menciptakan lingkungan yang ramah anak.
“Saya mengajak seluruh pihak untuk terus menghadirkan lingkungan yang bebas dari segala bentuk kekerasan, eksploitasi (pemanfaatan untuk keuntungan pribadi), diskriminasi (pembedaan perlakuan), maupun penelantaran. Mari kita pastikan setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, bermain, dan meraih cita-citanya. Perlindungan anak bukan tugas pemerintah semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat,” ujar Veronica.
Puncak perayaan Hari Anak Nasional pada tanggal 23 Juli mendatang rencananya akan digelar secara desentralisasi (penyerahan wewenang kepada daerah). Format baru ini dipilih agar perayaan tidak lagi terpusat di satu titik, melainkan menyebar agar bisa menjangkau dan menyapa anak-anak di seluruh pelosok Nusantara secara lebih dekat.
Sebuah bangsa yang besar dinilai dari bagaimana cara mereka memperlakukan anak-anaknya. Sudahkah kita meluangkan waktu sejenak hari ini untuk mendengar, memeluk, dan memastikan lingkungan di sekitar kita sudah cukup aman bagi tumbuh kembang mereka? (Gdi)

