Site icon Wanita Indonesia

Menakar Dinamika Pasar Modal dan Langkah Strategis Bank Indonesia Menjaga Stabilitas Rupiah

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti beserta jajaran dewan gubernur BI berfoto bersama dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Jakarta, Rabu (21/10/2026). Bank Indonesia.

WANITAINDONESIA.CO – Geliat pasar keuangan domestik kembali menguji ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global yang dinamis. Tekanan arus modal keluar (outflow) sempat membayangi pasar saham Tanah Air, menyusul pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia. Kondisi ini pun langsung tecermin pada pergerakan IHSG, di mana Indeks BEI hari ini dibuka melemah 5.328 menjadi 5.192. Namun, di balik fluktuasi yang terjadi, benteng moneter Indonesia dinilai masih berdiri kokoh berkat pengawalan ketat dan langkah antisipatif dari otoritas sentral.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan bahwa bank sentral terus sigap memantau setiap pergerakan dan riak di pasar modal domestik, termasuk dampak arus keluar dana asing akibat pengumuman MSCI tersebut.

“Kami terus mewaspadai apa yang terjadi di capital market (pasar modal) kita. Dan tentunya kami memonitor outflow (arus keluar) yang terjadi sepanjang pergerakan yang terjadi setelah pengumuman MSCI ini,” ujar Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.

Dinamika yang dipicu pengumuman MSCI tersebut memang sempat memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah pada Jumat (16/10) dan Senin (19/10). Berdasarkan data Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah sempat bertengger di level Rp18.052 per dolar AS pada Jumat (16/10) dan Rp18.050 per dolar AS pada Senin (19/10). Kendati demikian, hasil penilaian risko dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa tekanan tersebut masih berada dalam batas yang terukur dan normal, mengingat iklim finansial di tingkat regional juga berada dalam bayang-bayang ketidakpastian.

Sinergi dan evaluasi mendalam langsung ditempuh demi mengantisipasi gejolak lebih lanjut. “Dan sejauh ini dua hari kemarin memang kami duduk berdiskusi secara tight (ketat) sekali bagaimana kita menyikapi ini,” tutur Destry Damayanti.

Langkah sigap tersebut membuahkan hasil positif. Otot nilai tukar rupiah kembali menguat pada Selasa (20/10) ke posisi Rp18.006 per dolar AS dan berlanjut menguat ke level Rp17.986 per dolar AS pada Rabu (21/10). Untuk menjaga momentum pemulihan ini, Bank Indonesia menggulirkan kebijakan terarah (targeted) demi memikat kembali arus modal masuk (inflow) dari investor mancanegara.

“Jadi kita tahu outflow (arus keluar) memang terjadi. Artinya apa? Kalau outflow terjadi, kan kita harus berusaha untuk meng-attract inflow-nya (menarik arus masuk),” ujar Destry Damayanti menambahkan.

Sebagai wujud konkret, pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober ini, Bank Indonesia meningkatkan insentif biaya lindung nilai (hedging) melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) kepada BI untuk transaksi pendanaan luar negeri, termasuk transaksi portofolio masuk, pinjaman luar negeri oleh bank, hingga investasi langsung asing (foreign direct investment). Pengurangan premi kini makin diperbesar menjadi 40 persen untuk tenor 6 bulan dari semula 25 persen, serta menjadi 45 persen untuk tenor 12 bulan dari semula 30 persen. Selain itu, insentif untuk instrumen transaksi tukar guling (swap) beli lindung nilai konvensional serta Transaksi Mata Uang Lokal (Local Currency Transaction/LCT) dengan negara mitra tetap dilanjutkan.

Strategi yang dirintis sejak Juni 2026 ini terbukti ampuh. Terbukti, aliran modal asing yang masuk tercatat telah menembus angka 9,9 miliar dolar AS per 20 Oktober 2026. Penyesuaian harga aset domestik (repricing) akibat pemangkasan biaya tersebut diharapkan membuat selisih imbal hasil (spread) aset keuangan Indonesia makin atraktif dibanding aset luar negeri seperti Obligasi Pemerintah Amerika Serikat (US Treasury).

“Kita juga melihat dengan kenaikan 100 basis poin pada Mei—Juni 2026 juga sudah terjadi repricing (penyesuaian harga) dari beberapa di pasar keuangan kita,” ujar Destry Damayanti.

Di sisi kebijakan suku bunga, RDG Bank Indonesia pada 20-21 Oktober 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen dan suku bunga kemudahan pinjaman (lending facility) sebesar 6,50 persen, sembari menaikkan suku bunga simpanan (deposit facility) menjadi 5,00 persen.

Mengenai pemicu dinamika pasar, MSCI sebelumnya mengumumkan pembukaan masa konsultasi bersama pelaku pasar sejak Jumat (16/10) terkait usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market (pasar berkembang) menjadi Standalone Market (pasar mandiri). Keputusan akhir akan diumumkan paling lambat akhir Juni 2027.

Merespons hal itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak cepat meluncurkan dua inisiatif anyar demi meningkatkan transparansi dan integritas pasar, yakni penambahan keterangan afiliasi saham kepemilikan 1 persen serta mengeluarkan seluruh saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari perhitungan IHSG. Di saat yang sama, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menindak tegas pelanggaran dengan menjatuhkan sanksi dan denda administratif senilai Rp2,1 triliun kepada tiga emiten, yaitu PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

Dinamika dan penyesuaian di panggung keuangan nasional ini menjadi pengingat betapa pentingnya kecermatan dan fondasi yang solid dalam mengelola riak-riak pasar modal. Mari terus cermati perkembangan navigasi ekonomi negeri ini, sebab langkah strategis yang diambil hari ini akan menentukan ketangguhan investasi dan masa depan kesejahteraan finansial kita bersama. (gdi)

Exit mobile version