WANITAINDONESIA.CO – Suasana di Sasana Budaya Rumah Kita Dompet Dhuafa, Rabu (24/12), mendadak syahdu. Suara lantang Salwa Amalia Kaysan, siswi SMPN 24 Jakarta, bersahutan dengan kepolosan Muhammad Rifky dari SDN Ciganjur 04. Bait-bait puisi yang mereka bawakan bukan sekadar pertunjukan, melainkan pesan cinta bagi anak-anak di Sumatra yang kini tengah berjuang di tengah sisa-sisa bencana.
Puisi tersebut menjadi pengantar keberangkatan 31 personel Relawan Respon Darurat Pendidikan (RDP). Mereka dilepas oleh GREAT Edunesia Dompet Dhuafa untuk terjun langsung ke wilayah terdampak banjir dan longsor di Sumatra.
Memulihkan Psikosial, Bukan Sekadar Bangunan
Bencana alam memang merusak infrastruktur, namun yang sering terlupakan adalah luka dalam jiwa para penyintas. Dompet Dhuafa menyadari bahwa pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena gedung sekolah hancur.
M. Shirli Gumilang, Ketua RDP GREAT Edunesia Dompet Dhuafa, menegaskan bahwa para relawan yang dikirim tidak hanya membawa bantuan fisik, tetapi juga misi penguatan moral.
“Kehadiran mereka membawa pesan bahwa pendidikan dan pemulihan harus terus berjalan bagi anak-anak dan guru di masa darurat. Relawan tidak hanya diberangkatkan secara fisik, tetapi juga diperkokoh secara moral,” ujar Shirli dalam sela-sela acara pelepasan.
Tujuh Program Intervensi Utama
Bukan sekadar datang, tim RDP membawa “senjata” berupa tujuh program intervensi utama. Mulai dari pendirian Sekolah Darurat hingga distribusi perlengkapan sekolah. Salah satu yang menarik adalah program Sekolah Ceria dan penerapan Psychological First Aid (PFA).
Berikut adalah fokus utama tim RDP di lapangan:
- Pendirian Sekolah Darurat: Memastikan KBM tetap berjalan.
- Psychological First Aid (PFA): Memulihkan trauma anak-anak dan guru.
- Kelas Literasi Kreatif Kebencanaan: Edukasi mitigasi melalui cara yang menyenangkan.
- Layanan Vokasi & Renovasi: Perbaikan jangka menengah untuk fasilitas pendidikan.
Modul KLiK: Panduan Belajar di Tengah Krisis
Salah satu sorotan dalam seremoni ini adalah penyerahan Modul Ajar KLiK Kebencanaan. Modul ini dirancang khusus sebagai panduan praktis agar kegiatan belajar mengajar tetap adaptif meski dalam situasi krisis.
Haryo Mojopahit, Ketua Divisi Program Pendidikan, Budaya, dan Riset GREAT Edunesia Dompet Dhuafa, secara simbolis memakaikan jaket relawan kepada perwakilan tim. Baginya, transparansi dan kesiapan publikasi menjadi kunci utama dalam merespons darurat bencana secara efektif.
“Misi ini diharapkan menjadi langkah awal yang kuat untuk memulihkan denyut nadi pendidikan di wilayah terdampak. Langkah ini memastikan bahwa bencana tidak merenggut masa depan generasi penerus di Sumatra,” pungkas Haryo.
Melalui pelepasan 31 relawan ini, Dompet Dhuafa kembali menegaskan posisinya sebagai lembaga filantropi yang tidak hanya hadir saat bencana terjadi, tetapi juga mengawal masa depan anak bangsa hingga keadaan benar-benar pulih. (Adv)

