WANITAINDONESIA.CO — Laut Nusantara kembali memanggil para pelaku bisnis untuk bangkit menguasai pasar dunia. Semangat untuk membalikkan arus perdagangan global agar tidak lagi membanjiri pasar domestik melainkan merambah ke penjuru dunia menjadi jiwa utama dari peluncuran Trade Indonesia. Platform jejaring bisnis digital di bawah naungan International Creatives Exchange (ICE) ini resmi diluncurkan di She La Vie Grand Ballroom, Alam Sutera, Serpong, Tangerang, Banten, pada Selasa (13/10).
Langkah strategis tersebut dirancang untuk menghubungkan pengusaha nasional secara langsung dengan jaringan mitra, investor, serta pasar internasional secara efisien. Kehadiran platform ini menjadi jembatan modern yang memangkas berbagai proses berbelit-belit, sekaligus memfasilitasi kebutuhan akses pasar, informasi perdagangan, dan kolaborasi bisnis global.
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan (Wamen KKP) RI, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., yang hadir mewakili Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Ir. Sakti Wahyu Trenggono, M.M., IPU., memberikan apresiasi tinggi terhadap terobosan ini. Mengutip karya sastra legendaris Arus Balik, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memutar kembali kejayaan jalur perdagangan Nusantara melalui pemanfaatan potensi pangan biru (sektor kelautan dan perikanan).
“Ketika kita berpaling dari laut, arus perdagangan berbalik. Kini perdagangan bergerak dari utara ke selatan, dan kita dibanjiri produk. Sudah saatnya kita membalikkan itu kembali,” ujar Prof. Irwan.
Potensi ekonomi dari sektor kelautan dunia saat ini mencapai 184 miliar dolar AS. Indonesia menduduki posisi raksasa dunia, yakni peringkat kedua untuk perikanan tangkap dan peringkat ketiga untuk perikanan budidaya. Nilai ekspor perikanan nasional tahun lalu mampu menembus 6,27 miliar dolar AS dengan pertumbuhan 5,2 persen, yang merupakan rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Meskipun demikian, dari sisi nilai perdagangan secara keseluruhan, posisi Indonesia masih berada pada peringkat ke-10 dunia. Ketimpangan antara volume produksi yang besar dan nilai jual yang relatif rendah menjadi ruang potensi yang harus direbut melalui peningkatkan nilai tambah produk (added value) serta penerapan kebijakan ekonomi biru secara menyeluruh.
Pendiri dan Kepala Global International Creatives Exchange (ICE), Atta Ul Karim, menegaskan bahwa kehadiran Trade Indonesia bertujuan menciptakan konektivitas bisnis nyata yang berujung pada kolaborasi konkret.
“Trade Indonesia hadir untuk mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan mitra internasional secara langsung. Kami ingin membuka ruang agar mereka dapat saling mengenal, membangun kepercayaan, dan menjajaki peluang kerja sama tanpa proses yang berbelit-belit,” ungkap Atta.
Ekosistem Trade Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai direktori perusahaan biasa, melainkan dilengkapi dengan proses kurasi ketat terhadap legalitas dan rekam jejak badan usaha. Platform ini mengolah data anggota menjadi kecerdasan pasar (market intelligence) untuk mengarahkan target pasar secara presisi, serta menyiapkan agenda berkelanjutan di 12 sektor usaha mulai dari pencocokan bisnis (business matching) hingga misi dagang luar negeri.
Dukungan senada disampaikan oleh Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, B.A., M.Sc., yang mencatat bahwa ekspor Indonesia periode Januari hingga Agustus 2026 mencapai sekitar 193,64 miliar dolar AS atau tumbuh 4,74 persen secara tahunan. Indonesia juga disokong oleh 25 perjanjian perdagangan internasional serta fasilitas jaringan perwakilan perdagangan luar negeri seperti Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) dan platform digital InaExport.
“Saya sangat yakin bahwa produk lokal dapat menjadi merek global, dan usaha kecil pun dapat meraih kesuksesan internasional apabila diberikan kesempatan yang tepat,” tutur Dyah Roro.
Dari sisi aspek kepastian hukum, Wakil Menteri Hukum RI, Prof. Dr. Edward Omar Sharif Hiariej, S.H., M.Hum., menggarisbawahi bahwa perlindungan kekayaan intelektual seperti hak paten, merek, dan desain industri merupakan aset krusial untuk meningkatkan daya saing serta kepercayaan investor asing.
“Daya saing global membutuhkan kepastian hukum yang memberikan rasa aman bagi pelaku usaha. Regulasi harus diterapkan secara tidak diskriminatif,” tegas Prof. Omar.
Untuk memastikan kesiapan para pelaku bisnis lokal, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perdagangan (BPSDMP) Kementerian Perdagangan RI, Djatmiko Bris Witjaksono, S.E., M.S.I.E., menambahkan bahwa pembinaan berkelanjutan terus dijalankan melalui program fasilitasi (Export Pitching Program) selama delapan bulan guna melatih pelaku usaha dari tahap sadar ekspor hingga mampu mempertahankan pasar global secara konsisten.
“Perjalanan menjadi eksportir tidak berhenti pada keinginan untuk menjual produk ke luar negeri. Pelaku usaha perlu melalui proses dari sadar ekspor, siap ekspor, hingga benar-benar mampu menembus pasar global,” jelas Djatmiko.
Peluncuran Trade Indonesia turut didukung oleh berbagai pihak seperti Al Barkat Carpets, PT Sucofindo (Persero), Bin Cigar, PT Diamond Food Indonesia Tbk, serta Vega Hotel. Sinergi antara kebijakan pemerintah, perlindungan hukum, pembinaan kapasitas, serta jejaring bisnis digital ini diharapkan menjadi awal baru bagi produk-produk unggulan Nusantara untuk bertransformasi menjadi pemain utama di panggung ekonomi dunia.
Kini, pintu menuju pasar internasional telah terbuka lebar di hadapan kita. Saatnya seluruh pelaku usaha nasional mengambil peran aktif, berani melangkah, dan membuktikan bahwa inovasi serta kualitas karya anak bangsa siap menguasai perdagangan dunia. (Gdi)

