Lima Bintang PINTU Incubator

Gabungan 3 vibes romantic, minimalist, dan street wear "The Next Chapter" karya cantik dipersembahkan untuk pembaca Wanitaindonesia.co. Foto: Dokumentasi PINTU Incubator

WANITAINDONESIA.CO – PINTU Incubator bangun fondasi talenta mode.

Setelah melalui rangkaian kelas, mentoring, evakuasi serta kurasi, 5 peserta program PINTU Incubator sukses mempresentasikan karyanya di runway BRI JF3 Fashion Festival 2026. Ada dua brand, Saul Studio, dan Toja House serta tiga desainer muda berbakat Aldrie, Andrean NR, dan Dacia.

Kelima peserta menghadirkan pendekatan yang beragam, mulai dari eksplorasi konstruksi, dan tailoring, pengembangan aksesori bersama artisan, reinpretasi tekstil Nusantara, pendekatan genderless, praktik upcycling, hingga pengembangan produk yang menekankan craftsmanship, inklusivitas, dan tanggung jawab dalam proses produksi.

“PINTU” dibangun berdasarkan keyakinan, bahwa talenta memerlukan lebih dari sekedar kreativitas. Mereka butuh ruang untuk belajar memahami proses, memperluas sudut pandang serta menemukan arah yang paling relevan, bagi perkembangan karya brand mereka.”

Berikut 5 presentasi karya menarik para peserta program PINTU Incubator.

The Next Chapter didedikasikan untuk perayaan bagi perempuan yang terus bertumbuh. Foto: Dokumentasi PINTU Incubator

“The Next Chapter” Perayaan Bagi Perempuan

Koleksi menghadirkan perayaan akan keberadaan perempuan yang terus bertumbuh. Setiap fase dari sebuah kehidupan akan membentuk jati diri perempuan agar lebih kuat, tanpa melupakan perjalanan yang telah dilalui.

Ini adalah tentang keberanian melangkah menuju mimpi, yang lebih besar. Percayalah bahwa setiap akhir akan membawa sebuah awal baru.

Diibaratkan bahwa setiap perempuan seperti brand yang memiliki bab berikutnya untuk ditulis.

Heritage nomad modern comfort, look-nya Indonesia banget, tenun Palawa dari Mamasa, Sulawesi Barat menjadi karakter utama, paduan yang tepat kemeja putih, dan denim. Foto: Dokumentasi PINTU Incubator

“DVARA”, (Enam Penjaga Ambang Batas)

Brand rumah kerajinan kontemporer Indonesia berkarya di persimpangan, antara arsitektur, tekstil serta memori budaya.

DVARA (Sansekerta) diartikan pintu atau gerbang bisa juga disebut sebagai ambang. Ini bukanlah sebuah tempat, melainkan momen di antara tempat-tempat nafas yang tertahan, diantara satu keadaan, dan keadaan berikutnya.

Selama hampir satu dekade, Toja berkarya di ambang tersebut. Diantara kerajinan, dan arsitektur, diantara teknik leluhur, dan bentuk kontemporer. Diantara objek serta memori. DVARA merupakan kali pertama ambang tersebut diberi nama.

DVARA menampilkan enam koleksi di catwalk yang mewakili kekuatan, dan penjaga yang berbeda. Masing-masing mewakili ambang batas yang berbeda, yakni perlindungan, pergerakan, keterhubungan dengan bumi, dan transformasi.

Dipamerkan tanpa alas kaki. Tampilannya menentang koreografi spektakuler, yang biasanya ada di catwalk.

Ini bukanlah pertunjukan yang sekedar ditonton. Ini adalah lorong yang harus dilalui. Bersama-sama ke enam tampilan yang membentuk DVARA adalah sebuah gerbang simbolis, yang dibangun bukan dari kayu atau batu, melainkan dari benang.

Baca Juga :  Tiga Persona Desainer Muda ASEAN Visioner Hadirkan Haute Couture "Elysian Currents"
DVARA kreasi yang memadukan kerajinan, dan arsitektur, diantara teknik leluhur, dan bentuk kontemporer, diantara objek, dan memori. Foto: Dokumentasi PINTU Incubator

Setiap karya dibuat dengan tangan, rajutan permadani, tenun tablet, dalam tradisi Palawa dari Mamasa-Sulawesi Barat, dan jalinan kumihimo yang dikembangkan melalui kolaborasi erat, dengan para pengrajin Indonesia.

Siluet persegi panjang struktural, bentuk bahu memanjang, dan bentuk ember silinder menerjemahkan bahasa arsitektur ke dalam tekstil yang dapat dikenakan.

Kelembutan yang tertanam di dalam struktur, tanpa perangkat logam konvensional. Bahan-bahannya terdiri dari kapas, dan benang campuran tencel, serat alami, lapisan kulit domba yang diproduksi tertentu serta tali Palawa, tenunan tangan dari Mamasa.

Setiap produk identik dengan sebuah teknik, mata pencaharian, dan warisan. Toja tak memperluas skala produksi, namun memperluas skala metode, ingatan,mata pencaharian, dan DVARA adalah perwujudan filosofi tersebut dalam bentuk arsitektur.

Obyek yang dirancang sebagai pengalaman spasial, bukan sekedar aksesori. Tekstil, struktur, dan bahan dalam satu kesatuan.

Bukan sekedar permukaan budaya, motif Indonesia yang diperlakukan sebagai bahasa desain, yang hidup bukan sekedar ornamen.

Kain cual di bagian depan dapat dilepas -pasang, sehingga setiap busana dapat digunakan dengan berbagai cara, Origo S/S27 menghadirkan siluet modern berani, ekspresif, serbaguna, relevan untuk sehari-hari. Foto: Dokumentasi PINTU Incubator

“Origo S/S27” Eksplorasi Identitas Sebuah Tempat

Keunikan koleksi hadir lewat potongan oversized, memungkinkan busana dapat dikenakan oleh berbagai tipe tubuh serta mendorong konsep berbagi pakaian, diantara anggota keluarga maupun teman.

Memperkuat gagasan bahwa satu pakaian, dapat digunakan oleh lebih dari satu pengguna.

Label yang dimiliki desainer mode Indonesia, Daciadhia Phoebehana merupakan label busana ready-to-wear kontemporer. Mengeksplorasi storytelling lewat pendekatan streetwear modern.

Dacia dikenal dengan siluet tegas, detil fungsional serta desain yang inklusif gender. Dia menerjemahkan beragam inspirasi menjadi koleksi ekspresif, namun tetap nyaman serta mudah dikenakan.

Lulusan BINUS Northumbria School of Design ini merupakan pemenang, yang membawanya meraih beasiswa dari Istituto Marangoni, Milano.

Karyanya telah dipresentasikan di berbagai panggung mode nasional, dan internasional seperti Dubai Fashion Week, seiring dengan perkembangan Dacia yang memadukan kreativitas, fungsionalitas, dan desain kontemporer.

Terinspirasi oleh akar budaya Bangka milik Dacia beserta lanskap Pulau Bangka. Origo berasal dari bahasa latin yang berarti asal atau awal mula.

Origo mengeksplorasi identitas melalui keterkaitan dengan sebuah tempat. Koleksi mengambil dari garis pantai, granit, lanskap bernuansa bumi. Palet warna alami serta keindahan kerajinan kain cual.

Alih-alih merekonstruksi busana tradisional, koleksi justru menafsirkan ulang berbagai elemen tersebut melalui streetwear kontemporer.

Bahasa desain khas Dacia menghadirkan siluet modern yang berani, ekspresif, serbaguna, relevan untuk dikenakan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  Bintang Terang Asmirandah "Chloe Anak Cemerlang"

Koleksi terdiri dari 6 look, dengan karakter siluet oversized, tailoring yang santai, konstruksi modular serta detail fungsional.

Kain cual diintegrasikan sebagai elemen desain yang dapat dilepas-pasang, sehingga setiap busana dapat digunakan dalam berbagai cara, dengan menambahkan atau melepas elemen tersebut.

Tampilan edgy shirt dress oversize warna kaki terlihat kontras dari kain tenun cual, nyata kreatornya mumpuni memainkan proporsi atas besar, dengan bawahan mini transparan. Foto: Dokumentasi PINTU Incubator

Setiap pakaian dapat dengan mudah bertransformasi dari tampilan yang lebih formal, menjadi lebih kasual. Sekaligus memperpanjang usia pakai produk, melalui fleksibilitas penggunaannya.

Keberlanjutan merupakan keniscayaan, ini menjadi bagian dari filosofi desain Dacia sejak awal. Origo S/S27 mengusung nilai keberlanjutan melalui adapbilitas, daya pakai jangka panjang, dan inklusivitas.

Dengan menghadirkan pakaian yang dapat dikenakan dalam berbagai gaya serta beragam bentuk tubuh, koleksi ini mendorong konsumsi yang berkesadaran. Juga memperpanjang siklus hidup, alih-alih hanya mengikuti tren musiman.

Origo S/S27 menjadi tonggak penting bagi Dacia, karena merupakan koleksi pertama yang akan dipasarkan secara komersial. Koleksi dapat ditemukan di LAKON Store akhir tahun 2026, dengan lini busana ready-to-wear.

Melalui Origo S/S27 , Daciadhia Phoebehana terus mengeksplorasi bagaimana narasi personal, dapat diterjemahkan ke dalam mode kontemporer.

Koleksi merayakan identitas, mendorong ekspresi diri serta menunjukkan bahwa streetwear modern, dapat membawa cerita yang bermakna, tanpa kehilangan sifatnya yang mudah diakses, fungsional serta tak lekang oleh waktu.

Jaket dengan tampilan yang lebih pendek dengan statement bros kecoa merah, dengan siluet busana formal serta konstruksi, terinspirasi dari busana kerja bersiluet santai. Foto: Dokumentasi PINTU Incubator

“Roach Me, Roach Me Not”

Aldrie mumpuni, dalam menghadirkan perspektif baru busana pria modern.

Tampil di perhelatan BRI JF3 Fashion Festival 202 Aldrie menghadirkan koleksi terbaru “Roach Me, Roach Me Not”.

Sejak kecil desainer Aldrie sudah diajarkan agar tak jadi lelaki penakut. Kekuatan, kepercayaan diri, dan ketenangan telah lama menjadi ciri khas maskulinitas.

Bahkan mungkin seorang laki-laki secara naluriah akan ketakutan saat melihat kecoa.

“Roach Me, Roach Me Not” mengeksplorasi ironi ini, mempertanyakan ekspektasi yang dibebankan kepada laki-laki serta menantang gagasan, bahwa maskulinitas akan diukur dari keadaan rasa takut.

Alih-alih menggambarkan serangga tersebut secara harfiah, koleksi “Roach Me, Roach Me Not” menerjemahkan kehadirannya lewat cetakan layar, berbahan beludru, dan aksesori patung. Ini mengabstraksikan bentuk kecoa menjadi desain kontemporer.

Aksesori dibuat dari limbah plastik daur ulang, dan sisa kain. Aksesori ini mengubah bahan-bahan yang kerap dibuang menjadi bernilai. Memperkuat dialog antara persepsi, dan transformasi.

Busana pria konvensional dihadirkan dengan proporsi yang tak konvensional, detail patung tangan merah 3D glossy di bahu bukti kepercayaan diri, dan maskulinitas ditentukan oleh proporsi, dan sikap, bukan tradisi. Foto: Dokumentasi PINTU Incubator

Busana pria konvensional seperti jaket dengan tampilan sedikit lebih pendek. Pakaian luar yang dipersingkat, atau garis pinggang yang lebih tinggi serta potongan berukuran besar.

Baca Juga :  Kiprah dan Asa Bintang Berbakat UIC College Shal, Niall, Richelle

Proporsi yang tidak konvensional mendorong para pria untuk menerima siluet yang sering dianggap asing, sekaligus membuktikan bahwa kepercayaan diri, dan maskulinitas ditentukan oleh proporsi, dan sikap, bukan tradisi.

“Roach Me, Roach Me Not” didominasi warna hitam, dengan aksen merah tua lembut. Koleksi memadukan potongan yang tajam dengan konstruksi eksperimental, untuk menghadirkan perspektif baru dalam busana pria modern.

Pada akhirnya “Roach Me, Roach Me Not” bukanlah tentang kecoa. Buku ini bercerita tentang menghadapi rasa takut, mempertanyakan stereotip maskulin, dan menemukan kekuatan dalam keberanian, untuk menerima ketidaknyamanan, alih-alih menghindarinya.

Paduan denim premium, siluet busana formal serta konstruksi yang terinspirasi dari busana kerja bersiluet santai, wearable buat anak muda. Foto: Dokumentasi PINTU Incubator

Pesan “Di Tengah Perjalanan”

Koleksi “Di Tengah Perjalanan” hadir berkat buah pemikiran kreatif desainer Andrean Nur Ramadhan. Desainer kebanggaan masyarakat Yogyakarta ini dikenal lewat label miliknya, AndreanNR.

Andrean mengeksplorasi warisan budaya Indonesia dengan mode kontemporer, lewat desain genderless, teknik penjahitan modern serta pengaruh streetwear.

Label ini lekat dengan karya abadi, yang menafsirkan ulang tradisi untuk generasi sekarang, sekaligus mendorong apresiasi lebih dalam terhadap identitas budaya.

Dia mengajak fesyen enthusiast, merangkul setiap tahap perjalanan hidup, menghormati masa lalu sembari melangkah dengan percaya diri, menuju masa depan.

Koleksi menceritakan kisah tentang pertumbuhan, ketangguhan serta penemuan diri.
Terinspirasi oleh keyakinan bahwa setiap langkah akan membentuk jati diri kita.

Keahlian tradisional diekspresikan lewat detail halus, teknik pemotongan pola modern, hadir busana yang menjembatani warisan budaya, dan gaya hidup kontemporer. Foto: Dokumentasi PINTU Incubator

Koleksi menafsirkan ulang blankon (penutup kepala laki-laki Jawa, dalam tradisi busana adat) sebagai bahasa desain kontemporer. Menerjemahkan filosofinya ke dalam busana pria modern, yang relevan, nyaman dipakai, dan otentik.

“Di Tengah Perjalanan” hadir lewat enam tampilan busana pria. Memadukan denim premium, siluet busana formal serta kontruksi yang terinspirasi dari busana kerja, dengan siluet santai.

Keahlian tradisional diekspresikan lewat detail halus, teknik pemotongan pola modern, sehingga tercipta busana yang menjembatani warisan budaya, dan gaya hidup kontemporer.

Keberlanjutan menjadi bagian penting dari koleksi ini. Diwujudkan dengan pemilihan bahan, produk terbatas, dan prinsip-prinsip slow fesyen. Sehingga hadir karya yang tahan lama, tak identik dengan arus tren semusim.

Koleksi tersedia lewat pemesanan khusus, dan peluncuran pakaian siap pakai dalam jumlah terbatas. Produk merupakan hasil kolaborasi dengan pengrajin lokal serta mitra produksi. (*)