Site icon Wanita Indonesia

Lewat Lima Aksi Cepat, 2.649 Sekolah Bergerak Wujudkan Tobat Ekologis

Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat (tengah) memukul gong saat deklarasi gerakan bertajuk “Tobat Ekologis Menuju Sekolah Berbudaya Lingkungan” di Jakarta, Senin (12/10/2026). (Foto: Dok Kemen LH)

WANITAINDONESIA.CO — Pemerintah melalui tiga kementerian menggerakkan 2.649 sekolah di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota menyangkut gerakan bertajuk “Tobat Ekologis Menuju Sekolah Berbudaya Lingkungan”.

Gerakan yang diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) melalui sinergi dengan Kementerian Agama (Kemenag) serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini dideklarasikan secara resmi di Jakarta, Senin (12/10/2026),

Diketahui, lewat tobat ekologis, ribuan satuan pendidikan tersebut didorong mengubah kepedulian ekologis menjadi aksi nyata yang terukur selama 30 hari ke depan.

Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, menekankan, tobat ekologis tidak boleh berhenti sebatas deklarasi seremonial. Perubahan harus dimulai dengan kesadaran moral untuk mengakui kesalahan terhadap alam, menghentikan perilaku yang merusak, serta mengambil langkah pemulihan secara konsisten.
​
“Perubahan perilaku membutuhkan kesadaran moral, nilai agama, dan penegakan hukum. Kepedulian juga perlu didukung sistem yang memungkinkan masyarakat bertindak benar, termasuk sarana pengelolaan sampah dan tanggung jawab terhadap dampak lingkungan,” kata Jumhur.

​Dia menjelaskan, pada lingkungan sekolah, prinsip tersebut harus diterjemahkan langsung ke dalam kebiasaan sehari-hari agar kesadaran generasi muda tumbuh menjadi tindakan nyata yang terus dipelihara.

​Menanamkan Kepedulian dari Ruang Kelas

Sementara, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengangkat perspektif ekoteologi yang menempatkan hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam sebagai kesatuan utuh. Alam tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai objek eksploitasi, melainkan bagian dari kehidupan yang wajib dijaga bersama.
​
Adapun Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat menekankan, sekolah merupakan kawah candradimuka yang paling strategis untuk membentuk kebiasaan baik yang nantinya akan dibawa peserta didik ke tengah keluarga, masyarakat, hingga dunia kerja.

Pendidikan lingkungan perlu hadir secara nyata melalui proses pembelajaran, pembiasaan hidup bersih, serta perbaikan sarana prasarana sekolah.

​​Terungkap, selama 30 hari ke depan, ribuan sekolah peserta didorong untuk menjalankan aksi cepat (quick win) yang berfokus pada lima tahapan utama: Bercermin, Berhenti, Berbenah, Memulihkan, dan Membudayakan.
​
Pelaksanaan aksi tersebut mencakup perbaikan tata kelola kebersihan dan sanitasi, pengelolaan sampah, konservasi keanekaragaman hayati, konservasi air, hingga konservasi energi yang terangkum utuh dalam pilar Program Adiwiyata.

Setiap instansi pendidikan didorong menetapkan target terukur yang dipantau secara berkala melalui Sistem Informasi Adiwiyata (SIDIA).

Keberhasilan gerakan ini tidak lagi diukur dari seberapa besar komitmen tertulis, melainkan dari perubahan kebiasaan konkret serta perbaikan kualitas lingkungan di tapak.

Dari Sekolah untuk Keluarga dan Masyarakat

Memasuki babak baru dua dekade Program Adiwiyata, gerakan tobat ekologis ini diharapkan mampu menciptakan efek limpahan (multiplier effect) ke luar gerbang sekolah. Peserta didik diharapkan terbiasa membawa nilai-nilai pelestarian lingkungan ke dalam keluarga dan masyarakat luas, didukung oleh kolaborasi bersama pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan komunitas lokal.
​
Melalui sinergi lintas kementerian ini, KLH/BPLH optimistis budaya peduli lingkungan akan mengakar kuat dari ruang-ruang kelas Indonesia demi menjamin kelestarian alam bagi generasi kini dan masa depan. (Yud)

Exit mobile version