WANITAINDONESIA.CO — Tekanan untuk selalu mengikuti setiap tren atau Fear of Missing Out (FOMO) kini perlahan mulai ditinggalkan oleh generasi muda. Sebagian dari mereka mulai beralih memeluk Joy of Missing Out (JOMO), yakni sebuah kesadaran dan kebebasan untuk memilih menepi dari riuk rendah tuntutan sosial demi mengutamakan kebutuhan serta nilai personal.
Fenomena ini tidak hanya mengubah gaya hidup, tetapi juga menjadi angin segar yang membawa dorongan positif bagi cara pandang masyarakat dalam mengelola serta mengalokasikan keputusan finansial mereka secara jauh lebih bijaksana.
Pergeseran pola pikir ini dibuktikan melalui riset dalam jurnal Telematics and Informatics Reports yang memaknai JOMO sebagai bentuk kenikmatan saat seseorang mengambil jeda dari interaksi sosial. Riset tersebut diperkuat oleh pernyataan pakar komunikasi dari London, Riley Gardiner, dalam wawancaranya bersama Daily Mail.
Ia mengungkapkan bahwa Generasi Z mulai menyadari bahwa tidak hadir di setiap acara bukanlah sebuah kerugian, melainkan wujud kepuasan ketika mereka mampu mengambil jeda untuk diri sendiri. Perubahan perspektif ini menjadi sangat relevan ketika diterapkan dalam keputusan finansial, terutama di tengah maraknya gempuran tren investasi di berbagai media sosial.
Perspektif ini turut mendapat sorotan dari kalangan praktisi pasar modal. Direktur PT Insight Investments Management (PT IIM), Ria M. Warganda, menjelaskan bahwa fenomena JOMO dapat menjadi fondasi awal untuk membentuk kebiasaan finansial yang bijak.
Ia menegaskan bahwa JOMO menunjukkan perubahan cara generasi muda memandang tren karena mereka mulai merasa tidak harus selalu mengikuti apa yang sedang ramai untuk mendapatkan pengalaman atau merasa diterima. Dalam konteks keuangan, pola pikir ini mendorong seseorang menjadi jauh lebih selektif dalam menentukan arah alokasi dananya.
Lebih lanjut, Ria M. Warganda menguraikan bahwa kemudahan akses informasi dan platform digital kerap kali menjebak masyarakat untuk terburu-buru membeli instrumen yang sedang populer tanpa memahami risikonya.
Ia memaparkan bahwa prinsip JOMO sangat relevan dalam investasi karena tidak semua instrumen populer harus diikuti.
Masyarakat perlu memiliki kesadaran untuk berhenti sejenak, memahami karakteristik dan risiko, kemudian menilai apakah investasi tersebut sesuai dengan tujuan keuangan, sehingga keputusan tidak semata-mata didorong oleh tren atau kekhawatiran tertinggal dari orang lain.
Transisi dari FOMO menuju mindful investing atau kebiasaan mengambil keputusan investasi secara sadar dan tidak reaktif kini menjadi kunci utama. Keputusan yang hanya dilandasi oleh sentimen pasar atau informasi spekulatif yang belum terverifikasi berpotensi besar merugikan investor.
Dengan memberikan jeda, memahami profil risiko, jangka waktu, serta karakter produk, seseorang dapat membedakan mana peluang yang benar-benar relevan dan mana yang sekadar godaan tren sesaat.
Strategi mindful investing ini dapat diterapkan secara nyata saat menentukan pilihan reksa dana. Sebagai contoh, produk Reksa Dana Insight Money (I-Money) hadir menyasar investor dengan profil risiko konservatif serta jangka waktu pendek hingga menengah.
Berdasarkan lembar fakta reksa dana (Fund Fact Sheet) Insight per 31 Agustus 2026, I-Money mencatatkan kinerja dari awal tahun hingga saat ini (year to date) sebesar 3,29%, kinerja satu tahun sebesar 5,20%, lima tahun sebesar 30,76%, dan mencapai 94,71% sejak pertama kali diluncurkan.
Capaian ini melampaui tolok ukur (benchmark) Infovesta Money Market Fund Index pada periode yang sama yang mencatatkan angka masing-masing 2,65%, 4,20%, 21,72%, dan 59,78%.
Pada akhirnya, kesadaran penuh dalam mengelola dana akan menuntun siapa saja pada kebebasan finansial yang hakiki dan berkelanjutan.
Ria M. Warganda mengingatkan bahwa investasi seharusnya menjadi sebuah kebiasaan, bukan perlombaan, sehingga tidak masalah jika harus melewatkan suatu tren selama kita memahami tujuan dan risiko yang diambil.
Melalui kemudahan akses instrumen reksa dana secara digital seperti layanan Investasi IIM, melangkah secara tenang tanpa terburu-buru kini menjadi pilihan terbaik untuk merajut masa depan keuangan yang jauh lebih stabil dan menenangkan. (Gdi)

