Site icon Wanita Indonesia

Legacy Emas “Singa Hukum” Siborongborong Kamaruddin Hendra Simanjuntak SH, Misteri Nama Islam hingga Buku Agama Aksara Batak Toba

Kamaruddin Hendra Simanjuntak S.H., Singa Hukum Siborongborong role model lelaki Batak, dan Advokat Indonesia, hidup berdasarkan tuntunan agama, adab, kepedulian, dan perjuangan yang diajarkan kedua orang tuanya, salah satunya ibunda tercinta Fritles Pardede. (Foto: Tangkapan layar TikTok)

WANITAINDONESIA.CO – Hidup adalah perjalanan waktu, umur tentang batas untuk melangkah, dan legacy emas merupakan kenangan, spirit dari orang yang telah tiada.

Legacy emas dari pendahulu akan terlihat bermakna bila diteruskan oleh generasi berikutnya, sebagai penjaga nyala keadilan.

Senin,19 Oktober 2026, pengacara ternama Kamaruddin Hendra Simanjuntak S.H. wafat di Rumah Sakit Pelni, Jakarta Barat. Kamis, 22 Oktober 2026, jasadnya dikebumikan di kampung halaman, Siborongborong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Namanya identik dengan nama Islam, nun jauh di sana di tanah kelahirannya, sebuah pemakaman indah telah dipersiapkan oleh Kamaruddin. Awalnya ditujukan untuk ibundanya, Fritles Pardede. Tapi takdir berkata lain. Singa hukum lantang teriakan kebenaran, jujur tak takut intimidasi, dan ancaman ternyata mempersiapkan pemakamannya sendiri.

Inilah sekelumit kisah anak terang yang dihormati, dicintai, dan setelah berpulang dia telah meninggalkan jejak harum, legacy emas bagi anak-anaknya serta dunia peradilan di Indonesia.

Pria Batak pemberani, jujur, pahlawan bagi pencari keadilan yang datang dari kelompok papa itu, telah wafat karena deraan penyakit degeneratif.
Namun kepergiannya tak sia-sia, karena dia telah menuliskan namanya dengan tinta emas, dalam perjalanan panjang untuk dunia hukum Indonesia.

Kamaruddin telah meninggalkan legacy emas bagi masyarakat Indonesia, ihwal hukum yang tak selalu adil bagi kaum papa.
Masyarakat Indonesia serta dunia mengenal sosok Kamarudin lewat perjuangan nya membongkar kasus pembunuhan yang menggemparkan, atas korban Brigadir Yoshua oleh pelaku yakni atasannya sendiri Irjen Fredy Sambo.

Sebelum menjadi pengacara handal, sosok pria Batak ini adalah remaja gigih yang merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu, mewujudkan asa sebagai pengacara.
Layaknya perantau, Kamaruddin bukan orang kaya. Ia dihidupi oleh orang tunggal, ibunya telah lama menjanda sejak ditinggal mati oleh ayahnya.

Seperti pria muda Batak lainnya, Kamaruddin merantau untuk merubah nasib tanpa bekal uang yang memadai. Hanya untaian doa, dan selembar ulos Bintang Maratur yang sering dijadikan bekal oleh perantau Batak sebagai awal memulai hidup baru. Ulos bermotif khas seperti garis-garis teratur menyerupai barisan bintang di langit.

Filosofi ulos Bintang Maratur serupa doa agar kehidupan sang anak di perantauan kelak teratur, sukses, patuh pada hukum serta berlimpah rezeki, dan sukacita yang beriringan.

Setelah kepergiannya, banyak orang tua Tano Batak mengidamkan menantu seperti persona Kamaruddin Simanjuntak, semua daya pikat tipikal pria Batak sejati ada pada dirinya. (Foto: Tangkapan layar TikTok)

Hidup Prihatin & Sukses

Di Jakarta Kamaruddin harus hidup prihatin.
“Awalnya saya menumpang tinggal dengan kerabat yang peduli. Tapi tak disangka kondisi kerabatnya itu jauh dari kata sejahtera. Saya tak menyangka bahwa ruang kotak yang dipisahkan oleh tiga tirai kain itu adalah rumahnya.”

“Dia punya anak gadis, Kamarudin yang diajari adab sedari kecil oleh orang tuanya merasa rikuh, malu sendiri. Tak elok jika keluarga jauh menyusahkan, akhirnya saya putuskan untuk tinggal di bawah kolong jembatan di daerah Klender, Jakarta Timur. Saya benar-benar mengembel.

Di sini ia bertahan sembari bekerja serabutan agar dapat menghidupi diri. Uang hasil kerja yang tak seberapa itu harus saya tabung, buat melanjutkan kuliah di fakultas hukum. Saya hidup prihatin, makan seadanya yang penting kenyang.

Singkat cerita, Kamaruddin berhasil kuliah di Universitas Kristen Indonesia dengan mengambil jurusan hukum. Pria karismatik berotak cerdas ini berhasil menamatkan pendidikannya dengan predikat cum laude!.

Karirnya melesat manakala dia menangani sejumlah kasus hukum besar diantaranya kasus korupsi Wisma Atlet Hambalang, e-KTP.
Dan yang membuat masyarakat Indonesia terperangah lanjut memberikan support serta simpati ketika dia menjadi pengacara handal atas kasus kriminalisasi Brigadir Yoshua Hutabarat.

Kamaruddin gigih memaparkan bukti ihwal kejanggalan luka di tubuh Yoshua, mendesak otopsi ulang, melawan narasi pelecehan seksual yang digaungkan Putri Candrawathi, hingga akhirnya kebenaran yang dibawanya itu terungkap. Lima tersangka-pun telah ditetapkan yaitu Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Bharada Richard Eliezer, Brigadir Ricky Rizal, dan Kuat Ma’ruf.

Isteri Kamaruddin Simanjuntak, Joanita Meroline Wenji sedang melakukan ritual prosesi adat Batak Toba melepas kain ulos Tujung,
menjadi penanda berakhirnya masa berkabung. Pemberian minuman oleh anggota keluarga memiliki makna simbolis bentuk dukungan moril, dan penguat semangat. (Foto: Tangkapan layar TikTok)

Pengacara yang gemar menguri-uri budaya Batak lewat fesyen serta konsep hunian, sukses menjebloskan Fredy Sambo, dan isterinya Putri Chandrawathi ke dalam sel pengap.

Saat menangani kasus Fredy Sambo, pengacara yang taat menjalankan ajaran agama Kristen Katolik ini terlihat melakukannya dengan totalitas penuh. Dia bercerita tak dibayar, justru dia sendiri yang harus mengeluarkan uang dalam nominal yang cukup besar, untuk menanggung semua pengeluaran orang tua Alm. Yoshua selama berada di Jakarta.

Yang membuat banyak orang mengharu-biru, kesemua fasilitas untuk keluarga papa tersebut dipilihkan oleh Kamaruddin dengan fasilitas terbaik.

“Banyak yang bingung sembari bertanya ke saya, lho kok aneh sih sudah gratis malah Ito (sapaan untuk pria, dan wanita dalam masyarakat Batak yang memiliki keterikatan hubungan saudara, kerabat maupun untuk sesama orang Batak),
harus menanggung biaya hidup keluarga Alm. Yoshua selama proses pengadilan di Jakarta?, “ulang Kamaruddin dalam tayangan sebuah podcast.

Tanpa bermaksud menyombongkan diri, Kamaruddin berpendapat bahwa keadilan itu hak mutlak bagi warga negara, tak terkecuali dengan orang-orang yang tak punya.

“Awalnya mereka seperti putus harapan karena kondisi kemiskinan,selain sadar bahwa orang yang mereka hadapi itu adalah perwira berpengaruh. Tak mungkin untuk melakukan perlawana. Tahu sendiri kondisi peradilan di Indonesia yang kerap mencorengkan kotoran karena banyaknya mafia kasus.”

Garis keturunan terputus tapi tidak dengan perjuangan Kamaruddin Simanjuntak, Valencia Brightlady Victoria, putri kedua dari 5 anak perempuan Kamaruddin, digadang-gadang sebagai penerus jejak langkah sang ayah. (Foto: Tangkapan layar TikTok)

Hanya Takut Tuhan & Ibunda

Tapi Kamaruddin tak gentar, dan terus meyakinkan kedua orang tua Yoshua untuk berjuang bersama menuntut keadilan.

Bila mengingat sosok kriminal Fredy Sambo, dia merupakan salah satu petinggi di institusi Polri yang sangat ditakuti. Sambo tak bisa dipandang sebelah mata karena pada waktu itu dia menjabat sebagai Ketua Satgas Merah Putih, yang jaringannya tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Satgas Merah Putih beranggotakan polisi pilihan yang memiliki keahlian khusus. Mereka diberi wewenang khusus untuk melakukan penyelidikan, penyidikan terhadap sejumlah kasus besar seperti Korupsi, Narkoba serta Judi Online.

Prestasi lainnya yang patut dipujikan dari persona Kamaruddin, dia mampu mendorong pelaku yang juga korban Bharada Eliezer sebagai saksi meringankan. Mengingat pelaku sekaligus korban merupakan anak muda yang saat itu posisinya sangat tidak menguntungkan.

Menurut Kamaruddin berada dalam tekanan psikologis atasan yang sangat ditakuti, agar ia mau melakukan perbuatan kriminal untuk menghabisi Brigadir Yoshua dalam hitungan waktu yang sangat cepat, jelas posisinya pada saat itu menjadi tidak mudah.

Terlebih lagi dia harus berbohong mengikuti skenario yang telah direncanakan oleh atasannya Fredy Sambo.

Yang membuat masyarakat tercengang, sebelum benar-benar dinyatakan bersalah serta divonis hukuman, Kamaruddin di depan pekerja media berjanji akan mengasuh anak-anak Fredy, dan Putri Candrawathi.

Sebuah ending epik bagi Bharada Eliezer, dan keluarganya ketika Hakim menjatuhkan vonis satu tahun penjara dipotong masa tahanan. Karir polisi muda tersebut juga berhasil diselamatkan, berkat peran serta jasa pengacara mumpuni Kamaruddin Simanjuntak. Saat ini mantan brimob serta ajudan Fredy Sambo dimutasi ke Yanma Polri.

“Saya paham, kamu (Eliezer) adalah bawahan yang tidak punya kekuatan untuk menolak perintah atasanmu. Saya akan berjuang agar keluarga Brigadir Yoshua mau memaafkanmu lewat restorative justice, “ujar Kamaruddin.

Dari banyaknya perkara besar yang ditangani Singa Hukum Siborongborong seperti kasus korupsi Wisma Atlet Hambalang yang terimplikasi ke kasus korupsi e-KTP. Kemudian berlanjut di tahun 2016, menjadi pengacara Rachmawati Soekarnoputri yang berhadapan dengan Fadlan Muhammad.

Dan yang paling menghebohkan masyarakat Indonesia ketika ia menangani kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat. Ia lantang meneriakkan kebohongan Ferdy Sambo, dan isteri berserta gerombolannya

Karena sepak-terjangnya yang tak pernah gentar melawan penjahat serta mafia peradilan, nyawa serta keselamatan keluarganya kerap dipertaruhkan. Kamaruddin mengaku ia beserta keluarga kecilnya sempat lolos sebanyak tujuh kali dari percobaan pembunuhan.

“Isteri saya, Joanita Meroline Wenji beserta buah hati pernah mengalami peristiwa yang meninggalkan jejak traumatis. Mobil yang di dalamnya terdapat orang-orang yang dikasihnya itu, dibakar penjahat saat berada di dalam mobil.” Peristiwa kelam ini ditengarai terkait dengan kasus kliennya Rachmawati Soekarnoputri.

“Bersyukur akhirnya keluarga kecilnya itu berhasil diselamatkan, walau mobil mereka hangus terbakar, “kata Kamaruddin dalam banyak wawancara.

Ciutkah nyali mantan Ketua Umum Partai Demokrasi Republik Indonesia Sejahtera (PDRIS), partai politik yang didirikannya di tahun 2020
menghadapi tekanan tersebut? Dengan bijak dia berkata begini, “Saya percaya semua itu bisa terjadi menimpa saya maupun para pejuang keadilan. Berkat saya beriman kepada Tuhan, saya tidak pernah takut karena Tuhan telah berjanji akan melindungi orang-orang yang percaya.”

Nama Islam merupakan pemberian ayahnya, Median Simanjuntak, Kamaruddin Simanjuntak terkenal fanatik dengan ajaran agama, tak suka bergaya hedon takutnya hanya kepada Tuhan serta kedua orang tuanya, (Ki-ka) : Kamaruddin Simanjuntak bersama isteri tercinta Joanita Meroline Wenji. (Foto: Tangkapan layar TikTok)

Pernah Buta Karena…?

Pun saat dia coba disuap dengan uang senilai ratusan miliar di sebuah hotel, saya katakan kepada orang suruhan tersebut, “Saya tidak butuh uangmu, dikarenakan saya cukup dengan makan tiga kali sehari. Saya punya uang untuk makan serta tidak habis untuk ritual tersebut.”

“Artinya walau saya bukan orang kaya tapi saya tidak terlalu miskin. Saya punya iman, karenanya untuk apa saya punya uang banyak, yang didapat dengan cara-cara yang tidak terpuji.”

Tak hendak mempraktikkan gaya hidup hedon layaknya sejawat seprofesi, Kamaruddin merupakan sedikit dari pengacara cerdas, yang nyata-nyata membuktikan sumpah profesinya untuk tak memilah serta memilih klien.

Waktu menangani kasus Brigadir Yoshua ia berstatus pengacara pro bono (tidak dibayar) bahkan Kamaruddin ikhlas merogoh uangnya sendiri hingga ratusan juta.

Dia sadar masyarakat Indonesia telah terdogma ihwal penegakan hukum di Indonesia yang tidak selalu berpihak kepada orang-orang papa. Ini jelas bersebrangan dengan sumpah profesi.

“Jangan sampai orang miskin yang tak punya uang tak akan pernah memperoleh kepastian hukum juga keadilan, jangan, “ucapnya.

Tak banyak yang menyimak masa kecil anak Batak heroik ini. Kamaruddin kecil adalah anak pemberani, dia memiliki kulit putih dengan postur tubuh tegap, kerap dipanggil Brimob. Pasalnya dia berani, dan kerap menangkap pencuri yang menyatroni lahan pertanian orang tuanya.

“Kami memiliki lahan pertanian nan luas, mungkin pada masa itu banyak penduduk di sana, yang hidup dalam kondisi kekurangan, mereka mau melakukan apa saja untuk bertahan hidup.”

Perjalanan rohaninya terjadi ketika Kamaruddin baru lulus SMA. Dia sempat mengalami kebutaan. Kondisi kesehatannya tersebut dipengaruhi oleh demam tinggi.
Oleh dokter dia di diagnosis mengalami stres serta kemarahan tingkat tinggi. Ia mengaku marah kepada Tuhan, Pemerintah yang dianggap telah berlaku tak adil.

Lewat upaya mendekatkan diri kembali kepada Tuhan, kondisi matanya yang sempat tidak bisa melihat selama hitungan bulan itu berhasil dipulihkan.

Menyoal namanya yang identik dengan nama Islam, Kamaruddin pernah berkata bahwa nama pemberian ayahnya tersebut, ditengarai karena ayahnya telah berpindah keyakinan ke Islam.

“Ayah saya pernah merantau ke Nanggroe Aceh Darusallam.Selain saya, Dahlan, nama Abang, juga adik saya Nurhawati memakai nama -nama Islam.”

Duka kelima putri dari pasutri Kamaruddin Simanjuntak dengan Joanita Meroline Wenji, masyarakat banyak berharap legacy emas Singa Hukum Siborongborong terus menyala lewat kiprah anak-anaknya. (Foto: Tangkapan layar TikTok)

Garis Keturunan Terputus Namun Perjuangan Terus Berlanjut

Dalam keseharian sebagai pengacara ternama, Kamaruddin nyata sangat mencintai adat serta budaya Batak. Kesemuanya kerap diaplikasikqn pada sejumlah lini fesyen seperti jas, kemeja terbuat dari wasta ulos nan unik. Tempat tinggalnya di Jakarta serta rumah ibundanya di Siborongborong lekat dengan bangunan khas rumah adat Batak Toba.

Dikenal dengan nama Rumah Bolon, ikonik dengan model, hiasan khas seperti bentuk segitiga dengan hiasan bintang di bagian atas yang merupakan filosofi selalu terkoneksi ke Tuhan. Adapun bintang sebagai simbol terang serta harapan yang terus ada serta menyala.

Warna merah serta hitam, putih pada pagar merupakan warna kebesaran suku Batak, yang melambangkan keberanian, membela kebenaran.

Membina rumah tangga bersama perempuan asal Nusa Tenggara Timur, Joanita Meroline Wenji, Kamaruddin dikaruniai 5 orang anak perempuan yakni Alexandrya Josephine, Valencia Brightlady Victoria, Julietta Medalaine Rose, Angelique serta Laurencia.

Entah karena berharap dari kelima anaknya tersebut ada yang mau melanjutkan legacynya sebagai pejuang keadilan, karenanya sewaktu dia mendirikan firma hukum, nama firma diambil dari nama anak keduanya, “Victoria Law Firm”. Victoria saat ini masih menempuh pendidikan di Fakultas Hukum, Universitas Tarumanagara, Jakarta.

Sepeninggal Kamaruddin, nama marganya harus terhenti, dikarenakan tak satupun anak-anaknya tersebut dapat melanjutkan nama marga ayahnya.

Dalam adat Batak, anak perempuan tidak bisa menjadi penerus marga, karena paham patrilineal (garis keturunan ditarik dari pihak ayah). Yang berhak mewarisi marga adalah anak laki-laki.

Anak lelaki dianggap sebagai penerus generasi serta penjaga eksistensi marga orang tuanya.
Sedangkan anak perempuan akan masuk ke dalam marga suaminya, mengikuti keluarga, dan lingkaran adat suaminya.

Sebagai penganut Katolik fanatik, dalam setiap kesempatan wawancara serta bertemu orang banyak, dia kerap membagikan firman, ajaran-ajaran kebaikan yang diyakininya.

Dalam hidup Kamaruddin mengakui hanya takut akan dua hal, yakni murka Tuhan, dan murka ibundanya. Dalam satu kesempatan, Kamaruddin sempat bilang, “Siapa yang memperlakukan kedua orang tuanya dengan baik, rezekinya akan terus mengalir, hidupnya berlimpah kebahagiaan, dan panjang umur.”

Sebagai advokat mumpuni, persona Kamaruddin Simanjuntak memiliki jejak sebagai penulis lewat buah karyanya Aksara Batak Toba. Buku yang ditulisnya ini memuat ayat-ayat Al-kitab, doa serta lagu-lagu pujian
yang kesemuanya dia tuliskan dengan memakai aksara Batak Toba.

Lantas legacy emas apa yang diwariskan untuk juniornya? Sebelum wafat karena deraan penyakit, Singa Hukum Siborongborong mengingatkan para penegak hukum yakni harus takut kepada Tuhan.

Mulai dari pikiran, sikap serta tindakan yang kita lakukan harus berlandaskan keyakinan bahwa semua itu akan dilihat oleh Tuhan.

“Berkarir sebagai Advokat itu adalah pekerjaan yang sangat mulia. Anda merupakan orang pilihan Tuhan. Karenanya harus digawangi oleh orang-orang yang pintar, bila tidak terlalu pintar, minimal kalian memahami asas-asas hukum di Indonesia.”

“Advokat juga harus memiliki jiwa pemberani, jujur untuk selalu menyuarakan kebenaran sekecil apapun klien yang Anda bela serta sebesar apapun lawan klien Anda.”

“Yang terpenting Advokat harus pintar bergaul dengan semua lini masyarakat, karena jika tidak mau atau tak mampu bergaul, bagaimana Anda bisa mendapatkan klien?, “ucap Kamaruddin semasa dia hidup. (rp)

Exit mobile version