WANITAINDONESIA.CO — Langkah Indonesia menuju kemandirian energi tidak lagi sekadar urusan penyediaan pasokan gas, minyak, atau energi terbarukan di lapangan semata. Kunci utamanya berada pada ketangguhan sumber daya manusia yang siap menyelaraskan diri dengan pesatnya kebutuhan dunia industri. Menjawab tantangan besar tersebut, Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) mengambil peran aktif dengan mempertemukan unsur pemerintah, dunia usaha, dan para praktisi untuk merumuskan fondasi ketahanan energi nasional yang kokoh.
Dalam gelaran Sarasehan Vol. III yang bertepatan dengan momentum Dies Natalis ke-44 PNJ pada Kamis di Gedung Perpustakaan Lantai 3 Politeknik Negeri Jakarta mendadak riuh oleh gagasan-gagasan krusial. Mengusung fokus utama pembentukan ekosistem energi nasional, ajang ini menegaskan bahwa ketahanan energi harus didukung secara utuh oleh kesiapan teknologi, regulasi, inovasi, serta kompetensi tenaga kerja terampil.
Semangat berkolaborasi ini tebal terasa sejak awal pembukaan. Direktur Politeknik Negeri Jakarta, Syamsurizal, S.E., M.M., mengawali forum dengan menekankan betapa pentingnya ruang dialog bersama. Gayung pun bersambut ketika Dr. Eddy Soeparno, S.H., M.H., Wakil Ketua MPR RI, menyampaikan pembuka pidato (opening speech) yang menggugah kesadaran akan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Suasana kian khidmat saat penabuhan gong bergema, ditandai oleh kolaborasi pimpinan lembaga dan tokoh nasional, termasuk Mohammad Kemal yang hadir selaku Executive Advisor to Chairman of SKK Migas, serta Eko Putro Sandjojo, BSEE., M.B.A., Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Indonesia tahun 2016 – 2019 yang juga menjabat sebagai Komisaris Independen PT Gunanusa Eramandiri Tbk sekaligus Alumni PNJ Angkatan 83.
Gagasan strategis mengenai sektor energi primer dipaparkan melalui pidato kunci (keynote speech) dari Dr. Ir. Djoko Siswanto, M.B.A., Kepala SKK Migas. Karena beliau berhalangan hadir secara langsung akibat harus memimpin rapat bersama DPR RI, pesan berbobot tersebut diwakilkan dan disampaikan secara lugas oleh Mohammad Kemal.
Diskusi hangat pun bergulir ke sesi panel utama yang dipandu oleh moderator Nurin Swastiningrum. Sesi ini menghadirkan empat perspektif saling melengkapi dari para pakar dan regulator. Prof. Tirta N. Mursitama, Staf Ahli Menteri bidang Hubungan Kelembagaan ESDM, mengulas peta kebijakan dan koordinasi antarlembaga. Di sisi lain, potensi energi bersih ditelisik oleh Ali Sahid, Vice President PT Sorik Marapi Geothermal Power, yang membedah tantangan pengembangan energi panas bumi (geothermal).
Sektor energi gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) serta standar keselamatan kerja turut mendapat sorotan dari Henny Trisnadewi, S.H., M.H., M.B.A., C.C.P., Corporate Secretary PT Badak LNG. Sementara itu, keterkaitan daya saing ekonomi, investasi, serta posisi Indonesia dalam peta regional dibahas komprehensif oleh Alloysius Joko Purwanto, Senior Energy Economist ERIA.
Di tengah ragam ulasan teknis tersebut, benang merah yang paling mengemuka adalah pentingnya memperkuat keterhubungan dan kesesuaian (link and match) antara kurikulum pendidikan vokasi dengan dinamika kebutuhan lapangan. Para pemangku kepentingan sepakat bahwa keterlibatan industri tidak boleh setengah-setengah. Program magang dan kemitraan kerja (apprenticeship), sertifikasi kompetensi formal, hingga penelitian terapan (applied research) harus dirancang sistematis guna menyelesaikan persoalan nyata di sektor energi.
Daya tarik forum ini terletak pada keberaniannya melampaui wacana di atas kertas. Melalui kutipan penutup pidato (closing speech) yang membakar semangat dari Eko Putro Sandjojo, BSEE., M.B.A., seluruh peserta diajak untuk melangkah ke aksi nyata.
“Satu Sinergi, Sejuta Energi,” cetus Eko Putro Sandjojo, BSEE., M.B.A., merangkum komitmen bersama agar gagasan yang lahir tidak menguap begitu saja, melainkan menjelma menjadi aksi konkret demi kedaulatan energi bangsa.
Di tengah pusaran transisi energi global dan pesatnya pembaruan teknologi, ruang dialog yang diinisiasi oleh PNJ bersama Bicaraplus.id dan PT Produksi Anak Bangsa—serta didukung penuh oleh Bank Mandiri, ORKA, Sorik Marapi Geothermal, Badak LNG, EIGER Adventure, PGN MAS, GardaPAN, hingga jaringan media—menjadi bukti sahih bahwa kampus vokasi tidak lagi berdiri di pinggir jalan.
Kini, bola berada di tangan kita bersama. Akankah sinergi erat antara bangku kuliah dan megah rekayasa industri ini mampu membawa Indonesia menguasai panggung energi masa depan? Satu hal yang pasti: langkah pertama yang mantap telah diayunkan dari kampus vokasi. (Gdi)

