WANITAINDONESIA.CO – Tantangan terbesar bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) saat hendak mengepak sayap ke pasar internasional kerap kali bukan berasal dari kualitas produk, melainkan dari rumitnya tumpukan berkas kepabeanan. Kesalahan kecil dalam mendeskripsikan barang kiriman di lembar formulir dapat berujung pada penahanan barang di perbatasan hingga keterlambatan pengiriman yang merugikan bisnis. Menjawab persoalan klasik tersebut, inovasi teknologi terkini hadir membawa angin segar bagi efisiensi logistik lintas negara.
DHL Express resmi mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berbasis penglihatan komputer (computer vision) ke dalam alur pemesanan pengiriman internasional skala besar. Fitur perintis dalam industri pengiriman ekspres global ini memungkinkan pengirim barang menyusun deskripsi kepabeanan secara otomatis hanya melalui satu jepretan foto. Proses persiapan dokumen yang selama ini menyita waktu dan membutuhkan pemahaman regulasi tingkat tinggi kini dapat diselesaikan dalam hitungan detik.
Senior Technical Advisor DHL Express Indonesia Ahmad Mohamad menyampaikan bahwa pemenuhan persyaratan kepabeanan masih menjadi hambatan utama bagi pelaku usaha domestik yang berambisi menembus pasar global.
“Melalui fitur identifikasi barang berbasis AI ini, DHL Express membantu menyederhanakan proses persiapan pengiriman dengan memudahkan pelanggan dalam memberikan informasi barang yang akurat sejak awal. Selama ini, penyusunan deskripsi barang yang memenuhi persyaratan kepabeanan kerap membutuhkan pengetahuan khusus serta pemilihan kata yang tepat,” ujar Ahmad Mohamad.
Mekanisme kerja fitur ini dirancang sangat praktis bagi pengguna dari berbagai tingkat pengalaman. Pelanggan cukup mengambil foto barang yang akan dikirim menggunakan telepon pintar (smartphone) atau perangkat lain yang terhubung ke jaringan internet. Sistem kecerdasan buatan kemudian memproses gambar tersebut melalui model penglihatan komputer berbasis peladen (server) untuk menganalisis bentuk fisik objek, lalu menghasilkan deskripsi terstruktur yang sesuai dengan standar dokumentasi internasional serta ketentuan otoritas kepabeanan.
Hasil deskripsi otomatis tersebut akan ditampilkan kembali di layar perangkat untuk ditinjau, disesuaikan, atau disetujui oleh pengirim sebelum transaksi diajukan. Akses terhadap fitur ini juga dibuka luas tanpa mengharuskan pelanggan memiliki akun resmi DHL Express terlebih dahulu, sehingga memangkas birokrasi pemesanan sejak tahapan awal.
Langkah transformatif ini turut ditegaskan oleh Senior Director IT DHL Express Indonesia Yonata Bastian yang menilai bahwa industri logistik sudah terlalu lama mengandalkan pengisian data secara manual berbasis teks yang rentan terhadap kesalahan manusia (human error).
“Fitur ini memanfaatkan teknologi untuk menyederhanakan proses yang selama ini bergantung pada masukan manual dan pengalaman individu. Selama bertahun-tahun, industri layanan ekspres internasional mengandalkan pengirim untuk mendeklarasikan sendiri isi kiriman mereka, dengan panduan yang terbatas mengenai cara mendeskripsikan barang secara tepat untuk keperluan kepabeanan,” tutur Yonata Bastian.
Pemanfaatan kecerdasan buatan ini diproyeksikan mampu mendongkrak daya saing komoditas lokal di tengah momentum pertumbuhan ekonomi nasional yang diproyeksikan mencapai sekitar 5 persen pada 2026. Dengan terpangkasnya durasi pengurusan administrasi kepabeanan, para pengusaha dapat mengalihkan fokus dan energi mereka sepenuhnya untuk menjaga kualitas layanan serta memperluas jejaring pemasaran di mancanegara.
Inovasi yang telah diterapkan di lebih dari 30 negara dan pasar dunia ini menandai babak baru otomatisasi logistik global yang semakin ramah pengguna. Kemudahan yang ditawarkan teknologi ini menjadi bukti nyata bahwa batas-batas geografis dan kerumitan regulasi antarnegara bukan lagi halangan untuk membawa produk lokal bertengger di panggung perdagangan dunia. Kini, peluang menembus pasar global benar-benar berada di dalam genggaman tangan Anda.





