Site icon Wanita Indonesia

Kiat Lakon Indonesia Muliakan Pengrajin

Theresia Mareta, Founder Lakon Indonesia memperkenalkan Ahmad, salah satu pengrajin bordir terbaik, 8 Tahun berkarya memuliakan para pengrajin, Lakon Indonesia hadirkan koleksi terbaru "HARSA" Batik, dan Bordir lekat dengan seni kerajinan tingkat tinggi, modern kontemporer. Foto: Wanitaindonesia.co

WANITAINDONESIA.CO – Industri fesyen yang berkeadaban lekat dengan upaya untuk memuliakan para pengrajin.

Ada sepenggal cerita kelam pengrajin Indonesia saat Wanitaindonesia.co menyambangi industri batik Trusmi di Cirebon. Cerita miris ini terjadi puluhan tahun lalu.

Dahulu deretan butik-butik elok berhias ratusan motif batik Cirebon khas seperti Mega Mendung sesak dipenuhi oleh para pembeli.

Namun tak dijumpai para pengrajin batik yang melewatkan waktu dengan mempersiapkan proses pembuatan batik, lazimnya sentra batik tulis di Kampung Batik Giriloyo, Wukirsari, Imogiri-Bantul.

Kami tinggalkan sejenak kemeriahan butik-butik lokal tersebut untuk menyambangi para pengrajin batik Trusmi di sebuah perkampungan.

Bak bumi dan langit, rumah yang dialih fungsi sebagai tempat produksi batik terlihat sangat sederhana. Mereka membuat batik tulis serta batik cap di pelataran depan beralas tanah, beratapkan genteng.

Di samping terdapat tempat untuk menjemur hasil produksi, kain-kain batik berwarna cacthy, nan memesona. Saat kami berbincang muncul keluhan ihwal kehidupan mereka yang tak seglamour para pemilik butik pada waktu itu.

Pesanan datang dalam jumlah besar dengan beragam motif, tapi hasil produksi batik cantik itu dihargai sangat murah. Harga jual ditentukan sepihak para tengkulak. Mereka membeli lewat sistem borongan. Susah disebut nilai rupiahnya, karena sangat tak manusiawi.

Saat Wanitaindonesia.co melihat langsung tangan-tangan tua para pengrajin tersebut, ketika sedang melukis motif dengan canting cap atau membuat batik tulis dengan memakai lilin cair, mewarnai hingga proses perebusan, nyata mereka berkerja dengan hati, sangat profesional.

Tangan, dan mata merupakan indera yang harus dijaga agar tak mudah lelah, dikarenakan usia renta. Alih-alih dikejar tenggat produksi, kedua indera penting tersebut walau sudah lelah tetap dipaksa harus bekerja.

Kepada Wanitaindonesia.co mereka berkeluh kesah ihwal permodalan yang kurang disuport Pemerintah. Agar proses produksi terus berjalan, pengrajin harus meminjam dari para tengkulak dengan bunga tinggi. Hasil produksi dijual kepada para pengepul yakni pemilik butik dengan harga yang sangat murah.

Kian miris dengan persaingan antar sesama pengrajin, di kampung yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pembatik tersebut.

Pengrajin batik cap bermodal minim harus bersabar untuk membuat motif baru, dikarenakan harus menjual canting cap lama, agar dapat membeli yang baru. Didasari oleh rasa iba serta apreasiasi kepada pengrajin marginal tersebut, sebuah canting cap berdesain kupu-kupu dengan aksen parang Wanitaindonesia.co beli. Terlihat kecil, ringkih, mudah penyok karena terbuat dari material kaleng yang murah.

Sebagian besar para pengrajin di Indonesia didominasi oleh kaum wanita. Dianggap lebih mampu bertahan, unggul, tangguh serta mampu membaca zaman untuk terus maju, dan berinovasi.

Kekinian terutama setelah mereka mengenal, dan menjadi bagian dari ekosistem Lakon Indonesia, yakni fashion house yang mengangkat seni karya tangan Indonesia asa itu nyata.

Irsan, (kanan) Creative Director sedang memperlihatkan karya terbaru “HARSA”, Desainer asa bangsa ini turut andil dalam memperkuat karakter Lakon Indonesia dalam membentuk bahasa desain yang terus berkembang tanpa kehilangan jati diri. Foto: Wanitaindonesia.co

Perayaan Kebahagiaan Dalam Berkarya

Apreasiasi bagi para pengrajin menjadi DNA utama Lakon Indonesia, yang melihat berkat upaya para pengrajin yang telah mendedikasikan nafas hidupnya dalam sebuah legacy yang tak ternilai, kerajinan Indonesia yang memiliki potensi luar biasa tersebut tetap hidup hingga sekarang.

Theresia Mareta, Founder Lakon Indonesia menyambut sahabat media di Summarecon Discovery di La Piazza, Kelapa Gading Mall. Ini merupakan fasilitas terbaru dari Summarecon yang merupakan ruang eksibisi publik, dan museum interaktif yang menampilkan perjalanan panjang 50 Tahun Summarecon. Di sini pengunjung akan diajak untuk mengenal beragam zona imersif edukatif.

8 Tahun perjalanan Lakon Indonesia dimaknai dengan beragam asa, spesial hadir lewat koleksi terbaru “HARSA” yang akan menjadi gong di penutupan JF3 Fashion Festival 2026.

Spirit perubahan lekat dari sebuah perjalanan panjang akan ekosistem yang diinisiasi oleh Theresia Mareta. Harsa menjadi penanda bagi lintasan emas perjalanan kreatif Lakon Indonesia, yang terus berkomitmen membumikan kerajinan tangan Indonesia untuk terus berkembang dengan desain modern serta relevan.

Tentu saja Harsa tak serta-merta hadir menyambangi. ekosistem fesyen Indonesia tanpa ada peran para pengrajin. Pengrajin menjadi elemen utama ihwal keberlanjutan ekosistem tersebut.

Ditemui Wanitaindonesia.co di acara Media Preview Lakon Indonesia, Theresia Mareta, Founder Lakon Indonesia menyampaikan, “Perjalanan kreatif Lakon Indonesia identik dengan sinergitas apik antara fashion house yang mengangkat karya tangan Indonesia melalui pendekatan desain yang modern, relevan serta berkelanjutan.
Lewat kecekatan serta kelembutan jari-jemari para pengrajin batik, tenun, bordir serta berbagai teknik tradisional lainnya, tampilan kerajinan tangan Indonesia akan terus bertransformasi menjadi karya yang sangat relevan dengan perkembangan zaman.”

“Lakon Indonesia hadir untuk membangun kepercayaan yang didedikasikan buat pengrajin berbasis keahlian tangan. Setelah sukses, kemudian pasar mengapreasi, ekosistem pengrajin mulai berkembang karena karya mereka dihargai. Kekinian upaya kami jadi semakin lebih mudah, beragam terobosan-pun dilakukan seperti melakukan banyak eksperimen bersama pengerajin. Salah satunya yang dapat ditemukan di koleksi terbaru kami “Harsa”.

Di momen epik 8 Tahun Lakon Indonesia, Thres juga memperkenalkan salah satu pengrajin terbaiknya, Ahmad. Lewat tangan cekatan Ahmad yang berprofesi sebagai pembordir, aneka bordir dengan keterampilan tangan tinggi, tampil memesona pada detail yang modern kontemporer.

Mengenang perjalanan epik Lakon Indonesia, banyak sudah kesulitan yang berhasil disingkirkan melalui kebersamaan.

Thres mengungkapkan, “Dirinya jadi teringat ketika berada di awal saat membangun Lakon. Ia harus pergi mengunjungi sentra-sentra industri wastra Indonesia. Bersama tim, dirinya harus berkeliling mencari pengrajin, yang hendak diajak untuk bekerja sama. “Sebagai pengajar, saya akan menilai mentalitas mereka. Bagi saya aspek ini merupakan hal yang krusial.”

“Mereka tangguh apa tidak. Waktu pandemi, banyak yang bilang UMKM terdampak, tak lagi produktif, susah untuk melanjutkan hidup. Tapi fakta di lapangan yang saya lihat serta amati, yang mengalami masa sulit tersebut adalah pribadi yang kurang mampu beradaptasi, tak memiliki daya juang serta hanya bisa menunggu sembari mengeluh, “ucapnya.

“Namun bagi pengrajin yang mendedikasikan jalan hidupnya untuk mendukung agar seni budaya Indonesia keberlanjutan, mereka inilah yang terlihat tetap produktif. Tetap bekerja serta menghasilkan karya yang memukau, “ungkap Thres.

Lewat energi kreatif Theresia Mareta, Lakon Indonesia percaya, masa depan fesyen Indonesia dibangun lewat penghargaan terhadap craftsmanship, inovasi, kolaborasi. Foto: Wanitaindonesia.co

Penghormatan Untuk Pengrajin Indonesia

“Ekosistem Lakon yang saya dirikan sebagai bentuk kepedulian saya sebagai anak bangsa.
Waktu itu saya melihat, mengamati ada masalah tak terselesaikan di sistem.” Menurut Advisor JF3, hal ini harus segera diperbaiki, namun demikian dirinya mengaku tak bisa bergerak lebih jauh, dikarenakan ranahnya terbilang sangat luas. Sebagai tanggung jawab personal yang disupot oleh JF3, Thres hanya bisa berbuat dalam skala kecil.

Utamanya ekosistem bisa hidup, produktif sementara pengrajin juga bisa mendapatkan penghasilan yang layak. Lakon Indonesia menjadi rumah bagi para pengrajin untuk mendapatkan penghasilan tetap, dan memadai.

“Percayalah ketika pengrajin karyanya diapresiasi dengan baik, mereka secara otomatis memiliki pride. Pride inilah yang kemudian akan merubah mindset.”

“Lewat mindset yang baik, selain pengrajin, generasi berikutnya yakni anak keturunan mereka tentunya akan termotivasi untuk lebur menjadi kreator. Ini merupakan upaya penting untuk mendukung keberlanjutan industri.”

“Saat ini terdapat lebih kurang 200 pengrajin yang dinaungi Lakon Indonesia. Mereka tersebar di berbagai wilayah penghasil Wastra ternama di Indonesia.
Salah satunya berasal dari Kota Cirebon, “terang Thres.

“Seorang ibu merasa bersyukur bergabung di ekosistem Lakon Indonesia. Beliau, wanita hebat itu kemudian mengajak- orang-orang di sekitarnya seperti ipar serta ibu mertua untuk ikut bergabung memproduksi kriya batik.”

“Berkat promosi si ibu tersebut, ekosistem pengrajin Lakon Indonesia di Cirebon kemudiant berkembang, kini sudah mencapai 60 orang pengrajin. Bagi saya ini merupakan pencapaian, walau masih dalam skala kecil, dikarenakan kami tak mampu untuk menggerakkan pengrajin dalam jumlah besar.”

Thres menceritakan dari lidah pengrajin hebat tersebut, muncul asa untuk menabung peghasilannya agar dapat membeli tanah. “Motivasi ini tentunya akan semakin melecut semangat ibu tersebut untuk terus berkarya. Di samping itu saya melihat, ada bentuk dukungan mereka terhadap keberlanjutan ekosistem fesyen Indonesia, yang dikenal ikonik lewat kerajinan tangannya yang memikat.”

“Sebelum bergabung di ekosistem pengrajin Lakon Indonesia, ibu tersebut kerap pesimis dikarenakan minimnya order serta harga produk yang dibeli terlalu rendah. Penyebabnya motif batik yang itu-itu saja, miskin inovasi serta tak tahu harus dipasarkan ke mana, dan dapat dijual dengan harga yang wajar.”

Namun tidaklah demikian setelah mereka mengenal Lakon Indonesia. “Kami hadir dengan berkomitmen penuh ihwal kepercayaan dari para pengrajin.”

“Bagi saya seorang pengrajin harus memiliki DNA Lakon Indonesia.
Mereka harus memiliki mindset yang baik, terbuka. Selalu ingin tahu, mau belajar, gigih untuk maju, mau bekerja sama serta bereksperimen tentang hal-hal baru. Utamanya tekun, dikarenakan tiap pengerjaan memiliki tingkat kesulitan yang berbeda.”

“Walau memiliki banyak cluster serta dikerjakan di tempat yang berbeda-beda, hasil karya para pengrajin kesemuanya menyesuaikan dengan standar yang telah ditentukan Lakon Indonesia. Sebelum diterima, tim kurasi Lakon Indonesia telah melihat serta meneliti kualitas karya para pengrajin tersebut, “ujar Thres.

Harsa atau kebahagiaan merupakan keberlanjutan dari koleksi terbaik Lakon Indonesia sebelumnya yakni Urub, dan Pasar Malam yang telah dipresentasikan dengan apik oleh talenta-talenta berbakat.

“Melalui HARSA, Lakon Indonesia menegaskan keyakinannya, bahwa masa depan karya tangan Indonesia dibangun lewat proses yang dijalani dengan sepenuh hati. Hadir desain modern, relevan yang mengakar kuat pada nilai craftsmanship, “tutup Thres. (*)

Exit mobile version